Cinta Si Bule

Cinta Si Bule
Semoga kamu bahagia


"Morning, Sir.”


“Morning.”


“Hai, Sir.”


Jhon tersenyum dan mengangguk, menanggapi sapaan dari para bawahannya. “Morning.”


Cukup lama Jhon meninggalkan pekerjaan hanya karena Tina, seorang sekretaris bar bar yang ternyata adalah anak kiyai besar. Sejak tiba di Jakarta, Jhon langsung disibukkan oleh pekerjaannya yang tertunda. Ternyata sepeninggal dirinya selama ini, pekerjaan tidak benar – benar selesai. Hal itu yang akhirnya menjadi masalah sekarang. Jhon pun merasa sangat bersalah pada Alex.


Jhon kembali menjadi pria penggila kerja. Luka dan kecewa itu, ia tumpahkan ke dalam pekerjaan dan seuntai doa.


Ada yang berbeda dengan Jhon sekarang. Jika dahulu, ia akan bekerja tak kenal waktu walau di hari sabtu dan minggu. Kini, Jhon bisa membagi waktu antara kewajiban fisik dan jiwanya. Antara kewajiban bertanggung jawab pada orang lain dan kepada dirinya sendiri. DI hari Sabtu Minggu, ia masih menimba ilmu dengan Utadz Abdullah. Jika di hari sabtu ia tetap mengikuti talaqqi, di hari minggunya ia akan mengikuti kajian Ustadz yang terkenal tawadu itu.


“Saya kira, hari ini kamu tidak hadir, Jhon,” ucap Abdullah.


Lamaran Tina diundur satu minggu kemudian, karena Fatimah sakit. Dan rencananya besok Minggu, Tina dan Al akan menggelar lamaran besar – besaran sekaligus seserahan, mengingat waktu antara lamaran dan pernikahan hanya berjarak dua minggu.


“Entahlah, Ustadz. Saya pikir, saya kuat untuk bisa hadir, tapi nyatanya saya tidak sekuat itu,” jawab Jhon.


Ustadz Abdullah tersenyum.


“Kemarin, mendengar kabar bahwa lamaran Tina ditunda, hati saya senang. Tapi ternyata disitulah letak salahnya saya. Ternyata saya belum ikhlas sepenuhnya.”


Ustadz Abdullah menepuk bahu Jhon. “Itu proses, Jhon. Semua memang butuh proses. Kita sampai di titik ini pun ada proses, bukan? Jadi biarlah proses itu yang akan membuatmu ikhlas.”


Jhon mengangguk. “Terima kasih, Ustadz.”


“Sama – sama.” Abdullah mengangguk. “Jika kamu berubah pikiran dan hatimu sudah sedikit membaik, datanglah ke sini nanti sore. Saya akan berangkat sore ini ke Magelang, kebetulan ada santri yang ingin mengantar.”


Jhon mengangguk. “InsyaAllah.”


Abdullah kembali tersenyum. Sesi talaqqi hari ini selesai dan besok Minggu, Utadz Abdullah sengaja mengosongkan waktu untuk hadir di acara Tina dan Al, mengingat acara mereka dalah acara Abdullah juga, karena Abdullah sudah menganggap keluarga Tina dan Al adalah keluarganya.


Usai melaksanakan talaqqi yang kebetulan selalu diadakan di pagi hari, Jhon kembali ke apartemen lagi. Di sana ia merenung, mengambil air minum dan kembali duduk di sofa sambil menatap ke arah dapur.


Jhon tersenyum, mengingat wanita yang sehari – harinya menggunakan dapur itu. hampir setiap pagi dan malam, wanita itu berdiri di sana dan menyiapkan makanan untuknya.


Jhon ingat saat malam anniversary mereka. Tina begitu antusias, pagi – pagi sekali ia ke supermaket untuk membeli bahan makanan. Siang harinya ia memasak bahan – bahan makanan itu. Tak lupa, Tina pun membuat brownies kesukaan Jhon. Sampai tengah malam, Jhon tak kunjung pulang.


Jhon mengusap wajahnya kasar. Ia ingat kebodohannya kala itu. Ia lebih memilih mengantar Michelle dan Grace jalan – jalan, karena saat itu mereka sedang berada di Jakarta dan Michelle kerap merengek untuk minta jalan – jalan. Jhon yang sibuk dan tak memperhatikan ponselnya, baru menyadari setelah membuka benda itu. Ia melihat banyak panggilan telepon yang masuk yang datang dari Tina.


“Ini adalah balasanku atas semua luka yang pernah aku berikan padamu, Tina. Ternyata, menjadi orang yang tidak diprioritaskan itu sangat menyakitkan,” gumam Jhon dalam hati.


Jhon meletakkan gelas itu dan mengambil ponselnya. Ia hendak mendial nomor Abdullah dan ingin ikut bersamanya ke Magelang sore nanti.


Dret … Dret … Dret …


Belum sempat Jhon mendial nomor Abdullah, tiba – tiba sang ibu meneleponnya. Sudah cukup lama, Jhon tidak bertemu sang Ibu. Setelah menikah lagi dengan orang melayu asli dan membawa Jhon ke Singapura, sang ibu kemudian menetap di Penang, meninggalkan dirinya sendiri yang sudah betah di Singapura.


“Halo, Mom.”


“Jhon.” Terdengar suara wanita paruh baya yang melahirkan Jhon menangis.


“Mom, ada apa, Mom?” tanya Jhon panik. “Mommy sakit? Atau Ezra dan Aatiya?”


Jhon menyebut dua adiknya, hasil pernikahan sang ibu dengan suaminya yang sekarang.


“Tidak, Ezra dan Aatiya baik – baik saja. tapi …” Laura menggantungkan perkataannya.


Ya, nama ibu Jhon adalah Lawrence Hasel dan kini menjadi Laura Ibrahim, Laura mengambil nama belakang suaminya yang bernama Yusuf Ibrahim, seorang dokter bedah terkenal di Penang.


“Cepatlah ke sini, Jhon. Sekarang Mommy ada di Australia.”


“Ada apa dengan Daddy, Mom?” tanya Jhon yang kembali panik.


“Cepatlah ke sini!”


“Baiklah, Mom. Jhon akan ke sana.”


Blup


Jhon dan Laura memutuskan sambungan telepon itu. Jhon pun langsung memesan tiket ke Perth. Setelah sekian tahun tak berkunjung ke rumah sang ayah, akhirnya Jhon akan berkunjung ke sana. Ia pun meninggalkan janjinya pada Abdullah yang ingin ikut ke Magelang dan menghadiri acara lamaran Tina, kekasih pujaan yang akan dimiliki oleh orang lain.


Jhon ingat akan janjinya pada Abdullah. Ia pun mengirim pesan tepat saat berada di bandara dan hendak menaiki pesawat.


“Maaf, aku tidak lagi bisa memperjuangkanmu. Semoga kamu bahagia.”


Jhon meng-caption kalimat itu dalam sosial medianya dengan mengunggah kedua tangan yang pernah berpegangan erat. Foto ini, ia ambil ketika tengah melakukan makan malam romantis untuk terakhir kali bersama Tina di sebuah pantai dalam rangka permohonan maaf. ya, permohonan maaf atas insiden malam anniversary mereka yang gagal. Dan, Jhon pun membuat makan malam romantis itu untuk Tina.