
"Tuan, Anda sudah ditunggu klien di ruang meeting," ucap Leo.
"Baiklah, aku segera kesana, bawa berkas-berkas ini ke ruang rapat?" perintah Anton.
Pria itu melangkah mendahului Leo. Ia menuju ruang meeting dengan gaya angkuh dan dinginnya.
Sesampainya di ruang meeting, pria itu melangkah dengan malas karena ia melihat Maudy di antara para klien yang ada di ruangan tersebut.
Anton melewati Maudy, seakan-akan ia tidak melihatnya. Anton duduk di kursi kebesarannya, lalu memulai rapat dengan wajah seriusnya. Sedangkan Maudy menatap Anton terkagum-kagum saat mendengarkan penjelasan Anton.
..."Ternyata kau lebih keren dan berwibawa ketika menjadi CEO dibandingkan menjadi seorang Dokter. Kenapa coba bukan dari dulu aku mengejarmu?" Maudy membatin....
Wanita itu melamun dengan pemikirannya sendiri, ia memandang Anton Sambil tersenyum penuh damba.
"Apa ada yang ingin kalian tanyakan?" tanya Anton setelah menyelesaikan rapatnya.
"Tidak ada Tuan," jawab klien yang ada di ruangan itu secara bersamaan.
"Baiklah kalau begitu rapat saya tutup," ucap Anton.
"Terima kasih Tuan," ucap para Klien. Mereka bergantian menjabat tangan Anton.
Sedangkan Maudy masih melamun sambil tersenyum-senyum sendiri menatap pria itu. Sesudah semua Klien meninggalkan ruang rapat tersebut, Anton langsung bergegas tanpa memperdulikan Maudy yang masih duduk dan melamun.
Setelah Maudy menyadari Anton akan pergi dari ruangan itu, ia langsung mengejar pria tersebut dan meraih lengannya. Namun, Anton seketika menghempaskan tangan Maudy.
"Lepas!" ucap Anton. Pria itu langsung melangkah lagi setelah menghempaskan tangan Maudy.
"Kamu kenapa sih dari dulu nggak pernah lembut padaku?" tanya Maudy yang masih mengekor di belakang Anton.
"Karena kau memang pantasnya dikasari," ucap Anton tanpa menoleh pada Maudy. Anton melangkah menuju mobilnya, ia pergi untuk menghindari wanita itu.
Anton mengunci pintu mobil, sebelum Maudy masuk ke dalam mobil tersebut. Anton melajukan mobilnya tanpa perduli pada Maudy yang mengetok-ngetok pintu mobil dan mengejar mobil tersebut.
"Kurang ajar!" umpat Maudy setelah mobil Anton menjauh dan tidak dapat dijangkau oleh penglihatannya.
"Tunggu pembalasanku! Lihat saja nanti setelah kita menikah, akan ku pastikan kau akan mengemis cintaku dan berlutut untuk minta maaf padaku," ucap Maudy dengan emosi yang mencapai ubun-ubun.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Anton pergi ke pusat perbelanjaan, ia hendak masuk ke dalam. Namun, saat ia melangkah, ia tak sengaja melihat orang yang sangat dikenalnya sedang membawa barang yang banyak dan membuat orang itu sedikit kesusahan.
Anton mengejar orang tersebut. Namun, setelah orang itu menyadari kehadirannya, ia langsung meninggalkan belanjaan yang dibawanya dan lari dari pria tersebut.
"Adin tunggu!" panggil Anton.
Dinda langsung menoleh dan wanita itupun langsung lari saat menyadari kehadiran Anton. Tetapi, saat ia lari dari pria tersebut, ia kelelahan hingga wanita itu merasakan pusing dan langkahnya pun terhenti karena penglihatannya mulai buram.
Brukkk...
Dinda jatuh dan seiring kesadarannya pun mulai menghilang, ia tidak bisa lagi membuka matanya dan tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Adin..." teriak Anton.
Pria itu langsung lari ke arah wanita itu dan ia pun terkejut saat mendapati wanita yang biasanya mengejar-ngejar dirinya kini lemah dan tidak berdaya.
"Adin, bangun Din...!" Anton menepuk-nepuk pipi Dinda.
"Din, kau kenapa? Hey bangun!" Anton mengecek keadaan Dinda. Lalu pria itu segera menggendong tubuh Dinda dan membawa wanita itu ke dalam mobil untuk membawanya ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Anton langsung menggendong tubuh lemah itu dan membawa masuk ke dalam rumah sakit. Ia menunggu wanita tersebut di luar ruangan setelah dokter menanganinya.
Anton menatap ruangan yang masih belum juga dibuka. Entah kenapa pria itu begitu khawatir dan mencemaskan keadaan wanita tersebut.
Anton mondar mandir di depan ruangan Dinda, hingga akhirnya Dokter membuka ruangannya dan menanyakan keluarga Pasien.
"Apakah Anda suaminya?" tanya Dokter yang menangani Dinda.
Deg.
"Memangnya kenapa Dok?" tanya Anton dengan perasaan was-was.
"Aku ingin bicara dengan suami pasien," ucap Dokter itu sambil tersenyum tulus.
"Iya Dok, saya suami dari pasien." Bohong Anton. Anton sengaja mengakui Dinda sebagai istrinya untuk mengetahui keadaan wanita tersebut. Mengapa wanita itu sampai pingsan hanya karena lari yang tidak cukup jauh.
"Baiklah, ikut keruanganku! Ada yang ingin saya jelaskan," ucap Dokter tersebut.
Sebenarnya Anton dapat menebak tentang keadaan Dinda. Namun, ia masih ragu sebelum memastikannya. Anton takut salah dalam tebakannya hingga ia menunggu Dokter untuk mengecek dan menjelaskan tentang keadaan wanita itu.
"Bagaimana dengan keadaan istri saya Dok?" tanya Anton dengan wajah datarnya.
"Selamat," Dokter itu mengulurkan tangannya pada Anton sambil tersenyum lembut.
Deg.
Anton sudah dapat menebak apa yang terjadi pada wanita itu, dan ia tidak pernah menyangka bahwa ia akan menjadi seorang ayah sebelum mengikat wanita tersebut.
"Anda serius Dok?" tanya Anton tanpa menyuruh Dokter tersebut untuk melanjutkan ucapannya.
"Iya , saya serius. Anda akan menjadi seorang ayah," ucap Dokter itu.
Anton bingung, entah dia harus senang atau sebaliknya karena ia masih belum bisa mengatasi masalah keluarganya.
"Terima kasih, Dok!" Anton memaksakan senyumnya.
"Sama-sama," ucap Dokter itu.
"Jangan biarkan istri Anda kecapean dan terlalu banyak berpikir, karena itu akan berpengaruh pada bayi yang dikandungnya!" ucap Dokter itu mengingatkan.
"Iya, Dok!" jawab Anton.
"Apakah masih ada lagi yang perlu dijelaskan Dok?" tanya Anton.
"Tidak ada, hanya itu yang ingin saya sampaikan pada Anda." Dokter itu masih mengembangkan senyumnya.
"Ya sudah, kalau begitu aku keluar dulu Dok, untuk menemui istri saya," pamit Anton.
"Silahkan!" jawab Dokter tersebut.
Anton berjalan gontai di koridor rumah sakit. Ia dilema, karena ia masih belum menyelesaikan urusannya dengan Maudy. Sedangkan ia harus segera bertanggung jawab pada wanita itu sebelum perutnya membuncit.
Meskipun Dinda tidak meminta pertanggung jawaban pada Anton. Namun, pria itu tidak mau dihantui perasaan bersalah, apalagi di antara mereka ada malaikat kecil yang tidak berdosa.
"Aku harus menikahinya, tetapi harus secara tersembunyi karena aku tidak mau membahayakan dia dengan calon anakku," gumam Anton.
Pria itu melangkah menuju ruang rawat Dinda. Pria itu membuka pintu ruangan tersebut, lalu ia melihat bahwa gadis itu sudah sadar dan berdiri di dekat jendela kamar rumah sakit.
Anton mendekati Dinda, lalu pria itu memeluk tubuh kurus tersebut sambil mengelus perut Dinda yang masih rata.
"Apakah ini anakku?" tanya Anton sambil meletakkan dagunya pada bahu Dinda.
Deg.
Dinda terkejut, ia tidak tahu harus menjawab apa pada pria itu, hingga ia memilih diam tanpa bersuara.
"Kenapa kau masih diam? Apakah ini adalah anakku?" tanya Anton lagi.
......🌾🌾🌾🌾🌾......
...TBC...
Assalamualaikum Readersku sayang 🥰
Othor mau mengucapkan terimakasih untuk kalian semua yang selalu setia mendukung karya recehku ini ❤️
Jika diantara kalian ada pesan yang tak terbalas, maafin Othor, karena mungkin komen kalian terselip 🥰
Komen sama Author sebanyak-banyaknya
karena Othor tidak akan pernah bosen dengan komen kalian
Sekali lagi
Thank you 😍
Sambil nunggu Karya Othor Update
mampir yuk ke Karya temen Othor ❤️