
Ke esokan harinya.
Dinda mengerjapkan mata karena silau mentari yang menerobos melalui celah jendela kamar itu, Dinda menoleh ke samping untuk melihat suaminya yang tadi malam tidur memeluk dirinya erat. Namun, ternyata orang yang Dinda cari sudah tidak ada di sisinya, kemudian Dinda melihat jam Dinding yang menunjukkan jam 09.00. Wanita itu tentunya terkejut. Namun, keterkejutan itu berubah kesedihan saat ia menyadari bahwa Anton tidak membangunkannya apalagi berpamitan.
Akhirnya Dinda memutuskan untuk mandi, tetapi saat ia menoleh, ia melihat nampan di atas nakas, Dinda tidak heran lagi dengan perhatian pria itu karena dibalik sikapnya yang dingin Anton adalah tipe orang yang perhatian. Anton sudah menyiapkan susu dan sarapan untuk istrinya itu sebelum ia bangun. Dinda mengambil nampan tersebut lalu melihat secarik kertas yang berisi pesan darinya.
..."Maaf, aku berangkat tanpa pamit, aku tidak tega membangunkanmu yang sepertinya kelelahan, jangan terlalu capek dan hubungi aku jika ada yang kau butuhkan! 0863827xxx"...
Dinda menerbitkan senyumnya setelah membaca pesan dari Anton, ternyata ia salah sangka pada Anton karena dia pikir Anton mengabaikannya.
"Apakah memang benar aku satu-satunya istri Mas Anton? Jika memang benar, berarti Mas Anton tidak jadi menikah dengan Mbak Gracia. Aku harus menghubungi Ryan untuk mencari tahu segalanya," gumam Dinda.
Dinda mengambil ponselnya, lalu duduk di sofa kamar itu untuk menghubungi Ryan sepupunya yang menjadi asisten Brian.
Dinda menghubungi Ryan untuk menghilangkan rasa penasaran dan curiga pada Anton, ia tidak ingin berlarut dalam kesedihan yang tidak tahu pastinya.
Tidak lama kemudian, Ryan mengangkat panggilan dari wanita itu dan menjawab pertanyaannya. Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, Dinda mengakhiri panggilannya.
Dinda sudah mengetahui segalanya tentang Anton, ia juga prihatin atas apa yang di alami suaminya itu.
"Entah aku harus sedih atau senang sekarang setelah mengetahui semuanya, tetapi seandainya kau tidak membatalkan pernikahanmu, pasti anakku tidak akan mendapatkan status dari daddynya." Dinda memaksakan senyum dan tatapannya menjadi kosong.
"Kau sangat mencintai Gracia, bisakah kau mencintaiku sama seperti padanya?" Dinda bermonolog.
Tidak terasa air matanya menetes, ia merasa terluka karena ia cemburu pada Gracia yang bisa mengambil hati Anton dalam jangka yang tidak terlalu lama, sedangkan ia berjuang untuk mendapatkan hati pria itu lebih dulu dari pada Gracia. Namun, ia tidak mendapatkan secuil pun dari pria itu.
"Kenapa? Kenapa harus Gracia yang kau cintai, kenapa bukan aku yang menunggu cintamu bertahun-tahun. Apakah sehina itu aku di matamu Mas!" teriak Dinda di dalam kamar itu. Dinda menangis untuk membuatnya lega karena ia sudah tidak kuat menahan beban tersebut.
Setelah puas menangis, Dinda pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia mengguyur tubuhnya dengan air untuk menghilangkan segala kesedihannya.
"Tidak! Aku tidak boleh kayak gini lagi! Aku bukan tipe orang cengeng, sekarang Mas Anton milikku jadi aku bebas melakukan apapun padanya, terserah jika dia menganggapku murahan, aku akan membuatnya menyentuhku dalam keadaan sadar hingga ia tidak bisa lepas lagi dariku!" Dinda menyeringai.
"Sekarang kau sudah menjadi milikku Mas, maka selamanya aku tidak akan melepaskanmu, jika aku tidak bisa membuatmu jatuh cinta padaku tanpa paksaan, maka sekarang aku akan memaksamu untuk mencintaiku!"
"Aku melakukan ini semua karena aku terlalu mencintaimu Mas, sangat mencintaimu. Tidak akan kubiarkan kau pergi meninggalkanku sampai kapanpun, kau milikku dan selamanya akan tetap begitu," ucap Dinda dibawah guyuran shower yang membasahi tubuhnya.
Wanita itu menangis sambil tertawa untuk membuang segala sesak yang ada dalam dirinya.
......❤️❤️❤️❤️❤️......
Di sebuah ruangan Anton sedang fokus bekerja, tetapi kini pintu ruangannya didobrak oleh seseorang karena kekesalan yang di rasakannya.
Maudy melangkah mendekati meja Anton, lalu menggebrak meja pria itu, dan seketika Anton menghentikan pekerjaannya, lalu menatap Maudy tajam.
"Kenapa Om George membatalkan pernikahan kita? Apa ini ada hubungannya dengan ja-lang itu?" tanya Maudy dengan wajah yang memerah karena kemarahan.
"Siapa yang kau maksud ja-lang?" tanya Anton mengerutkan keningnya.
"Siapa lagi kalau bukan Gracia, dia sudah mengambil Brian dariku dan sekarang kau mau meninggalkanku demi dia juga?" tanya Maudy menahan emosinya.
"Ingat! Dia sudah menikah dengan Brian, jangan sampai kau tergoda juga. Aku mohon kembalilah padaku, jangan batalkan acara pertunangan kita," ucap Maudy dengan air mata buayanya.
"Cih! Kau pikir aku akan kasian melihatmu memelas kayak gitu? Ingat! aku bukan Brian, aku tidak akan tertipu dengan air mata buayamu. Jika kau pikir aku akan kasihan melihatmu kayak gitu, kau salah besar Maudy, aku sudah mengenalmu sejak lama!" Anton tersenyum sinis.
Anton malah tertawa dengan tamparan wanita itu, ia menatap Maudy yang sedang berdiri menahan kekesalan.
"Dasar Dokter sesat sialan!" umpat Maudy. Wanita itu tidak lagi berpura-pura karena ia sudah menyerah, dengan sifat dingin Anton. Maudy meyakini bahwa pria itu sangat sulit ditaklukkan hingga ia memilih mundur.
"Nah, keluarkan sifat aslimu di depanku! Aku tidak akan mempan dengan rayuan mautmu itu," ucap Anton.
"Akan kupastikan kau akan menyesal Anton," ucap Maudy. Wanita itu melengos, lalu pergi dari ruangan pria itu.
Anton hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap aneh Maudy, ia memanggil OB untuk membersihkan ruangannya yang berantakan karena ulah Maudy.
Tak lama kemudian, George datang untuk menemui putranya itu. Mereka duduk bersebrangan sambil memikirkan rencana yang terbaik untuk menangkap dalang dari segala kekacauan di keluarganya.
"Nanti malam kau langsung ajak Dinda ke mansion! Daddy tidak menerima alasan apapun lagi, besok rencana kita harus dijalankan daddy penasaran apa yang menyebabkan dia lebih memilih menjadi penghianat dari pada menjadi kepercayaanku," ucap George.
"Seperti janji Daddy, Daddy harus menjaga istriku! Jika sampai terjadi sesuatu pada istriku, maka aku tidak akan memaafkan Daddy," ucap Anton.
"Kau masih belum percaya sama daddy?" tanya George.
"Aku hanya khawatir karena istriku sedang hamil," ucap Anton menatap George penuh keraguan.
"Jika kau masih belum yakin, kau bisa menjaga istrimu juga tanpa di curigai siapapun," ucap George.
"Caranya?" tanya Anton.
George membisikkan sesuatu pada Anton, dan pada akhirnya Anton menyetujui rencana George untuk membawa Dinda pulang ke mansion.
"Sampai jumpa nanti malam!" ucap George. Pria paruh baya itu berdiri, lalu meninggalkan ruangan tersebut.
...... 💋💋💋💋💋......
...TBC...
Assalamualaikum Readersku sayang
Hola... selamat sore ❤️
Othor Update lagi sebagai gantinya yang kemaren Karena bolong. Juga berkat kalian yang selalu menyemangati Othor ❤️
Untuk Readers 'Tasbih Cinta' Insya Allah update nanti malam 🥰
Thank you 😍
Jangan lupa jejaknya like, komen and Vote jika berkenan
Thank you
Thank you
Thank you 😍