
Brian duduk di kursi dekat ranjang Gracia. Ia melihat istrinya yang masih setia memejamkan mata dengan alat bantu yang tertancap di sekujur tubuhnya.
Brian yang tidak kuat menahan kesedihan, ia menenggelamkan wajah pada kedua lengan yang dilipat dan bertumpu pada sisi ranjang pasien. Pria itu menangis sejadi-jadinya tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun.
Setelah puas menangis, pria itu menatap wajah Gracia yang begitu pucat, ia membelai wajah itu sambil tersenyum dengan air mata yang mengalir tanpa henti.
"Sayang... bangunlah! Aku mohon buka matamu, aku tidak sanggup melihatmu seperti ini. Jangan siksa aku seperti ini! Aku mohon buka matamu!" tangis Brain. Pria itu membelai pipi istrinya.
Tes...
Setitik air mata Gracia lolos dari kelopak matanya, dan hal itu berhasil membuat Brian tersenyum Seketika, karena ia menyadari bahwa istrinya itu mendengarkan apa yang ia katakan.
"Cepatlah pulih! Aku akan selalu menunggumu disini sampai kau sadar," ucap Pria itu.
Brian mengelus perut Gracia yang masih rata, ia mencium sambil memejamkan mata, menyelami perasaannya yang begitu sakit saat melihat orang yang dicintai terbaring lemah tidak sadarkan diri dan nyawanya pun di ujung tanduk.
"Sayang, kau baik-baik ya di perut mommy, jangan pernah berpikir untuk pergi meninggalkan daddy dan mas David dari dunia ini, karena daddy dan mas David akan menderita tanpa kalian, tolong bilang sama mommy, cepat bangun! Daddy sangat merindukan kalian." Brian meletakkan kepalanya di atas perut Gracia sambil mengelusnya.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
"Saya terima nikah dan kawinnya Dwita Adinda Lestari binti Kusuma Wijaya dengan seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi, Sah?" tanya penghulu.
"Sah..." jawab orang yang ada dalam KUA itu. Penghulu membaca doa yang di aminkan oleh para saksi yang ada di sana.
Kini Anton dan Dinda sudah sah menjadi sepasang suami istri. Dinda masih syok dengan semuanya. Ia tidak menyangka bahwa akan menikah dengan orang yang dicintainya meskipun dalam keadaan terpaksa.
Dinda mencium tangan suaminya lembut. Sedangkan Anton mengecup kening Dinda hangat. Gadis itu merasa berdesir, saat bibir Anton menyentuh keningnya, ada kebahagiaan tersendiri yang tidak bisa ia jabarkan oleh kata.
Setelah itu, mereka keluar menuju mobil masing-masing. Namun, tidak dengan Dinda! Wanita itu bingung harus mengikuti Anton atau pulang sama mommynya, karena Anton tidak menoleh pada orang yang sudah sah menjadi istrinya itu, Dinda mengejar Lestari yang hampir masuk ke dalam mobil.
"Mommy...!" teriak Dinda.
"Mom, aku ikut Mommy ya?" ucap Dinda tersenyum, setelah gadis itu berada di dekat Lestari.
"Kau sudah nikah Nak! Ngapain ikut Mommy?" tanya Lestari.
"Ikut suamimu gih!" perintah Lestari. Wanita paruh baya itu tersenyum, ia bahagia melihat putrinya menikah meskipun pernikahan itu dilakukan secara dadakan karena Dinda hamil di luar nikah.
Dinda hanya melirik Anton yang tidak jauh dari mobil Lestari. Pria itu menatap Dinda dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.
"Mommy benar, sekarang kau sudah menjadi istriku, pulanglah bersamaku! Mulai sekarang kau harus tinggal denganku di apartemen!" ucap Anton.
"Apartemen? Kenapa harus apartemen?Bukankah dia tinggal di mansion? Apakah aku hanya dijadikan simpanan olehnya?" batin Dinda.
Setelah itu Anton membuka pintu mobilnya untuk Dinda. Gadis itu masuk dengan wajah bingung.
"Masuk!" perintah Anton.
Dinda hanya mengangguk tanpa suara, banyak pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan dalam benaknya.
Setelah itu mereka pulang. Kini keduanya sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Gadis itu bungkam, ia tidak tahu harus mengucapkan apa, pada orang yang sudah sah menjadi suaminya itu.
......🍁🍁🍁🍁🍁......
^^^Bersambung...^^^
Assalamualaikum Readersku sayang 🤭
Selamat Malam semua, semoga sehat selalu 🥰 bagi yang udah tidur semoga mimpi indah.
Jangan lupa jempolnya digoyangkan 🙈