
"Din, kapan kau akan kembali ke Paris?" tanya Ryan. Sambil menyeruput kopi buatan Dinda.
"Secepatnya!" ucap gadis itu.
"Apa tidak terlalu cepat?" tanya Ryan lagi.
"Tidak! Aku akan melupakan segalanya tentang dia Yan, sudah cukup aku berusaha selama ini!" ucap Dinda.
"Apa yang membuatmu menyerah? Biasanya kau akan tetap bertahan meskipun dia menolakmu berkali-kali." Ryan menatap sepupunya aneh, karena sikap Dinda berbeda dari biasanya.
"Aku hanya lelah," ucap Dinda tersenyum sendu.
"Tumben, biasanya hatimu sekuat baja, aku nggak percaya bahwa yang di hadapanku sekarang ini adalah sepupuku Dwita Adinda lestari," ucap Ryan tersenyum mengejek.
"Kenapa sih Yan, cinta begitu menyakitkan? Apa cuma aku yang merasakannya? Aku sudah nggak kuat membawa perasaan ini Yan," ucap Dinda menundukkan kepalanya.
Akhirnya pertahanan Dinda runtuh di hadapan Ryan, gadis itu menunduk sambil menangis tersedu. Dinda menyalurkan kesedihannya yang sudah lama terpendam.
Ryan terkejut dengan perubahan sikap Dinda, biasanya gadis itu ceria dan ia juga pertama kalinya melihat Dinda menangis di depan seseorang.
Ryan bangun dari tempat duduknya untuk menghampiri Dinda, pria itu duduk di samping Dinda lalu memeluknya erat.
"Kau kenapa? Please cerita ke aku! Tidak bisanya kau seperti ini!" ucap Ryan.
Dinda menggelengkan kepalanya sembari menenggelamkan wajahnya pada pelukan pria itu. Ia butuh sandaran untuk meluapkan segala ke gundahan hatinya. Namun, ia bingung harus berbagi pada siapa?
"Kenapa? Apakah kau masih tidak percaya padaku? Ceritalah agar hatimu sedikit lega!" ucap Ryan. Gadis itu menggelengkan kepalanya kembali.
"Jangan membuatku khawatir! Ada apa sebenarnya denganmu?" tanya Ryan.
"Aku nggak apa-apa Yan, aku hanya ingin menangis saja! Aku hanya sedih karena aku akan meninggalkan negara ini dengan waktu yang tidak ditentukan." Dinda memaksakan senyumannya.
"Apa kau yakin hanya itu alasannya?" tanya Ryan. Pria itu menatap Dinda dengan penuh pertanyaan.
Drtttt... drttt... drttt...
Suara ponsel Pria itu bergetar, Ryan mengangkat ponselnya. Di detik berikutnya, ia menjatuhkan ponsel tersebut karena terkejut mendengar kabar dari orang yang menghubunginya.
"Apa?" ucap Ryan.
Dinda bingung, ia mendekati Ryan lalu menanyakan apa yang terjadi karena ia melihat wajah Ryan yang begitu syok.
"Ada apa?" tanya Dinda.
"Tuan Brian kecelakaan! Aku harus segera ke rumah sakit," ucap Ryan.
"Aku ikut," ucap Dinda.
"Ya udah, Ayo!" Ryan menarik pergelangan tangan Dinda. Gadis itupun mengikuti langkahnya.
Sesampainya di rumah sakit, Dinda terkejut melihat tunangan orang yang dicintainya itu berada di sana juga dengan wajah yang begitu sedih.
"Mbak Cia," ucap Dinda.
Gracia menoleh, ia menatap orang yang memanggilnya, ia mencoba mengingat siapa orang yang memanggil namanya tersebut, lalu ia tersenyum saat mengingat orang yang memanggilnya itu, Gracia menatap kedatangan Dinda bersama Ryan.
"Hai Din!" ucap Gracia.
"Hai," ucap Dinda.
"Kamu kenal Ryan dan mantan suamiku juga?" tanya Gracia.
"Jadi kau mantan istri Mas Brian? Lalu sekarang pindah tunangan sama Mas Anton?" tanya Dinda.
Gracia menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum malu. Ia merasa risih dengan pertanyaan Dinda meskipun itu adalah kenyataan.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Beberapa hari Kemudian
Brian masih betah memejamkan matanya, ia tak kunjung sadar dan Gracia pun dengan setia menunggu pria itu di sampingnya.
"Mas, sampai kapan kau akan terus begini? Apakah kau tidak mau melihat kita lagi, maafkan aku Mas karena telah memberimu luka!" ucap Gracia.
"Cepatlah bangun! Jangan biarkan aku dan David menunggumu terlalu lama!" Gracia menatap Brian dengan air mata yang terus mengalir.
"Jika kau memang mencintaiku, maka buktikanlah! Berjuanglah untuk kami Mas! Bangun Mas, Bangun!" Gracia menangis di samping pria itu. Ia sudah tidak tahan melihat Brian lemah tidak berdaya.
"Kenapa Mas Brian diam saja! Apa memang aku tidak benar-benar berarti bagimu! Ayo buktikanlah! Buktikan!" Gracia terus menangisi pria itu karena sama sekali ia tidak menemukan perubahan dalam kondisinya.
Namun, Gracia menghentikan tangisnya, setelah melihat mata Brian yang terpejam mengeluarkan cairan bening dan menetes tanpa hentinya.
"Mas Brian, mendengarku?" Gracia tersenyum senang dengan air mata yang terus membanjiri pipinya.
"Ayo buktikanlah Mas! Buktikan jika kau mencintaiku, jika tidak! Maka selamanya aku akan pergi dari hidupmu dan aku akan membawa David bersamaku. Aku akan pastikan kau tidak akan bisa menemukan kami lagi," ucap Gracia.
Wanita itu tersenyum sambil menangis lalu menenggelamkan wajahnya pada tangan yang bertumpu pada ranjang pasien. Gracia nangis sampai sesegukan.
"Mas Brian bangunlah!" ucap Gracia terus menerus. Gracia berhenti menangis ketika merasakan rambutnya dibelai oleh seseorang. Ia menatap orang yang membelai rambutnya yang sedang tersenyum sambil menatap ke arahnya.
"Mas Brian," Gracia reflek memeluk tubuh Brian yang masih lemah, wanita itu semakin mengencangkan tangisannya karena tidak bisa menggambarkan rasa bahagianya melihat orang yang dicintainya kini kembali sadar.
"Terima kasih, Mas! Sebentar aku mau panggil Dokter dulu!" ucap Gracia berbinar.
Wanita itu berdiri. Namun, Brian memegang pergelangan tangan Gracia hingga perempuan itu duduk kembali.
"Kenapa?" tanya Gracia tersenyum.
Brian tidak menjawabnya, pria itu hanya tersenyum sambil menatap wanita itu. Sedangkan Gracia salah tingkah ditatap Brian dengan sangat intens.
"Tidurlah Mas! Aku akan tetap menunggumu di sini," ucap Gracia tersenyum.
......❤️❤️❤️❤️❤️......
🌿🌿🌿Jika hujan adalah sebuah keromantisan, kapan aku akan merasakannya? Aku selalu merasa sedih ketika melihat hujan, karena hujan mengingatkanku pada kepedihan yang pernah ku alami.
Hujan bisa memenangkan hati dan pikiran, tetapi hujan bagiku adalah kesunyian saat dia tak berada di sampingku 🌿🌿🌿
Dinda menatap hujan yang mengalir deras di luar mansionnya, ia kini tinggal di kota Paris dan kembali ke negaranya karena ia sudah bertekad untuk benar-benar menjauh dari orang yang dicintainya itu.
Dinda menangis, menghadapi suatu kenyataan bahwa dirinya kini telah mengandung dari hasil cinta satu malam itu. Ia tidak tau harus melakukan apa? Yang jelas ia tidak mungkin meminta pertanggung jawaban pada pria tersebut. Karena, ia memberikan kehormatannya dengan suka rela tanpa paksaan dari pria itu.
"Kenapa? Kenapa harus begini? Aku begitu hina sekarang! Aku akan kemana setelah ini?" Dinda menangis di kamarnya ditemani hujan juga angin yang tertiup kencang, Dinda memegang dadanya yang teras sesak, ia se akan tidak mampu menanggung semuanya sendiri. tetapi pada siapakah ia harus mengadu? Karena ia hanya mempunyai ibu, sedangkan ayahnya sudah meninggal sejak ia berusia 5 tahun.
"Aku ingin kau mencintaiku Mas seperti kau mencintainya, apakah aku salah jika aku mengharapkan cintamu? Kenapa kau tak pernah memandangku sedikitpun?" ucap Dinda menangis tersedu. Dinda merasa kehilangan arah, setelah mengetahui bahwa dirinya kini telah berbadan dua.
...💋💋💋💋💋...
...TBC...