
Jam 11 malam Anton kini pulang ke apartemen nya, ia berjalan gontai dengan pikiran yang berkecamuk, pikirannya dipenuhi oleh Gracia. Pria itu mabuk berat, ia ingin menghilangkan rasa sakit hatinya pada Gracia dengan cara pergi ke club malam.
Meskipun ia mencoba untuk ikhlas. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa ia sangat sulit untuk melepaskan orang yang dicintainya itu, hingga ia memilih untuk pergi ke tempat tersebut, agar ia bisa melupakan segalanya walaupun hanya sesaat.
Sesampainya di mansion, ia melihat seseorang yang sedang berdiri di ambang pintu apartemennya yang tertutup, lalu ia melangkah mendekati gadis itu dan tersenyum melihatnya.
"Kau di sini sayang?" tanya Anton. Ia melangkah mendekati wanita itu sambil tersenyum lemah.
Gadis itu berbinar karena Anton memanggil gadis itu dengan panggilan yang terdengar sangat manis, Anton membawa gadis itu masuk ke kamarnya lalu mengunci pintu kamar tersebut.
"Aku sangat merindukanmu!" ucap Anton lunglai.
Gadis itu membaringkan Anton ke tempat tidurnya. Lalu menyelimuti pria itu setelah membuka sepatunya. Ia beranjak hendak pergi dari kamar tersebut. Namun, tangan gadis itu ditarik oleh Anton hingga tubuhnya menimpa pria itu dan Anton pun membalik badannya hingga ia yang berada di atas tubuh wanita tersebut.
"Aku merindukanmu, sangat merindukanmu!" ucap Anton lagi.
Wanita itu terkejut karena setelah itu, Anton membungkam bibir gadis itu dengan ciuman. Anton menyesapnya perlahan membuat gadis itu terbuai dengan perlakuan manis Anton.
Gadis itu ingin menolak dengan apa yang dilakukan Anton. Namun, hatinya tak sesuai dengan keinginan hingga mereka terbuai dengan nikmat dunia yang tidak pernah mereka nikmati sebelumnya.
(Maaf Othor skip🙈 karena tidak mau melakukan pelanggaran🤭)
"Terima kasih Gracia! Salju pembeku hatiku," ucap Anton.
Deg.
Seketika air mata gadis itu menerobos tanpa bisa dihalangi, ia menyesal! Menyesal karena telah memberikan sesuatu yang berharga dari dirinya, sesuatu yang harus dijaga dengan segenap jiwa dan raganya. Ia telah memberikan semuanya pada orang yang sangat ia cintai. Walaupun orang yang ia cintai itu tidak pernah meliriknya sama sekali.
Hati gadis itu hancur, ia mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai. Ia lupa, lupa bahwa orang yang dicintainya itu memang tak pernah memandangnya, hingga ia menyerahkan segalanya karena ucapan manis pria itu yang ternyata bukanlah untuk dirinya.
Gadis itu melangkah keluar dari apartemen Anton dan air matanya pun mengiringi langkah gadis itu.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Pagi harinya Anton menggeliat, ia terkejut saat bangun karena melihat dirinya polos tanpa sehelai benang pun.
Anton beranjak dari tempat tidur itu, ia syok saat melihat bercak darah yang menempel di tempat tidurnya. Ia mencoba mengingat siapa yang sedang bersamanya se malam. Namun, hasilnya nihil! Ia sama sekali tidak mengingat siapa yang ia tiduri.
Anton hanya mengingat se kelebat bayangan gadis itu. Namun, yang ada dalam pikirannya hanyalah Gracia. Tetapi, ia sadar bahwa tunangannya itu tidak mungkin datang malam-malam apalagi wanita itu sedang sakit dan masih sangat lemah.
"Siapa dia?"
Arggghhhh...
Anton berteriak, pria itu membuat kamarnya seperti kapal pecah ia membanting apapun yang ada dalam kamar itu.
Pria itu pergi ke kamar mandi, lalu menghidupkan shower dan menyiram tubuhnya dengan hati tak menentu.
"Maafkan aku Salju, aku tidak sengaja menghianatimu!" Anton duduk dibawah guyuran air shower dengan mendongakkan kepalanya untuk menghilangkan beban pikirannya itu.
Ia tidak tau dengan siapa ia menghabiskan malamnya, tetapi ia tau bahwa gadis yang ditidurinya adalah pertama kalinya melakukan hubungan terlarang itu karena terlihat sangat jelas bercak darah di tempat tidur Anton.
......❤️❤️❤️❤️❤️......
"Selamat pagi Mommy," ucap David tersenyum. Bocah kecil itu duduk di samping tempat tidur Gracia.
"Pagi sayang!" Gracia tersenyum.
"Maafin David Mom!" bocah kecil itu menundukkan kepala karena merasa bersalah pada orang yang melahirkankannya itu.
"David nggak perlu minta maaf, mommy yang salah karena tidak bisa memenuhi keinginan David!" Gracia duduk lalu mengusap kepala David lembut.
Wanita itu mengambil bubur yang di bawa David, ia memakannya dengan perasaan yang lega karena melihat putra kesayangannya sudah tidak marah lagi padanya.
"Terima kasih sayang! David sudah sarapan?" tanya Gracia tersenyum lembut.
"Sudah Mom! David sarapan sama grandma dan grandpa." David menatap mommynya sendu.
"Mom, jika kebahagiaan mommy memang sama om Anton, maka David akan mencoba untuk menerimanya." David menatap Gracia datar tidak ada raut wajah bahagia maupun kesedihan di matanya.
"Terima kasih sayang! Kau sudah mau mengerti keadaan mommy," ucap Gracia. wanita itu memeluk David dengan air mata yang berderai, entah ia harus bahagia atau bagaimana? Yang pasti ia tetap tidak merasa ada kelegaan dalam hatinya. Ia masih tetap sama, bimbang entah kemana hatinya akan di bawa.
"Apakah Mommy sekarang bahagia?" tanya David. Setelah Gracia melepaskan pelukannya.
"Tentu saja!" bohong Gracia.
"Jika mommy bahagia, maka itu adalah kebaikan untuk kita." David tersenyum sendu menatap mommynya.
"Maksud David apa sayang?" tanya Gracia.
"David tidak punya maksud apapun! David hanya mengingat ucapan daddy bahwa apapun keinginan Mommy, itu adalah kebaikan untuk kita!" ucap David.
Deg.
Gracia tersenyum getir mendengar ucapan putranya itu. Ia ingin bersama dengan keluarga kecilnya. Namun, keadaan seakan melarangnya.
"Maafin mommy sayang," ucap Gracia tersenyum sendu.
"Mommy nggak perlu minta maaf! David akan bahagia jika melihat mommy bahagia, David nggak mau lihat mommy sedih apalagi sakit lagi. Cepatlah sembuh Mom!" David memeluk Gracia erat.
Sedangkan Gracia semakin terpukul mendengar ucapan David, ia tau bahwa putranya itu masih belum bisa menerima Keputusannya. Namun, Gracia penasaran dengan apa yang diucapkan Brian pada putranya hingga ia bisa menuruti keinginannya meskipun terpaksa.
Maafkan aku Mas! Sejujurnya aku masih sangat mencintaimu. Namun, keadaan seakan melarang kita untuk bersatu. Aku tidak bisa mengingkari janjiku meskipun aku sangat ingin. Aku tidak mau bahagia di atas penderitaannya.
Gracia membatin. Ia berharap keputusannya itu tidak pernah salah karena ia tidak mau gagal menjalani rumah tangga untuk yang kedua kalinya. Ia tidak pernah menyesali pernikahannya dengan Brian karena darinya ia mendapatkan malaikat kecil yang menjadi obat dari segalanya.
"Mom, David keluar dulu! Mommy istirahatlah yang cukup agar bisa pulih kembali!" ucap bocah berumur 6 tahun itu.
"Silahkan sayang! Jangan main jauh-jauh!" ucap Gracia.
"Aku hanya akan ke kamar Mom, Mommy nggak perlu khawatir!" David tersenyum. Lalu ia melangkah meninggalkan kamar Gracia.
Sedangkan Gracia menatap langkah David sendu. Ia tidak bisa menjabarkan perasaannya bagaimana? Ia hanya berharap dilema yang ada pada dirinya akan segera berakhir.
...💋💋💋💋💋...
...TBC...