Cintai Aku Walau Sejenak

Cintai Aku Walau Sejenak
Kesempatan untuk mendekat


"Terus kenapa jika dia mengigau namamu? Jika dia sakit seharusnya yang dihubungi itu keluarganya, bukan kamu yang jelas-jelas sudah menjadi suami orang. Kau bukan dokter 'kan? Apa yang bisa kau lakukan padanya? Apa dengan kehadiranmu dia akan sembuh?" ucap Garacia.


Brian menundukkan kepalanya, benar apa yang dikatakan Gracia. Seharusnya dia tidak bersikap bodoh, seharusnya ia tidak meninggalkan istrinya demi masa lalu dan seharusnya ia juga tidak menyakiti istrinya di malam itu.


Pria itu menyesal akan keputusannya yang salah, ia tidak menyangka bahwa karena itu, rumah tangganya yang mulai sempurna menjadi berantakan karena masalah tersebut, ia terlalu percaya diri bahwa istrinya itu sangat penyabar. Namun, Brian tidak menyadari bahwa sabar itu ada batasnya.


"Iya, aku tidak bisa melakukan apapun! Aku hanya orang bodoh yang hanya bisa menyakitimu saja. Karena hal itulah yang membuatku menyesal hingga saat ini." Brian menatap Gracia sendu.


"Aku mohon maafkan aku! Kembalilah ke mansion bersama putra kita. Aku tidak akan melakukan kesalahan lagi. Aku janji, aku tidak akan menyia-nyiakanmu seperti dulu," ucap Brian. Pria itu menatap Gracia memohon.


"Maaf Mas, aku tidak bisa." Gracia melepaskan genggaman tangannya dari Brian. Ia tidak mampu menatap Brian hingga ia memilih membuang muka.


"Kenapa Grac...? Kenapa nggak bisa?" tanya Brian.


"Aku sudah tidak mencintaimu lagi Mas, cintaku padamu sudah hilang sejak aku pergi dari mansion." Gracia menatap mata Anton. Sekuat tenaga ia menahan perasaannya, ia terluka akan ucapannya sendiri.


"Jika cinta itu hilang, berusahalah untuk mencintaiku kembali!" ucap Brian menatap mata Gracia sendu.


"Maaf Mas, aku tidak bisa!" ucap Gracia. Wanita itu memalingkan wajahnya kembali.


Deg


Sesakit inikah dulu saat ku menolaknya? sesakit inikah dulu saatku tidak memberinya kesempatan untuk dia mendekat? Juga sesakit inikah saat dia melihatku bersama orang lain?


Brian membatin, ia tidak mampu lagi tuk berbicara dengan Gracia. Ia menatap Gracia yang sedang membuang muka.


Bahkan ia tidak sudi menatap wajahku, apakah aku harus mengikhlaskannya? Batin Brian.


Mungkin ini jalan yang terbaik aku harus ikhlas demi kebahagiaannya. Aku tidak mau membuatnya lebih terluka lagi saat aku memaksakan kehendakku sendiri. Brian membatin.


"Jika kau tidak mau kembali karena kau tidak mencintaiku lagi, maka lakukanlah demi David putra kita. Aku ingin menebus waktu yang terbuang selama 7 tahun ini. Dia akan bahagia jika kita bersama karena dia juga butuh seorang ayah." Brian masih mencoba membujuk Gracia. Namun, keputusan wanita itu seperti batu karang yang tak tergoyahkan.


"Aku tidak bisa Mas! Jika kau memang ingin menebus semuanya, aku tidak akan melarangmu! Kapan pun kau ingin menemui David. Maka temuilah sesuka hatimu," ucap Gracia.


"Baiklah jika dengan melepasmu kau akan bahagia, maka aku akan lakukan. Mungkin ini balasan untukku karena dulu aku telah menyakitimu terlalu dalam." Brian mencoba tersenyum, menahan sesak yang menghantam dadanya


"Aku akan menandatangani surat itu secepatnya, agar kau bisa bahagia bersama orang yang kau cintai." Brian tersenyum kaku.


"Terima kasih, karena kau telah mengertiku Mas!" ucap Gracia.


"Kalau begitu aku permisi duluan!"


Gracia beranjak dari tempat duduk yang ia tempati, lalu mengayunkan langkahnya menuju pintu keluar. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Brian.


"I love you More 'Gracia Wiratama.'


Deg.


Seketika wanita itu tersentak, air matanya pun lolos begitu saja. Namun, Gracia melanjutkan langkahnya dan menghapus air mata itu. Ia menahan segala sesak di dadanya.


Sedangkan Brian menatap langkah Gracia sampai bayangan itu menghilang dari pandangan matanya.


"Tidak ku sangka! Sesakit inikah bila kita ditolak? Pantas saja dia tidak bisa memaafkanku! Karena rasa ini begitu sakit. Aku bahkan menyakitinya setiap hari dulu, tetapi dia begitu sabar."


Sebenarnya aku sangat tidak rela melepasnya. Tetapi aku tidak punya pilihan lain, selain mengikhlaskan dia bersama orang yang dicintainya, Meskipun kebahagiaanya adalah sahabatku sendiri," gumam Brian.


......❤️❤️❤️❤️❤️......


Gracia keluar dari caffe itu, ia lari dari tempat itu, menjauh dari tempat keramaian tersebut. Gracia terus berlari tanpa mempedulikan orang yang melihatnya.


Sampai di tengah jalan, ia berjalan sambil menangisi Brian, ia ingin kembali! Namun, janjinya pada dokter Anton membuatnya tidak tega untuk menyakiti orang yang selalu membantunya itu. Hutang budi pada Anton membuatnya terbelenggu dengan janjinya sendiri.


"Aku bahagia Mas, karena ternyata kau belum menceraikanku. Namun, aku juga sangat sedih karena permintaanku kau harus menanda tangani surat tersebut. Aku tidak mau kita pisah Mas, aku tidak mau! Tetapi aku harus apa? Aku berjanji padanya bahwa aku akan mencintainya." Gracia duduk bersimpuh di bawah pohon yang berada di pinggir jalan.


"Aku juga masih mencintaimu Mas, rasa itu tidak berkurang sedikitpun untukmu. Maafkan aku Mas, maafkan aku." Gracia menangis tersedu.


......❤️❤️❤️❤️❤️......


"Hai juga Om," kenapa Om ada disini? Bukankah daddy sama mommy pergi? Kenapa om nggak ikutan?" tanya David polos.


"Enggak, dokter nggak ikutan, karena dokter ingin kenalan dan temanan sama David, kita kan cuma kenalan di layar ponsel? Om maunya kita kenalan dalam dunia nyata," ucap Anton.


"Emangnya dunia ada yang tidak nyata ya om?" tanya David polos.


"Ada," ucap Anton.


"Seperti apa Om?" tanya David kembali.


"Sudah ah, suatu saat nanti jika kau sudah besar, maka kau akan mengerti tentang apa yang om maksud," ucap Anton.


"Baiklah Om," ucap David pasrah.


"Kita pulang yuk!" aku akan mengantar kalian ke mansion," ucap Anton pada David dan bik Sumi.


"Nggak usah repot-repot Tuan, kami diantar sopir begitupun pulangnya nanti," ucap Bik Sumi.


"Aku ada jadwal operasi siang ini Bik? Jadi maaf aku harus segera ke rumah sakit." Anton melihat jam pergelangan tangannya.


"Baiklah Dok, hati-hati di jalan," ucap Bik Sumi.


"Sama-sama Dok,"


"Om pergi duluan ya?" Anton berjongkok lalu mencium pipi kanan dan kiri David. Setelah itu Anton melangkah keluar mall tersebut.


...💋💋💋💋💋...


...TBC...


Assalamualaikum Readersku sayang❤️


Othor mau promosi karya teman Othor yang sudah Waw nih..


Sebenarnya malu sih Readersku dikit tak sebanyak dia.


Tapi biarlah mungkin kalian ada yang berkenan mampir ke karyanya yang wowww banget...



Ada lagi karya temanku yang lain


mungkin ada yang suka mafia 🥰



Maaf Othor updatenya suka telat Sebenarnya Othor pengen banyakin Bab, tapi karena dunia nyata membuat Othor tidak sempat


I love you All jangan lupa jejaknya 😘


Bagi yang berkenan Vote besok hari Senin 🤭🙈


Othor akan berbinar jika dikasih gituan


nggak dikasihpun nggak apa-apa.


Kalian mau baca aja udah Alhamdulillah banget 🥰😍


Thank you 😍