Cintai Aku Walau Sejenak

Cintai Aku Walau Sejenak
Kecewa


"Assalamu'alaikum, selamat pagi Tante," ucap Anton setelah Pradita membuka pintu mansion.


Pria itu sengaja datang pagi untuk mengajak Gracia jalan. Ia sudah rapi dengan kemeja davy dengan celana hitamnya tak lupa juga jas putih kebanggaannya yang ia pegang di tangannya.


"Dokter Anton," ucap Pradita tersenyum.


"Mari silahkan masuk Dok!" ucap Pradita.


"Terima kasih Tante," jawab Anton tersenyum.


Pradita melangkah menuju ruang tamu yang diikuti oleh Anton dibelakangnya.


"Silahkan duduk Dok! Saya buatin minuman dulu, sekalian manggil Gracia. Dokter mau minum apa?" tanya Pradita.


"Terserah Tante saja," Anton tersenyum lembut.


"Baiklah, tunggu sebentar ya Dok!" ucap Pradita.


"Baik Tante, maaf merepotkan," ucap Anton.


"Tidak sama sekali." Pradita melangkah meninggalkan Anton yang sedang menunggu Gracia di ruang tamu.


Wanita baruh baya itu mengayunkan langkahnya terlebih dahulu ke kamar putrinya. Namun, sebelum sampai di kamar Gracia, ia berpapasan dengan David cucu kesayangannya di depan pintu kamar Gracia.


"Hai..., selamat pagi sayang, David sudah bangun?" tanya Pradita. Bocah kecil itu menganggukkan kepalanya.


"Grandma, David mau mandi," ucap David.


"David mandi sama grandma saja! Tapi grandma panggil mommy dulu, soalnya di bawah ada tamu," ucap Pradita.


"Baik, Grandma. David ke kamar dulu, David mau mandi sendiri aja, cuma David nggak tau nyiapin baju ganti," ucap David polos.


"Emangnya David udah bisa mandi sendiri?" tanya Pradita.


"Bisa dong Grandma, David kan sudah besar," ucap David membanggakan dirinya.


"Ya udah, sana sayang! Grandma cuma mau panggil mommy sebentar.


"Cepetan ya Grandma!"


"Iya sayang," jawab Pradita tersenyum.


Bocah kecil itu lari dan kembali lagi ke kamarnya. Sedangkan Pradita memandang David sembari tersenyum, lalu memanggil Garacia.


"Ada Mom?" tanya Gracia setelah membuka pintunya. Wanita itu sudah selesai mandi, ia tersenyum dengan wajah yang masih tampak lesu. Gracia hampir tidak tidur semalaman karena memikirkan Brian juga Anton, ia masih mencintai Brian. Namun, ia juga tidak mau menyakiti orang yang telah membantunya bertahun-tahun.


"Di bawah ada dokter Anton, buatkan dia minum lalu temui dia! Mommy mau nyiapin baju ganti David," ucap Pradita.


"Baik Mom," ucap Gracia.


Setelah memanggil Putrinya, wanita paruh baya itu mengayunkan langkahnya menuju kamar cucu kesayangannya. Sedangkan Gracia menutup pintunya lalu melangkah menuju dapur untuk membuatkan Anton minum.


......❤️❤️❤️❤️❤️......


Perusahaan Galaxy corp.


Brian duduk di kursi kebesarannya sembari menatap layar laptop.


Tok tok tok


"Masuk!" perintah Brian.


Ryan masuk lalu berdiri menghadap Anton di sebrang meja kerjanya.


"Ada apa?" tanya Brian datar.


"Tuan, nona Gracia sudah kembali. Apakah Anda ingin menemuinya?" tanya Ryan. Pria itu menundukkan kepalanya.


Seketika wajah Brian berbinar lalu menatap Ryan dengan wajah bahagianya.


"Benarkah apa yang kau ucapkan Ryan?" tanya Brian. Pria itu langsung beranjak ingin segera menemui Gracia. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Ryan yang selanjutnya.


"Nona Gracia sudah mempunyai anak Tuan," ucap Ryan.


Jedduarrr...


"Apa maksudmu?" tanya Brian.


"Kemungkinan nona Gracia sudah menikah lagi saat menghilang," ucap Ryan.


Deg.


Brian kembali melangkah lalu duduk di kursi kebesarannya. Pria itu kecewa dengan kabar yang ia dengar, ia berharap Gracia kembali dengan statusnya yang masih menjadi istri Brian. Namun, kenyataan yang ia dapatkan membuatnya lebih terluka lagi.


"Apakah kau yakin dengan kabar yang kau sampaikan padaku?" tanya Brian. Pria itu menatap Ryan tajam.


"Aku tidak tahu pastinya Tuan, tetapi itu informasi yang ku dapat dari anak buah kita, bahwa nona Gracia kembali dengan anak kecil yang dibawanya," ucap Ryan.


"Kenapa mereka bisa yakin bahwa anak itu adalah anaknya Gracia?" tanya Anton.


"Yakin Tuan, karena anak buah kita mengikuti nona Gracia dari bandara Sampai ke mansion," ucap Ryan.


"Baiklah, sekarang tinggalkan aku sendiri! Aku tidak mau diganggu siapapun. Jadi, halangi siapa saja yang datang untuk menemuiku!" ucap Brian datar.


"Baik Tuan," Brian membungkuk lalu berbalik. Ia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.


Setelah Ryan menutup pintunya, ia berteriak sekencang-kencangnya. Ruangan itu kedap suara hingga tidak ada seorangpun yang dapat mendengar teriakan Brian.


Arghhh...


Brian memecahkan barang-barang yang ada dalam ruangannya itu, ia berteriak histeris. Brian tidak terima Gracia menikah kembali karena baginya Gracia masih miliknya. Sebab Brian tidak pernah menandatangani surat cerai itu.


"Kenapa kau tega melakukan ini padaku Grac?


Kenapa kau tidak mendengarkan penjelasanku dulu? Kenapa kau tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan semuanya?"


Brian menangis sambil duduk di dekat meja kerjanya, ia menyandarkan kepalanya pada meja tersebut, Pria itu duduk selonjoran dengan penampilan yang sudah acak acakan, begitu pun dengan ruangannya.


"Aku selalu menunggumu untuk kembali, tetapi bukan dengan status yang berbeda. Aku ingin kita hidup bersama, tapi kenapa kau malah lebih memilih hidup bersama orang lain Grac," teriak Brian.


Brian terus menangisi Gracia sampai pintu ruangannya terbuka dan menampilkan Silvia yang shock melihat keadaan Brian yang sedang kacau. Silvia lari lalu memeluk kepala Brian, Wanita paruh baya itu menyandarkan kepala Brian pada dekapannya.


"Aku sudah terlambat Mom, aku sudah kehilangannya, kenapa dia nggak memberikan kesempatan untukku? Dulu aku memang salah karena berbohong padanya, tetapi yang ku lakukan semua itu agar dia tidak khawatir dan cemburu. Namun, hasilnya apa? Dia mengetahui semuanya dan dia pergi begitu saja tanpa menuntut jawaban yang benar dariku," ucap Brian dengan tangisan pilu.


"Pada saat itu dia hanya salah faham, aku tidak menghianatinya, aku berbohong padanya agar dia tidak terluka Mom." Brian menganis dalam pelukan Silvia.


"Sedangkan malam itu, aku memang pergi untuk menemui Maudy karena demamnya tinggi dan terus mengigau namaku," ucap Brian. Sedangkan Silvia hanya mendengar curahan hati Brian yang selama Ini ia pendam.


Silvia semakin memeluk kepala Brian erat, karena pria itu terisak. Ia tak dapat membendung kesedihannya.


"Brian sayang, kamu yang sabar ya Nak! Aku yakin Gracia akan luluh akan kebaikanmu suatu saat nanti. "ucap Silvia.


Brian hanya menganggukkan kepala, ia tak mampu bicara lagi, rasa sesak di dadanya terus menjalar seakan menghantam jantungnya. Sedangkan Silvia hanya mendengar curhatan hati Brian. Silvia berdiri dari tempat itu, lalu menatap pria itu dengan wajah sendunya.


"Ya sudah, bangun!" ucap Sivia,


Brian masih betah dengan posisi duduknya, ia tak juga beranjak, hingga Silvia menariknya dan memaksa Brian untuk berdiri.


"Ayo!" ucap Silvia .


Brian berdiri lalu menghapus air matanya, karena ia tidak mau terlihat lemah di depan orang lain. Brian melangkah, lalu diikuti Silvia yang mengekor di belakangnya.


...💋💋💋💋💋...


...TBC...


Assalamualaikum Readersku sayang 😍


Jangan lupa jejaknya


Sambil nunggu karya Othor Update


kunjungi karya temen Othor yuk!


Karyanya keren banget lho 😍