Cintai Aku Walau Sejenak

Cintai Aku Walau Sejenak
Bolehkah ku memanggilmu Daddy?


"Selamat pagi Dok," ucap Gracia tersenyum. wanita itu mengayunkan langkahnya mendekati Anton.


Deg.


Anton mengalihkan tatapannya dari layar ponsel dan beralih menatap Gracia. Anton terpaku melihat kecantikan wanita itu, senyum manisnya yang mampu membuat hati 'Dokter sesat' itu dingin.


Gracia, wanita yang dicintainya bertahun-tahun. Kini sebentar lagi akan menjadi miliknya. Dokter Anton pun berjanji pada dirinya sendiri bahwa selamanya ia tidak akan pernah menyakiti Gracia.


"Salju," ucap Anton sembari membalas senyuman Gracia.


"Maaf Dok, membuatmu menunggu," ucap Gracia tersenyum kaku.


"Nggak apa-apa, aku pagi ini nggak ada jadwal," ucap Anton.


Gracia duduk di sofa yang berbeda dengan Anton, wanita itu tersenyum kaku sambil menatap kekasihnya itu canggung, karena sebelumnya ia berhubungan dengan Anton hanya sebatas video call saja.


"Kenapa? Sepertinya kau kurang senang dengan kehadiranku," ucap Anton tersenyum lembut.


Gracia terkejut, karena sejujurnya ia masih bimbang ia tidak tahu kenapa? Sejak Gracia mengetahui bahwa Brian belum menikah, wanita itu terus memikirkan Brian, serentetan pertanyaan terus bermunculan dalam benaknya.


"Bukan begitu Dok, aku hanya kelelahan saja. Mungkin karena aku sudah lama tidak menaiki pesawat, jadi hari ini tubuhku kurang fit." Gracia mencari alasan yang tepat agar tidak menyakiti pria itu.


"Okay baiklah, sebaiknya kita jalan lain kali saja. Lagi pula aku punya jadwal bedah siang ini, kalau kita cuma jalan setengah hari saja 'kan sayang. Aku akan mencari waktu yang senggang agar kita bisa menikmati waktu tanpa khawatir akan ada telpon darurat dari rumah sakit." Anton tersenyum.


"Terima kasih Dok." Gracia membalas senyuman Anton.


"Sama-sama," ucap Anton.


"Ya udah, kita ketemu lain kali aja! Aku akan ke rumah sakit. Jangan lupa istirahat dan minum vitamin, Agar tubuhmu segar kembali!" ucap Anton. Pria itu menampilkan senyum manisnya pada Gracia, lalu beranjak dari tempat yang di dudukinya. Sedangkan Gracia mengantar dokter itu sampai di depan mansion.


Gracia menatap mobil Anton yang kian menjauh, hingga mobil tersebut hilang dari pandangan matanya.


"Maafkan aku Dok! Sampai sekarang pun aku belum bisa memberikan cintaku untukmu, tetapi aku akan terus berubah untuk mencintaimu. Kau terlalu baik padaku dan aku tidak bisa membalas kebaikanmu itu kecuali dengan memberikan hatiku padamu." Gracia membatin.


Gracia kembali ke dalam mansion. Ia melangkah ingin kembali ke kamarnya. Namun, David memanggilnya, lalu lari ke arah Gracia dan memeluk mommy itu.


"Mommy...!" ucap David. Bocah kecil itu memeluk mommynya.


"Waw..., David mau kemana sayang kok rapi banget?" tanya Gracia. Wanita itu duduk dengan mensejajarkan tubuhnya pada David.


"David mau jalan-jalan ke mall Mommy sama bik Sumi," ucap David.


"Mau mommy temani?" tanya Gracia.


"Enggak usah Mom! Cukup bik Sumi aja! Aku sudah besar, Mommy nggak usah khawatir sama David! David bisa jaga diri David sendiri," ucap David polos.


"Grandma mana sayang?" tanya Gracia.


"Grandma ada di ruang keluarga. Grandma nonton tv, David memang ingin pergi sendiri, David nggak mau di temani Mommy ataupun grandma karena David ingin belajar mandiri," ucap bocah kecil itu.


"Tapi Sayang..." ucapan Gracia terpotong.


"Sudah lah Mom, mommy nggak usah khawatir! Aku cuma pergi sebentar doang." David bersedekap dada.


"Ya udah, tapi hati-hati!" ucap Gracia.


"Siap Mom," ucap David.


"Bik Sumi, Cia titip David ya!" ucap Gracia. Wanita itu tersenyum, lalu berdiri menoyor rambut David


"Baik Nona," ucap Bik Sumi.


"Mommy," teriak David. Bocah kecil itu cemberut Karena Gracia membuat rambut putranya itu berantakan.


"Ya udah, sana berangkat! Janga lupa hati-hati di jalan!" ucap Gracia tersenyum lembut.


"Iya Mom," ucap David.


Gracia melanjutkan langkahnya, ia menuju ruang keluarga untuk menemui Pradita. Sedangkan David langsung lari keluar mansion menuju mobil yang akan mengantarnya ke mall. David sangat bahagia, karena memang sejak lama ia ingin berada di negara itu, ia tidak mau menyia-nyiakan liburannya dengan waktu yang terbuang percuma, ia ingin melihat daddynya meskipun ia tidak tau harus mencarinya kemana?


"Tuan kecil tunggu!" teriak bik Sumi sambil lari mengejar David. Seketika David menghentikan langkahnya, lalu menatap bik Sumi yang berlari mengejarnya.


"Yang mana Tuan kecil?" tanya bik Sumi.


"Jangan panggil aku Tuan kecil lagi! Karena aku sudah besar," ucap David. Bocah kecil itu meletakkan tangannya di atas pinggang.


"Terus bibik mau panggil apa?" tanya bik Sumi.


"Panggil aku Tuan muda." ucap David sambil bersedekap dada. Bik Sumi hanya tersenyum melihat tingkah David yang lucu.


"Baik Tuan Muda!" ucap bik Sumi.


"Nah gitu dong! itu 'kan lebih enak di dengar," ucap David. Setelah itu David masuk ke dalam mobil, ia duduk di belakang. Sedangkan bik Sumi duduk di sebelah sopir yang akan mengantarnya ke mall.


...❤️❤️❤️❤️❤️...


Dalam perjalanan pulang, Silvia mengajak Brian untuk mampir ke mall, Karena Silvia ingin belanja sekaligus senang-senang untuk menghibur putranya yang sedang patah hati. Brian tak menanggapinya. Brian hanya pasrah kemanapun Silvia mengajaknya.


Brian mengikuti langkah mommynya ke dalam mall. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sosok anak kecil yang ia temui di bandara. Ia berjalan mendekati anak kecil yang sedang bermain di mall itu. Wajah tampan dan imut yang mencerminkan dirinya se waktu kecil.


Brian tersenyum melihat wajah imut itu, tingkahnya yang lucu, membuat hati Brian damai, ia seakan melupakan segalanya, yang ada dalam pikiran Brian hanya anak kecil yang sedang bermain di mall itu.


"David," panggil Brian. Pria itu menghampiri bocah kecil yang sedang bermain itu sambil tersenyum. David menoleh, lalu David terkejut karena melihat daddynya, harapannya untuk bisa bertemu Brian menjadi kenyataan.


"Om Brian," ucap David berbinar.


David langsung meninggalkan mainannya dan lari ke arah Brian. David sangat bahagia hingga ia tak menyadari ada sesuatu yang menghalangi jalannya, ia tersandung lalu jatuh tersungkur.


"David," teriak Brian. Pria itu lari, lalu menggendong tubuh anak kecil tersebut. Terlihat jelas wajah khawatir Brian hingga membuat David tersenyum melihat wajah daddynya yang cemas.


"Boleh nggak om, David memanggil Om Brian dengan sebutan 'Daddy?" tanya David.


Deg


Brian sangat bahagia mendengar permintaan David, entah perasaan dari mana ia ingin selalu dekat dengan anak kecil itu.


"Boleh sayang, sangat boleh!" ucap Brian.


"Thank you, Daddy." David mencium pipi Brian.


"Orang tuamu mana sayang? Kenapa kau sendirian lagi?" tanya Brian.


"Aku pergi sama bik Sumi, pembantu di mansion grandma," ucap David.


"Aku nggak mau di temani sama grandma dan mommy, karena David ingin belajar mandiri Dad!" ucap David.


Brian tersenyum, lalu mencium pipi kanan dan kiri David. Sakit hatinya tentang kabar Gracia seakan hilang, saat bersama dengan anak kecil yang di gendongnya itu.


...💋💋💋💋💋...


...TBC...


Assalamualaikum Readersku sayang 😍


Jangan lupa! Jari jempol digoyangkan


Maaf Othor update nya lama 🤭🙈


Semoga kalian nggak pernah bosan dengan karya Othor ❤️


Sambil nunggu Othor up


Mungkin ada yang mau mampir ke karya teman Othor yang lain


Yang ini Othornya Pria


Katanya sih 'Sholeh dan tidak sombong🤭



Itu yang gambar pisau stiker ya! Bukan termasuk Karyanya 🤣🤭