
"Kamu nggak makan berapa tahun?" tanya Anton.
"10 tahun," jawab Dinda ngasal.
"Pantesan kamu makan kayak orang kesetanan, membuatku hilang naf*su makan saja," ucap Anton pada Gadis itu.
"Aku naf*su makan karena hatiku tenang saat bersamamu," ucap Dinda dengan mulut yang dipenuhi dengan makanan.
"Tamak aja, bilang tamak! Nggak usah cari alasan!" ucap Anton.
"Terserah, aku lapar! Nanti kita bicara lagi setelah aku menghabiskan makanan ini!" ucap Dinda.
Anton menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah aneh Dinda. Ia menatap gadis di depannya heran karena biasanya seorang wanita akan anggun jika bersama orang yang dicintainya. Namun, berbeda dengan Dinda. Gadis itu makan dengan gayanya sendiri tanpa mempedulikan Anton dan orang yang melihat ia di sekitarnya.
Beberapa menit kemudian Dinda sudah selesai dengan acara ritual makannya, gadis itu bersendawa tanpa rasa malu, ia tidak menghiraukan orang di sekitarnya.
"Dasar Jorok! Bikin malu saja!" ucap Anton.
"Ya udah, ayo pulang!" ajak Dinda. Gadis itu beranjak lalu menarik lengan Anton setelah Anton membayar makanan mereka.
"Sana kau pulang sendiri! Aku masih ada urusan," ucap Anton.
"Nggak mau, aku maunya dianterin," ucap Dinda .
"Dasar manja!" umpat Anton.
"Aku memang manja, tapi manjanya sama kamu aja," ucap gadis itu tersenyum aneh.
Anton pasrah karena percuma saja ia menolak Dinda, kalau nyatanya ia akan kalah jika berdebat dengan gadis itu.
Setelah beberapa menit kemudian akhirnya mereka sampai di apartemen Dinda. Gadis itu melambaikan tangannya pada Anton. Namun, Anton tak menghiraukannya.
"Akhirnya aku bebas." Anton menghela nafas lega saat Dinda turun dari mobilnya. Namun, di detik berikutnya ia terkejut saat Dinda masuk kembali ke dalam mobil itu.
"Kenapa kau kembali? Bukankah apartemenmu disini?" tanya Anton.
"Apartemenku memang di sini, tapi mobilku di rumah sakit," ucap Dinda.
"Menyusahkan! Kenapa nggak bilang dari tadi?" geram Anton. Pria itu memberenggut kesal.
"Kamu nggak nanya," jawab Dinda. Gadis itu tersenyum melihat kekesalan Anton di wajahnya. Sedangkan Anton menahan emosinya yang sampai ke ubun-ubun.
Sesampainya di rumah sakit, Anton menghentikan mobilnya. Ia tetap duduk berdiam diri di mobil itu karena sudah males meladeni Dinda yang suka aneh-aneh.
"Thank you honey," Dinda mencium pipi Anton sekilas, lalu keluar dari mobil Anton menuju mobilnya sendiri.
Anton yang terkejut langsung melototkan matanya, ia menatap langkah Dinda yang menjauh dari mobilnya tersebut.
"Benar-benar gila!" umpat Anton.
Setelah itu, Anton melajukan mobilnya kembali menuju mansion Gracia, ia pergi kesana untuk mengajak orang yang dicintainya itu jalan-jalan, ia ingin lebih mendekatkan diri dengan Gracia.
Sesampai di mansion Wanita itu, ia menekan bel dan yang membukanya adalah bik Sumi, bik Sumi pun memberi tahu pemilik mansion itu bahwa ada Anton di ruang tamu.
Setelah beberapa saat kemudian, ia melihat calon mertunya mendekat kearahnya dan yang menemui pria itu adalah Pradita mommynya Gracia, wanita paruh baya itu duduk di sofa yang tak jauh dari sofa yang diduduki Anton. Wanita itu tersenyum menatap calon menantunya itu.
"Maaf Nak Anton! Tante yang menemuimu di sini! Soalnya, Gracia tidak enak badan!" ucap Pradita.
"Nggak apa-apa Tante, boleh saya mengeceknya?" tanya Anton.
"Silahkan!" ucap Pradita.
Anton melangkah mengikuti Pradita, setelah sampai di kamar wanita itu, ia melihat wajah pucat Gracia, ia mendekatinya lalu memeriksa suhu tubuh Gracia yang ternyata demam tinggi.
Ia meresepkan obat untuknya, lalu memandang wanita yang dicintainya itu. Sedangkan Pradita melangkah keluar dari kamar Gracia untuk membuat minuman untuk Anton.
Gracia seperti gelisah dalam tidurnya, lalu ia mengigau yang membuat hati Dokter sesat itu terhempas.
Deg.
Anton tersenyum getir, ia menghapus air mata Gracia setelan gadis itu berhenti mengigau, lalu mengelus keningnya lembut sambil tersenyum sendu.
"Inikah jawaban dari perasaanmu? Mengapa kau seperti orang yang tak bahagia ketika bersamaku. Kau masih mencintainya dan perasaanmu padanya tidak berkurang sedikit pun. Ini salahku karena terlalu memaksakan kehendakku untuk memilikimu, tetapi sekarang aku sadar bahwa memilikimu tidak akan bahagia jika hanya penderitaan yang ku lihat di hidupmu, bahkan mungkin aku akan merasa bersalah jika aku melanjutkan hubungan ini tanpa cinta darimu!" batin Anton.
Pria itu tersenyum dengan perasaan yang berkecamuk. Ia sulit untuk melepaskan. Namun, ia tidak bisa melihat orang yang dicintai menderita karena tidak memiliki perasaan yang sama.
"Cepatlah sembuh! Apapun yang menjadi kebahagiaanmu, aku akan mencoba mengikhlaskannya walaupun berat bagiku." Anton berdiri, lalu mengayunkan langkahnya untuk keluar dari kamar Gracia. Di depan pintu, ia berpapasan dengan Pradita.
"Lho... Nak Anton mau kemana? Kok buru-buru?" tanya Pradita.
"Tadi aku dihubungi pihak rumah sakit Tante, katanya ada pasien yang butuh pertolonganku," bohong Anton. Pria itu tersenyum, ia tidak menampakkan raut kesedihannya pada Pradita.
"Oh, baiklah! Hati-hati di jalan ya Nak!" ucap Pradita.
"Iya Tante!" Anton tersenyum.
"Ini kopinya minum dulu Nak!" Pradita menyodorkan kopi yang ia bawa untuk Anton.
"Terima kasih Tante!" Anton meminum kopi yang di bawa Pradita, lalu ia melangkah menjauh dari kamar Gracia.
......❤️❤️❤️❤️❤️......
"Dad, daddy nggak bosen lihat laptop terus dari tadi?" tanya David.
Brian menoleh menatap putranya yang sudah meninggalkan mainannya dan tiduran di sofa panjang yang berada di ruangan itu.
"Kenapa sayang? David bosen?" tanya Brian.
David menganggukkan kepalanya dengan wajah cemberut. Brian berdiri lalu melangkah mendekati bocah kecil itu, lalu duduk di sofa tersebut sambil mengangkat kepala David dan memangkunya.
"David ngantuk?" tanya Brian.
"Tidak Dad, David hanya bosen saja," ucap David.
"Bagaimana kalau kita beli es krim?" Brian tersenyum sembari menatap putranya yang mendongak menatap wajahnya.
"Memangnya boleh Dad?" tanya David.
"Kenapa tidak?" ucap Brian.
"Aku hanya takut mengganggu kerjaan Daddy," ucap bocah kecil itu.
"Apapun untukmu, bagi daddy kau segalanya, kau tidak akan mengganggu daddy, kapan pun kau membutuhkan daddy, daddy akan selalu ada untukmu." Brian mengecup kening David.
"Benarkah Dad?" tanya David berbinar. Bocah kecil itu langsung duduk dari berbaringnya, ia bersemangat karena ia diajak membeli eskrim oleh daddynya.
Brian mengangguk sembari tersenyum lembut pada putra kesayangannya itu. Lalu David menarik daddynya keluar dari ruangan tersebu. Sedangkan Brian hanya mengikuti langkah David yang menariknya.
"Dad, kita beli es krim di taman saja ya Dad! David ingin melihat Danau sambil menikmati eskrim yang lezat." David terus mengukir senyumnya saat dalam perjalanan.
"Setelah ini David kembali ke rumah mommy ya sayang!" ucap Brian lembut. Seketika senyuman David memudar.
"Kenapa? Apakah Daddy keberatan dengan kehadiran David?" tanya bocah kecil itu sendu. Ia menatap daddynya sedang yang mengemudi.
"Bukan begitu sayang, mommymu pasti sedih jika David tidak pulang?" ucap Brian.
"Tapi..."
...💋💋💋💋💋...
...TBC...