
"Setelah ini David kembali ke rumah mommy, ya sayang!" ucap Brian lembut. Seketika senyuman David memudar.
"Kenapa? Apakah Daddy keberatan dengan kehadiran David?" tanya bocah kecil itu sendu. Ia menatap daddynya sedang yang mengemudi.
"Bukan begitu sayang, mommymu pasti sedih jika David tidak pulang?" ucap Brian.
"Tapi..." ucap David terpotong.
"Tapi kenapa sayang?" tanya Brian.
"Tapi David masih kesel sama mommy, mommy nggak mau ngabulin permintaan David." Bocah kecil itu memberenggut.
"David nggak boleh bersikap kayak gitu sama mommy! Apa David tega lihat mommy sedih?" tanya Brian.
David menggeleng. Ia menundukkan kepala sambil mengembungkan kedua pipinya.
"Jika David nggak ingin mommy sedih, maka penuhilah ke inginan mommy, apapun yang mommy ucapkan itu adalah kebaikan untuk David, mommy dan daddy," ucap Brian. Pria itu tersenyum sambil mengelus kepala David dari tangan kirinya sedangkan tangan yang satunya memegang kemudi mobil.
"Daddy, kenapa kita nggak bisa bersama? Aku cuma ingin merasakan kebahagiaan seperti yang teman-teman David rasakan. Apakah David salah jika ingin kita tinggal bersama seperti teman-teman David?" tanya bocah itu dengan air mata yang mengembun.
"David nggak salah sayang, yang salah itu daddy." Brian tersenyum sendu.
"Memangnya Daddy salah apa?" tanya David.
"David masih terlalu kecil Nak, untuk mengerti semuanya." Brian mengalihkan tatapannya dari David, ia fokus menatap jalanan karena setiap ia mengingat Gracia, maka hanya gambaran penyesalan yang dapat ia lihat. Ia tidak mau terlihat cengeng di depan putra kesayangannya itu.
"Dad, kita langsung pulang ke mansion mommy ya! David nggak jadi beli es krimnya," ucap David.
"Kita beli eskrim di supermarket aja! Nanti David bisa memakannya dalam mobil," ucap Brian.
"Terima kasih, Daddy!" ucap David berbinar
"Sama-sama sayang!" ucap Brian membalas senyuman David.
Setelah menempuh perjalanan 30 menit. Akhirnya mobil Brian sampai di mansion Gracia.
David langsung berteriak memanggil mommynya. Tetapi, yang membuka pintu mansion bukan mommynya melainkan bik Sumi, David langsung lari menuju kamar mommynya. Sedangkan Brian langsung berbalik hendak pergi dari mansion tersebut.
Namun, langkahnya terhenti saat Pradita mencegahnya.
"Tunggu!" ucap Pradita. Brian berbalik, lalu menatap Pradita yang berjalan mendekat.
"Kenapa Mom?" tanya Brian tersenyum.
"Duduk dulu Nak! Mommy mau bicara sebentar sama kamu," ucap Pradita.
Brian tersenyum lalu melangkah ke ruang tamu mengikuti Pradita. Wanita paruh baya itu duduk bersebrangan dengan Brian, ia menatap Brian dengan intens.
"Kamu nggak mau menjenguk Gracia?" Pradita membuka pembicaraan.
"Gracia kenapa Mom? Bukankah tadi pagi nggak apa-apa? Dia datang ke mansion untuk menemui David. Namun, David menolaknya hingga ia kembali lagi. Maka dari itu aku membujuk David agar dia mengerti hubungan kami yang tidak lagi bisa bersama," ucap Brian.
"Kenapa kau putus asa Nak?" tanya Pradita.
"Aku tau kau masih mencintai Gracia dan itu terlihat sangat jelas dari sorot matamu," lanjut Pradita.
"Apa yang harus ku lakukan Mom? Jika kebahagiaannya bukanlah aku!" ucap Brian.
"Aku hanya bisa membuatnya bersedih, sudah cukup ia menderita karenaku. Aku tidak ingin menjadi penghalang dari kebahagiaannya." Lanjut Brian.
"Aku ingin sekali melihatnya Mom, tetapi bagaimana kalau ia marah ketika melihat wajah Brian? Aku tidak mampu melihat wajah sedihnya lagi." Brian menundukkan kepalanya.
"Cia lagi tidur, lihatlah jika kau ingin menjenguknya. Cia demam tinggi dan selalu mengigau. Dengarkan apa yang Cia katakan ketika ia tidak sadar!" Pradita tersenyum.
Wanita itu berharap agar putrinya itu, segera menemukan kebahagiaannya. Namun, Gracia seakan tidak punya tujuan untuk menempuh kebahagiaan. Ia seolah terbelenggu dalam dilema yang tidak bisa ia pilih dalam hidupnya.
Akhirnya Brian memberanikan diri untuk menjenguk wanita yang dicintainya itu. Ia melangkah menuju kamar Cia, setelah sampai di kamar itu, ia melihat David menangisi mommynya tanpa suara. Brian masuk kamar itu, lalu memeluk putra kesayangannya.
Seketika David terisak. Namun, David menghentikan tangisannya, saat mendengar Gracia bergumam tidak jelas.
"Mommy," ucap David. Bocah itu menoleh dan melepaskan pelukan daddynya.
"Mommymu cuma mengigau sayang," ucap Brian tersenyum melihat putranya yang menahan tangis.
"Nanti ketika mommymu bangun, David minta maaf ya sama mommy! Biar mommy cepat sembuh dan nggak sedih lagi," ucap Brian lembut.
David menganggukkan kepalanya. Sedangkan Pradita yang berada di ambang pintu tersenyum melihat sikap lembut Brain pada David. Ia masuk ke kamar Gracia, lalu membawa David bersamanya. Sedangkan Brian masih betah duduk di samping mantan istrinya tersebut, dengan menatapnya sendu.
"Maafkan aku yang terlalu banyak menyakitimu! Aku janji meskipun kita tidak bisa bersama, aku tidak akan pernah merebut David darimu meskipun aku juga sangat menyayanginya," ucap Brian.
"Aku tidak berhak atas dia, meskipun aku ayah kandungnya karena aku tidak pernah ada disaat kalian membutuhkanku. Kau tidak perlu khawatir, David akan selalu bersamamu," ucap Brian tersenyum.
Pria itu berdiri hendak pergi dari kamar tersebut. Namun, tangannya ditahan oleh Gracia yang membuat pria itu menoleh.
"Jangan tinggalkan aku Mas!" Gracia masih memejamkan matanya dengan air mata yang masih mengalir deras.
Deg.
Brian berbalik, lalu duduk kembali di samping Gracia. Ia menatap mantan istrinya itu dengan tatapan sendu.
"Aku tidak tahu apa yang kau rasakan saat ini! Tetapi, bolehkah aku berharap kau menahanku dalam dunia nyata?" gumam Brian. Pria itu tak bosannya menatap wajah pucat Gracia.
Setelah melihat Gracia kembali tenang, Brian melepas genggaman tangannya di pergelangan tangan pria itu, ia melepasnya perlahan, lalu beranjak kembali dari tempat tidur itu. Ia membelai kening Gracia lembut, lalu melangkah pergi meninggalkan Gracia yang masih tertidur lelap, Anton sengaja menyuntikkan obat tidur pada tubuh Gracia, agar wanita itu istirahat yang cukup.
"Sayang," ucap Brian pada putranya saat melihat David termenung duduk lesehan di teras mansion itu.
Brian mendekat lalu duduk di samping David. "Kenapa disini?" Brian membelai rambut David.
"Aku cuma mau cari udara segar aja Dad!" ucap bocah polos itu.
"Kalau mencari udara segar bukan disini sayang, tapi di taman!" ucap Brian.
"Aku males Dad, ke taman. Di sini udaranya juga segar Kok?" ucap David polos.
"Memangnya apa yang kau pikirkan? Kau sudah seperti orang dewasa saja!" ucap Brian.
"Daddy sangat tahu apa yang David inginkan, tetapi Daddy selalu pura-pura tidak tahu," ucap David.
"Sayang, kamu ingat 'kan dengan apa yang daddy katakan? David jangan khawatir, kami akan selalu menyayangi David meskipun kita tidak tinggal bersama," ucap Brian.
Pria itu mengembangkan senyumnya pada David untuk menghibur putarannya itu, meskipun sebenarnya ia juga sangat terluka dengan pertunangan Gracia dan Anton. Ia mencoba mengiklaskannya meskipun sulit.
...💋💋💋💋💋...
...TBC...