
Bik Yeti datang ter gesa-gesa ke kamar Brian. Setelah Brian melihat kedatangan bik Yeti, Brian memerintahkan bik Yeti mengambil air untuk mengompres Gracia. Lalu Brian mencari ponselnya untuk menghubungi Ryan. Brian mengambil ponselnya yang ternyata ada di nakas sebelah tempat tidurnya lalu mencari kontak Ryan dan menghubunginya.
"Ryan cepat kemari dan hubungi Anton untuk datang ke mansion ku!" perintah Brian.
"Anda sakit Tuan?" tanya Ryan khawatir di sebrang telpon.
"Bukan aku yang sakit tapi istriku pingsan? Cepat hubungi Anton dan kau segera kesini." Brian mematikan sambungan telponnya tanpa menunggu jawaban Ryan.
Brian menatap wajah Gracia yang terpejam dengan wajah yang pucat tapi tak mengurangi kecantikannya.
"Sebenarnya kamu cantik Grac," gumam Brian, Brian terus memandangi wajah Gracia yang masih terpejam. Bulu mata yang lentik, hidung mancung dan bibir yang tidak terlalu tebal membuat Brian tanpa disadari membelai bibir Gracia lembut sambil tersenyum.
"Jika saja aku tidak mempunyai kekasih, mungkin aku akan segera luluh akan kebaikanmu. Namun, aku sangat mencintainya dan bagiku kau adalah penghalang diantara kami." Brian menangkis perasaannya yang mulai luluh pada Gracia.
"Sekarang entah mengapa? Aku berubah pikiran. Aku tidak akan menyiksamu lagi, karena aku tidak mau dihantui perasaan bersalah saat kita bercerai nanti, aku akan memintamu untuk meninggalkanku secara baik-baik. Kita akan berpisah tanpa saling benci." Brian bergumam sendiri.
"Tuan..." bik Yeti datang dengan membawa mangkok lalu mendekati Brian.
"Kompres dia bik! Aku mau ganti baju dulu." Brian beranjak dari tempat tidurnya, lalu melangkah menuju kamar ganti. Sedangkan bik Yeti mendekati Gracia dan mengompres nona mudanya.
"Sebenarnya tuan Brian baik, hanya saja dia menutup pintu hatinya karena terlalu mencintai nona Maudy. Kasihan nona Cia jika terus begini. Aku harap Tuan Brian segera memutuskan hubungannya dengan nona Maudy, agar nona Cia tidak terluka nantinya." Bik Yeti menatap Gracia sendu, ada perasaan tak tega melihat istri majikannya demam sampai tak sadarkan diri.
Tok tok tok
Bik Yeti membuka pintu kamar Brian setelah mendengar suara pintu diketok.
"Dokter Anton, silahkan masuk Dok!" bik Yeti mempersilahkan dokter Anton masuk.
"Kau sudah datang? Ryan mana?" tanya Brian berjalan ke arah dokter Anton dari ruang ganti.
"Aku menyuruhmu kesini untuk memeriksanya, bukan untuk menginterogasi ku. Apa gunanya kau menjadi seorang dokter jika masih bertanya padaku." Brian menatap Anton tajam.
"Sabar Men! Jangan menatapku seperti itu! Karena aku nggak bakal takut." Dokter Anton merangkul pundak Brian sambil tersenyum.
"Aku akan mencabut surat praktek mu jika kau macam-macam," ancam Brian.
"Periksa istriku sekarang!" Brian melepaskan rangkulan dokter Anton padanya.
"Ck! Kau hanya bisa mengancam ku saja." Dokter Anton berjalan mendekati Gracia yang masih belum membuka matanya.
"Aku mau menemui Ryan dulu, jika sudah selesai kau bisa menyusulku kesana," ucap Brian.
"Kamu nggak mau nunggu istrimu diperiksa? Biasanya 'kan ada sebagian orang nggak rela istrinya disentuh pria lain, kamu nggak takut istrimu di apa-apain sama aku?" tanya dokter Anton.
"Memangnya kamu mau ngapain? Disini ada bik Yeti juga. Sudah nggak usah banyak bicara, periksa istriku sekarang! Aku keluar dulu." Brian melangkah keluar kamar untuk menemui sekretarisnya.
"Dasar Arogant." Dokter Anton langsung mengerjakan tugasnya setelah kepergian Brian. Sedangkan bik Yeti menunggu sampai Gracia selesai diperiksa.
...🐠🐠🐠🐠🐠...
...TBC...
Terima kasih buat Readers yang terus menyemangatiku dan terus mendukung karya recehku ini
Aku terhura 😭😭😭