
Tok … Tok … Tok …
Tina yang sedang berada di dalam kamar, langsung menoleh saat pintunya diketuk. Pintu itu tidak tertutup sempurna, tapi seseorang dibalik pintu itu tetap menghormati pemilk kamar hingga ia mengetuk terlebih dahulu sebelum dipersilahkan masuk.
“Mbak Arafah.” Mata Tina berbinar, karena yang berdiri di depan pintu kamarnya adalah sang kakak.
“Shabira.”
Tina bangkit dan langsung berlari ke arah sang kakak, lalu memeluknya. Arafah pun menerima pelukan itu dengan senang.
“Maaf, Mbak baru bisa datang ke sini. Mas Alif belum bisa libur, jadi ga ada yang anter Mbak kalau pulang.”
Tina mengangguk. Ia sangat mengerti. “Lagi pula, Mas Alif juga ga bakal ngebiarin Mbak Arafah ke sini sendirian kan? Mas Alif kan bucin banget.”
Arafah tertawa. “ Iya sih.”
Kedua wanita cantik itu tampak tertawa.
“Pas Ummi telepon dan bilang kamu pulang, sebenarnya Mbak udah ga sabar pengen pulang. Mbak kangen banget sama adik Mbak yang bandel ini.” Arafah mencibit pipi sang adik.
“Aaaa … sakit, Mbak.” Tina merengut. Namun justru wajahnya menjadi imut dan menggemaskan.
“Makin cantik aja kamu, Dek. Pasti Di Jakarta perawatan terus ya?” tanya Arafah meledek.
Tina tertawa dan menertawakan hidupnya yang hedon dan glamour saat berada di kota besar itu. Bagaimana tidak? Jhon memberinya kartu no limit yang bisa digunakan Tina kapan pun. Jhon pun tidak pernah mempermasalahkan sebesar apa Tina menggunakan uangnya. Pria itu justru marah jika ia tidak menggunakan kartu yang diberikan.
“Hei, kok malah bengong? Ditanya malah bengong,” kata Arafah yang membuat Tina kembali tersadar dari lamunan dan tersenyum.
Tina menampakkan jejeran gigi rapih dan putih itu. “Di sana banyak kesenangan yang bisa dilakukan, tapi tetap saja rumah sebagai tempat paling tenang.”
Arafah menatap sang adik. “Nah, itu tahu. Tapi kenapa ga pulang – pulang?”
“Takut sama Abi.”
“Tapi buktinya, Abi ga marah kan?” tanya Arafah.
Tina menggeleng.
“Orang tua itu, kalau marah hanya sesaat aja, Ra. Beliau tidak benar – benar marah. Justru Abi yang sangat terlihat kehilanganmu.”
Arafah dan Tina masih berdiri di depan pintu kamar Tina dengan Tina yang juga masih memeluk, bergelayut manja pada sang kakak.
“Kamu tahu, setiap kali Abi minta dibuatkan kopi, pasti sebutnya nama kamu, karena kata Abi kopi buatan kamu yang paling enak.”
Tina tersenyum manja mendengar penuturan sang kakak. Senyum manja itu pun tetap dengan tetesan air mata yang kembali mengalir. Rasanya dada Tina begitu sesak saat mendapati orang – orang yang ia sayangi di sini menuggu kepulangannya.
“Aku nyesel, Mbak. Andai saja aku ga pergi dari rumah, mungki sampai sekarang aku masih menjadi anak baik.”
Arafah melonggarkan pelukan. “Memang sekarang bukan anak baik?”
Arafah menatap sang adik. Namun yang ditatap hanya menggeleng dengan senyum berarti.
“Kamu hutang bercerita sama Mbak. Kamu tahu, Mbak pernah lihat kamu dibioskop dengan pria bule. Apa dia bosmu atau teman kerjamu?”
Deg
Tina terkejut. “Kapan Mbak lihat aku?”
“Di Bali, sekitar satu tahun lalu.”
“Kenapa Mbak ga bilang? Terus kenapa Mbak ga sapa aku?” tanya Tina bertubi – tubi.
“Di sana ada Mas Alif. Apa kata Mas Alif jika tahu kamu di sana dengan pria. Apalagi kalian satu kamar hotel.”
“Mbak? Mbak tahu kalau aku …” Tina sangat terkejut. Ia pu menarik lengan sang kakak untuk masuk ke dalam kamar dan menutup pintu itu dengan rapat.
Arafah duduk santai di sebuah kursi tempat Tina dahulu belajar dan kini dijadikan tempatnya untuk berhias.
“Saat ketemu kamu, keesokannya Mbak mencari kamu, Mbak juga menemukan tempat kamu menginap karena ternyata tempat kamu dan tempat Mbak menginap itu tidak jauh.”
“Mbak …” panggil Tina dengan tenggorokn tercekat. “Jadi, Mbak sudah tahu kelakuanku?”
Tina tampak malu. Ia yang duduk berhadapan dengan sang kakak di tepi tempat tidur pun menunduk. Sungguh, saat ini ia benar – benar malu, karena ternyata aibnya diketahui sang kakak.
“Apa kalian berpacaran?” tanya Arafah yng langsung dijawab oleh anggukan kepala Tina, walau sesaat kemudian kepala Tina menggeleng.
“Dulu iya, tapi sekarang udah selesai,” jawab Tina.
“Dia bosmu?”
Tina mengangguk.
Tina yang semula menunduk pun kembali mendongak dan menatap sang kakak. “Satu kamar dengannya?”
“Shabira, kamu dan dia sudah …?”
Tina mengangguk. “Kami sudah seperti suami istri, Mbak.”
“Astagfirulloh, Dek. Kamu sama bosmu berzina?” tanya Arafah dengan tanpa sadar bersuara sedikit keras karena terkejut.
“Maaf, Mbak.” Seketika, Tina pun kembali menangis.
Arafah bangkit dan duduk di samping sang adik. “Bukan sama Mbak, kamu meminta maaf Dek. Bertobatlah, minta ampunan padaNya. Dan minta maaf pada Ummi Abi.”
Arafah merangkul bahu sang adik dan memeluknya. Airmata Tina semakin deras. Kepalanya mengangguk, ia setuju dengan permintaan sang kakak.
“Iya, Mbak, Shabira akan melakukan itu. Shabira mau tobat, mau minta maaf sama Ummi dan Abi.”
Pelukan Arafah semakin erat pada tubuh sang adik. “Jangan ulangi kesalahan itu lagi, Dek. Itulah yang dinamakan tobat.”
Tina mengangguk. Wanita yang sering dipanggil Bira oleh keluarganya itu pun menjawab, “aku ga akan kembali ke Jakarta, Mbak. Aku mau mengabdikan hidupku di sini, di pesantren Abi. Aku mau menjadi manusia yang lebih baik.”
Arafah ikut meneteskan airmata, dadanya bergemuruh saat mendapati apa yang terjadi dengan sang adik, sama seperti saat keterkejutannya kala itu mendapati sang adik yang tengah berdua bersama seorang pria bule.
Setelah menangis dan meluapkan segala isi hati di pelukan Arafah, wanita berhijab yang anggun dan elegan itu melerai pelukan. “Lalu, bagaimana dengan bule itu sekarang? Mengapa kalian malah berpisah? Apa dia tidak bertanggung setelah apa yang dia lakukan ke kamu?”
Tina menceritakan kisahnya bersama Jhon. Ia juga menceritakan awal mereka merajut kasih hingga terjebak dalam hubungan yang teramat dalam dan melakukan perzinahan beberapa kali.
“Hingga akhirnya, wanita itu datang dan mengatakan bahwa anak kecil yang dibawa bersamanya adalah putrinya. Dia memilih putrinya dibanding aku,” sambung Tina menjelaskan kisah cintanya dengan Jhon.
Arafah pun mendengarkan. Ia tidak menjeda penuturan sang adik yang sedang bercerita. Arafah kembali memeluk sang adik. Hatinya ikut perih, apalagi ketika Tina bercerita kala Jhon mengiyakan permintaan putrinya yang menginginkannya menikahi sang ibu.
“Setiap anak pasti ingin melihat kedua orang tuanya bersatu, Dek. Dan di mata anak kecil itu, kamu adalah penghalangnya.”
Tina mengangguk. ia sepemikiran dengan sang kakak. “Makanya, aku mundur Mbak. Aku sadar kalau aku adalah penghalang mereka. Aku juga sadar bahwa ini adalah hukuman dari Allah karena aku telah keluar dari jalanNya.”
Arafah menatap sang adik dengan sendu, lalu kembali memeluk. “Selagi nyawa belum sampai kerongkongan, tidak ada kata terlambat untuk bertobat.”
Tina mengangguk. ia kembali mengusap pipinya yang kembali basah. Selama tiga buan ini, ia sudah mencoba untuk berubah. Memohon ampunan dipertiga malam dan mengikuti kajian rutin yang dipimpin sang ayah setiap minggu, ba’da isya.
Tina memilih duduk di pojok dan meresapi setiap makna yang disampaikan dari setiap ayat yang uraikan sang ayah. Tidak ada aktifitas lain yang Tina lakukan selain itu selama tiga bulan terakhir ini. Tina masih tidak percaya diri untuk berinteraksi dengan orang lain selain keluarganya. Ia masih ingin menata hati dengan merenung dan memberi ruang pada dirinya sendiri.
"Siapa namanya?" Arafah bertanya nama bos sang adik yang kini sudah mantan.
Namun untuk mantan kekasih, Jhon yang berada jauh di sana pun tidak beranggapan bahwa mereka putus. Jhon hanya menganggap mereka terpisah sementara, memberi jeda pada hubungan mereka karena fokus Jhon saat ini yang tengah merawat sang putri.
"Jhon Louise, dia keturunan Australia. Lahir dan besar di Singapura, lalu menetap di Jakarta dengan Visa kerja," jawab Tina menceritakan asal usul Jhon.
****
Seperti malam ini, Tina kembali mengikuti kajian rutin itu. Ia ikut sholat berjamaah di masjid pesantren sang ayah bersama Arafah, mengingat pesantren ini juga tempat suami sang kakak menimba ilmu agama.
Tina berdiri berjajar bersama para jamaah yang melaksanakan sholat isya. Ia mendengarkan alunan ayat suci yang terdengar merdu dari seorang imam. Alunan merdu yang membuatnya tak kuasa untuk tidak meneteskan airmatanya lagi, mengingat setiap dosa yang telah ia lakukan sebelumnya. Lantunan itu seolah mengajaknya untuk napak tilas dari kisah perjalanan hidupnya.
“Mbak, yang imam tadi bukan Abi ya?” tanyanya usai sholat isya dilakukan berjamaah.
Tina duduk tepat di samping sang kakak. Arafah mengangguk. “Iya, Abi kan tadi langsung pergi ke Jombang, istri teman dekat Abi meninggal.”
Ah, Tina lupa. Padahal sang ayah sudah pamit bersama sang Ibu tadi sewaktu mereka akan berangkat.
“Terus, nanti yang ceramah dia juga, Mbak?”
Arafah mengangguk. “Dia itu temannya Mas Alif, santri kesayangan Abi.”
“Loh, santri kesayangan Abi bukannya Mas Alif? Memang ada lagi?” tanya Tina.
“Ada, kamu lupa? Dia itu selalu bersama – sama Mas Alif saat masih mondok. Mereka seperti anak kembar.” Arafah tertawa. “Dia juga anaknya Kiyai Sunan, sahabat Abi dari kota sebelah.”
Dahi Tina mengernyit. Ia benar – benar lupa dengan orang – orang yang hadir saat dirinya masih kecil hingga beranjak dewasa. Karena baginya orang – orang itu tidak penting, apalagi ia pun merasa terpaksa saat harus mondok di pondok pesantren yang dipimpin sang ayah dan dulu dipimpin oleh sang kakek. Hanya karena menjalani tradisi keluarga dan tidak ingin mengecewakan, ia mengikuti kemauan sang ayah. Walau pada akhirnya, Tina tetap mengecewakan sang ayah, meski sang ayah belum mengetahui hal itu.
Ini penampakan Tina yang udah pakai hijab
Dan ini penampakan Jhon abis olahraga