
"Aku harap kau tidak membohongiku Mas," ucap Maudy. Gadis itu menatap Brian mencari kebohongan yang tersorot di mata pria tersebut.
"Aku nggak membohongimu," ucap Brian.
"Apakah istrimu tau bahwa kau memiliki hubungan denganku, bahkan sebelum kalian menikah?" tanya Maudy.
"Iya," jawab Brian.
"Istrimu nggak marah?"
"Untuk apa dia marah? Dia nggak berhak mengatur hidupku, bagiku dia hanyalah benalu," ucap Brian.
"Terima kasih Mas, aku percaya padamu." Maudy tersenyum.
"Hm..." jawab Brian.
"Berarti aku boleh dong main ke mansionmu lagi tanpa takut istrimu tau hubungan kita?" tanya Maudy.
"Boleh, tetapi tidak untuk sementara ini, karena nyokap akan nginep di mansionku untuk beberapa hari. Aku nggak mau dia sampai tau hubungan kita," ucap Brian.
"Okay..." jawab Maudy lesu.
"Ya udah, makan gih! Sebelum makanannya dingin." Brian tersenyum.
"Suapi?" ucap Maudy manja.
"Okay," Brian menyuapi Maudy begitupun sebaliknya. Mereka makan saling suap suapan sesekali bercanda sambil tertawa.
Seusai makan siang, Brian dan Maudy pergi meninggalkan restoran tersebut. Namun, tanpa diduganya setelah sampai di parkiran Maudy menubruk tubuh seseorang saat Brian pergi mengambil dompetnya yang tertinggal.
"Maudy...?" ucap orang tersebut.
"Anton?" ucap Maudy.
"Tak ku sangka, ternyata kau masih ingat padaku?" ucap Anton sinis.
"Mana mungkin aku lupa padamu. Aku pasti selalu mengingatmu karena kau yang selalu menghalangiku untuk mendapatkan Brian." Maudy membalas senyuman Anton tak kalah sinisnya.
"Kau tidak pernah berubah ternyata ya? Aku heran sama kamu. Kenapa sih kamu selalu menggangguku? Perasaan aku nggak pernah buat masalah denganmu," ucap Maudy.
"Memang kau tidak pernah buat masalah denganku, tetapi karenamu hubungan persahabatan antara Brian dan Ryan hampir putus jika saja Ryan tak mau mengalah." Anton mengepalkan tangannya.
"Loh, apa salahnya aku memilih Brian, dia lebih keren, tampan dan mapan. Jadi mana mungkin aku memilih Ryan yang hanya asisten Brian," ucap Maudy memutar bola matanya.
"Kamu itu..." Anton tidak terima kedua sahabatnya hanya dimanfaatkan oleh Maudy, Anton ingin melayangkan tamparan. Namun, sebelum Anton melakukannya ia berhenti karena mendengar suara bariton dari arah pintu masuk.
"Anton?" ucap Brian.
Anton menoleh menatap Brian yang mendekat, menuju ke arahnya.
"Cih! Kau sungguh keterlaluan Men. Aku kecewa padamu. Aku sudah nggak peduli kau mau memecatku atau tidak, jika kau tetap ingin berhubungan dengan perempuan ini, maka jangan salahkan aku, jika aku merebut istrimu. Dan jangan pernah menyesal karena kau telah membuat keputusan yang salah." Anton meninggalkan Brian dan Maudy dengan emosi yang membuncah.
"Kenapa tuh anak? Tidak biasanya dia marah sampai seperti itu. Apakah aku memang sangat keterlaluan?" gumam Brian.
"Akan tetapi bukankah selama ini dia tau hubunganku dengan Maudy?" batin Brian.
"Udah ah, ngapain sih peduliin omongan Anton. Selama ini dia kan memang tidak pernah menyukaiku," ucap Maudy. Gadis itu menarik tangan Brian menuju tempat parkir mobilnya.
Brian dan Maudy masuk ke dalam mobil tersebut meninggalkan restoran itu. Sedangkan Anton di dalam restoran itu bingung sendiri, kenapa ia harus se marah itu saat melihat Brian bersama Maudy? Padahal ia mengetahui tentang hubungan mereka berdua.
"Arggghhhh...."
"Ini pasti ada yang salah, kenapa sih aku harus menyukai istri sahabatku sendiri? Aku hanya ingin membantu mereka, tetapi kenapa aku malah terjebak di dalamnya?"
"Arghhh......" teriak Anton.
...💋💋💋💋💋...
...TBC...
Jangan lupa like dan komennya ya Readersku sayang 😍
Muachhh... 😘