
"Dia bilang tidak ingin menjadikanku istri kedua, Maksudnya apa? Apa dia tidak jadi menikah dengan tunangannya?" Dinda membatin. Entah kenapa hatinya merasa lega saat ia mendengar ucapan Anton.
Wanita itu kembali ke ranjang pasien untuk mengambil ponselnya, ia beranjak ingin pergi dari ruangan tersebut. Namun, Anton yang melihat Dinda pergi meninggalkan ruang rawat, ia langsung menyusul wanita itu.
Saat sampai di parkiran, Anton menarik tangan Dinda tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dinda hanya menatap Anton tanpa berniat ingin membantahnya. Pria itu membuka pintu mobil untuk wanita itu. Namun, wanita itu tidak kunjung masuk hingga Anton membuatnya terduduk. Lalu Anton menutup pintu mobilnya.
Saat di dalam mobil hanya keheningan yang terjadi. Dinda melirik Anton yang fokus menyetir tanpa menoleh sedikitpun padanya.
Hati Dinda menciut, ia merasa diabaikan oleh pria itu hingga ia memilih menoleh ke samping dan menatap jalanan, ia melihat pepohonan yang berlalu lalang.
Satu jam kemudian mereka sampai di KUA, Dinda sangat terkejut saat mendapati dirinya berada di tempat itu.
Saat sampai di sana, ternyata sudah ada Lestari dengan omnya Dinda. Tidak lupa juga George yang telah menunggu kehadiran mereka.
"Dad, Tante, Om...!" Anton tersenyum pada mereka bertiga.
"Silahkan masuk! Kalian sudah ditunggu," ucap George.
Anton menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Sedangkan Dinda masih belum paham dengan yang terjadi.
Gadis itu mengikuti langkah Anton yang menariknya masuk kedalam kantor itu. Ia hanya pasrah dan tak dapat mengucapkan kata-kata.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Brian kini sampai di depan ruangan Gracia. Di sana ia melihat Pradita sedang menangis dalam pelukan Ashok. Ia semakin tercekat melihat pemandangan itu.
"Brian...," ucap Pradita saat menyadari bahwa menantunya itu mendekat ke arahnya.
Pria itu memaksakan senyum pada sang mertua supaya tidak semakin membuat mertuanya tersebut sedih.
"Kau dari mana Nak?" tanya Pradita.
"Aku dari ruangan Dokter Mom," ucap Brain tersenyum sendu.
"Bagaimana dengan keadaan anak dan cucuku Nak?" tanya Pradita kembali.
"Kalau Gracia?" tanya Pradita lagi.
"Istriku..." Brian menelan ludahnya yang tercekat. Ia tak dapat mengucapkan keadaan istrinya pada orang yang melahirkankannya itu, karena ia tahu bahwa Pradita akan sangat terluka.
"Kenapa dengan anakku?" tanya Pradita sendu.
"Istriku koma Mom, Dokter tidak bisa menjamin keselamatannya. Namun, ada keajaiban di balik itu semua, anakku tetap bertahan dalam kandungan istriku Mom," ucap Brian sambil memalingkan muka. Pria itu sangat sedih hingga ia tidak bisa menahan air matanya. Ia mengusap air mata tersebut yang hendak jatuh sebelum mertuanya melihat.
"Ya sudah Mom, Dad...! Brian mau lihat istri Brian dulu," ucap pria itu.
Pradita hanya menganggukkan kepalanya sambil terus meneteskan air mata tanpa henti.
"Silahkan!" jawab Ashok. Pria itu tersenyum tipis.
Brian membuka pintu ruangan Istrinya. Ia melangkah perlahan dan mendekati Gracia yang dipenuhi dengan alat medis.
Brian duduk di kursi dekat ranjang Gracia. Ia melihat istrinya yang masih setia memejamkan mata dengan alat bantu yang tertancap di sekujur tubuhnya.
Brian yang tidak kuat menahan kesedihan, ia menenggelamkan wajah pada kedua lengan yang dilipat dan bertumpu pada sisi ranjang pasien. Pria itu menangis sejadi-jadinya tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun.
Setelah puas menangis, pria itu menatap wajah Gracia yang begitu pucat, ia membelai wajah itu sambil tersenyum dengan air mata yang mengalir tanpa henti.
...🌾🌾🌾🌾🌾🌾...
...TBC...
Assalamualaikum Readersku sayang
Othor update dikit yang baca takut mabok soalnya 🤭
Terima kasih untuk kalian yang sangat teliti dalam baca karya Othor yang banyak Typonya🙈
Berkat kalian Othor bisa Revisi ulang Thank you 😍