Cinta Si Bule

Cinta Si Bule
Merasa dibodohi


Jhon duduk di balkon umum hotel yang tak jauh dari kamarnya dan kamar Grace. Ia sengaja menunggu wanita itu datang untuk berbicara empat mata.


Jhon menyangga kedua tangannya di pagar sembari menikmati pemandangan kota Malioboro Jogja. Ia sengaja memilih hotel yang dekat dari kota itu.


“Jhon.”


Panggilan itu membuat tubuh Jhon berbalik. Ia melihat Grace yang langsung menarik kursi dan duduk. Jhon pun mengikuti. Mereka duduk berhadapan.


“Michelle sudah tidur?”


Grace mengangguk. “Ya, sudah. Sepertinya dia sangat lelah, tapi aku bahagia karena dia terus bercerita sebelum tidur tadi.”


Jhon ikut tersenyum kecil. Ia juga bisa melihat kebahagiaan Michelle sepanjang perjalanan dan ia pun cukup bahagia melihat senyum anak malang itu terbit. Jhon yang memiliki hati lembut dan perasa, sangat prihatin saat melihat keadaan Michelle ketika drop. Sehingga ia tak mampu untuk memikirkan kebehagiaan dirinya sendiri dan kehilangan Tina saat ini.


“Ada apa? Ada yang ingin kamu bicarakan?” tanya Grace dengan menatap Jhon.


“Ya. Ini tentang kita dan tentang keinginan Michelle.”


“Aku tahu, kamu tidak bisa memenuhi keinginan putrimu kan? Apa karena wanita itu? Bukankah dia sudah pergi?”


Jhon menarik nafasnya kasar.


“Apa sudah tidak cinta lagi dihatimu untukku Jhon? Semudah itu kamu melupakanku?” Grace kembali bertanya, kini dengan intonasi yang sedikit menekan.


“Lima tahun, Grace. Lima tahun bukan waktu yang sebentar,” jawab Jhon.


‘Ya, tapi kalian sudah berpacaran lebih dari dua tahun kan? Kamu hanya butuh dua tahun untuk melupakanku dan menggantikan orang lain.”


“Sekarang kamu menyalahkanku atas semua yang terjadi?” Jhon balik bertanya dengan nada kesal.


“Kamu pergi begitu saja, membuatku patah hati dan di saat aku sudah menemukan seseorang yang menyembuhkan hatiku, kamu datang membawa Michelle dengan keadaan kesehatannya yang buruk. Kamu bisa bayangkan bagaimana menjadi aku?”


Jhon sungguh kesal. Ia pun mengeluarkan semua kekesalan yang ada di hatinya pada Grace. Padahal sebelum kedatangan wanita ini dan anak kecil yang ia bilang adalah putrinya, Jhon sudah menyiapkan lamaran untuk sang pujaan hati.


Grace menunduk. Ia mengaku salah. “Maaf Jhon, saat aku dinyatakan hamil, aku panik. Aku bingung harus berbuat apa. oleh karena itu aku memilih pulang ke Australia.”


“Lalu, setelah lima tahun, kamu kembali ke Singapore dan mencariku hingga ke sini?”


Grace mengangkat kepalanya dan menatap Jhon. “ I’m sorry, Jhon. Sungguh, aku masih sangat mencintaimu.”


“Ck.” Jhon menghempaskan tubuhnya ke punggung kursi dan memalingkan pandangan ke segara arah.


“Aku tahu, Tina adalah wanita yang baik. Dia memilih pergi demi kebahagiaan Michelle, putrimu.”


Perkataan Grace, membuat Jhon kembali menatap wanita yang duduk di hadapannya. “Ya, dia wanita yang baik, sangat baik. Dan aku laki – laki bodoh, jika membiarkan wanita sebaik itu pergi.”


Jhon memajukan tubuhnya dan bertumpu pada meja. “Grace, aku sudah bertanggung jawab pada Michelle. Keadaannya sudah jauh lebih baik. Aku mohon padamu, kembalilah ke Australia. Kembali ke rumahmu dan aku akan mengejar cintaku.”


Grace terkejut. ia menganga mendengar penuturan Jhon. “Kamu tidak akan mewujudkan permintaan Michelle? Dia ingin kita menikah Jhon. Dia ingin melihat kedua orang tuanya bersatu.”


Jhon menggeleng. “Maaf, Grcae. Aku tidak bisa.”


“Tapi kamu sudah berjanji di rumah sakit waktu itu. Michelle akan terus menagih janjimu,” ucap Grace.


“Aku akan memberinya pengertian.”


Keapal Grace kembali menggeleng. Tidak, ia tidak bisa melepas Jhon. Sejauh ini ia sudah hampir menang dan membuat Tina pergi. Demi kebahagiaan sang putri yang menginginkan kelengkapan orang tua, ia pun terpaksa melakukan ini, walau ia tahu dihati Jhon tak lagi tersemat namanya.


“Sebegitu cintanya kamu pada wanita itu, Jhon?” tanya Grace sedih.


“Ya, aku sangat mencintainya,” jawab Jhon. “Kepergiannya membawa separuh jiwaku, Grace. Kamu lihat bagaimana aku sekarang kan? Apa kamu tega melihatku seperti ini?”


Grace pun diam. Sepertinya ia sudah kalah telak. Pernyataan dan pertanyaan Jhon tadi cukup menyayat hatinya. Sungguh, ia masih menyimpan rasa itu pada Jhon.


****


Arafah mengetuk – ngetuk pintu kamar adiknya sembari berteriak. Malam ini, ia masih bermalam di rumah kedua orang tuanya, sekalian menemani sang adik karena perjalanan kedua orang tuanya ke Jombang untuk melayat juga butuh untuk bermalam.


Tina mengucek mata. ia melihat jam dinding yang menunjukkan waktu lima belas meni menjelang subuh.


“Ayo ke masjid, Dek! Kita subuh berjamaah.” Arafah kembali berteriak.


Tina segera bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu kamar. “Hoam, Mbak udah rapih?”


Mata Arafah membulat melihat penampilan sang adik tanpa hijab dan baju tangtop, juga rambut yang acak – acakan. Tina tampak sangat sexy.


Arafah mendorong tubuh Tina ke dalam kamar dan langsung menutup kamar itu. “Kamu, Dek. Kalau berpakaian yang bener.”


“Aku memakai ini hanya saat tidur, Mbak. Cuma di dalam kamar aja,” sanggah Tina.


“Iya, tapi kan di luar ada Mas Alif.” Arafah kembali memperingatkan sang adik.


“Iya, Mabk. Kalau keluar kaamr pasti aku ganti baju.” Tina mengerutkan bibir dan mengambil gamisnya.


Arafah memperhatikan lekuk tubuh indah itu dan berkata, “Pantes aja si bule itu tergila – gila sama kamu, lah wong adik Mbak sexy begini.”


Tina menoleh dan mencibir. “Apa sih? Mbak nih.”


Arafah pun tertawa dan menunggu sang adik berpakaian rapih, lalu jalan bersama menuju masjid.


Usai berwudhu, Arafah dan Tina mengisih shaf.


“Imam subuhnya Mas Al, Mbak?” tanya Tina.


“Ciye … ngarep dia yang jadi imam ya?” Arafah balik bertanya sembari meledek.


“Dih, apa sih? Bira cuma tanya. Kalau bukan dia, ya nda apa – apa.”


“Masa?”


“Tau ah,” jawab Tina kesal.


Arafah dan sang adik hanya berselisih usia dua tahun. Mereka sangat dekat, bahkan sejak kecil hingga dewasa, mereka masih tidur satu kamar. Namun, mereka terpisah kamar setelah Arafah menikah. Kamar yang ditempati Tina itu pun menjadi kamar pribadinya sendiri.


Usai melaksanakan solat subuh, Tina membantu sang kakak memasak untuk bekal perjalanan ke Jogja. Rencananya, mereka akan berangkat pagi – pagi.


Di Jogja, Jhon sudah bangun pagi – pagi sekali. Tak lupa ia sempatkan untuk berolahraga. Jhon berlari di sekitar area hotel. setelah satu jam mengitari area luar hotel dan melihat aktifitas Malioboro di pagi hari, Jhon pun kembali ke hotel.


“Grace. Apa Michelle juga sudah bangun?”


Suara Jhon mengagetkan Grace yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya dan hendak mengambil kartu yang ia simpan di dompet. Sepertinya, Grace juga keluar hotel pagi – pagi dan meninggalkan Michelle di dalam kamar, karena terlihat wanita itu membawa sesuatu ditangannya.


“Eh. Jhon.” Grace menoleh ke arah Jhon yang sedang menyapa dan .. “Ups!”


Gerakan tangan Grace yang terlalu cepat saat membuka dompet itu membuat beberapa isinya terjatuh.


Jhon pun menatap benda yang terjatuh itu. Ada tiga benda yang terjatuh, dua ATM dan satu foto kecil. Arah matanya tertuju pada foto itu.


Jhon berjongkok dan mengambil foto yang terjatuh. Lalu, kembali berdiri. Di depan Jhon, wajah Grace terlihat memucat.


Jhon mengernyitkan dahi, menatap foto yang mencetak wajah Grace bersama bayi yang kemungkinan adalah Michelle saat bayi dan satu pria yang berwajah mirip dengannya. Pria itu merangkul bahu Grace yang sedang menggendong Michelle.


Jhon pun tertawa kecil. Ia baru tahu bahwa selama ini, ia dibodohi. “Apa orang yang ada di foto ini adalah Jhonny, kembaranku?”


Deg


Wajah Grace benar – benar pucat.