
Setelah melewati satu jam lebih sepuluh menit di dalam pesawat, Jhon dan rombongannya tiba di bandara Yogyakarta sekitar pukul dua belas lewat sepuluh menit malam. Di lobby bandara, Jhon sudah disambut oleh orang yang disiapkan Bima, asistennya. Bima juga sudah menyiapkan tiga kamar hotel untuk Jhon, Laura, Mira dan suaminya.
“Mengapa Mommy tiba – tiba datang?” pertanyaan itu baru terlontar dari mulut Jhon.
Pertanyaan yang sebenarnya sudah ingin ia tanyakan sejak sore kemarin saat melihat sosok sang Ibu di lobby apartemennya. Namun, Jhon terlalu sibuk menyiapkan akomodasi perjalanannya ke tempat ini. Ia terlalu euforia, karena akan bertemu Tina. Padahal hanya bertemu, ia tahu bahwa wanita itu tidak akan menjadi miliknya lagi. dengan bertemu saja, entah mengapa hati Jhon merasa sangat bahagia. detak jantungnya berdebar kencang hanya karena membayangkan melihat bidadarinya lagi.
“Ibrahim menyuruh Mommy menemuimu.” Laura menyebut nama suaminya yang sekarang, ayah sambung dari Jhon.
“Sesampainya di rumah, Mommy menceritakan segala yang terjadi di Australi. Ibrahim juga merasa bersalah. Kami tidak pernah memperhatikanmu, Jhon. Ibrahim bersalah karena telah mengambil Mommy darimu.”
Jhon menggeleng. “Tidak, Mommy. tidak seperti itu.”
“Ya, sejak Ibrahim dinas di Penang. Mommy praktis tidak bernah ada waktu untukmu. Mommy sibuk dengan keluarga Mommy sendiri. Maaf!”
Jhon mengambil kedua tangan sang ibu dan mengecupnya. Waktu sudah menunjukkan pukul satu malam lewat dua puluh menit. Jhon duduk bersama sang ibu di tepi tempat tidur, di kamar yang ia pesan khusus untuk Laura.
“Jhon juga minta maaf, Mom. Jhon juga tidak pernah memperhatikan Mommy, seharusnya Jhon tidak sibuk sendiri. Bahkan Jhon tidak tahu bahwa Daddy sakit keras.”
Laura mengambil tubuh anaknya dan memeluk tubuh tegap itu. “Sekarang, Mommy akan selalu ada untukmu, Jhon. Mommy akan menemani di saat masa sulitmu.”
“Terima kasih, Mom.” Jhon membalas pelukan itu. “Restui setiap jalan Jhon, Mom.”
Laura melepaskan pelukan dan menatap wajah putranya dengan penuh kasih sayang. “Tentu, Jhon. Mommy selalu merestui setiap langkahmu, setiap keputusanmu.”
Jhon tersenyum. Rasanya ia tak lagi merasa sendiri. Jika dulu, saat Grace pergi, ia benar – benar merasa seorang diri. Tidak ada tempat berbagi, tidak juga ada tempat meluapkan isi hati. Tapi kini, ia punya Mommy.
Dan Laura membalas senyum putranya.
***
“Kapan mempelai pria datang?” tanya Hasna pada Abid.
“Sekitar jam sembilan, Mi. Iya kan, Lif?” Abid menoleh ke arah adik iparnya, karena Alif memang sahabat baik Al.
Alif mengangguk. “Iya.”
Sejak Arafah memberi kabar bahwa Tina mengalami kebutaan, Alif langsung meminta izin untuk kembali ke rumah mertuanya. Ia prihatin melihat kondisi Tina.
“Kamu kabar- kabaran dengan Al semalam, Lif?” Hasna ikut menatap ke arah Alif.
“Ndak sih, Ummi. Bukan semalam, tapi kemarin siang. Al bilang akan datang jam sembilan, satu jam sebelum akad.”
Hasna mengangguk, lalu hendak berlalu untuk mengurus yang lain. Pagi ini, suasana di rumah Almarhum Utsman sangat ramai. Warga sekitar datang untuk membantu pelaksanaan prosesi pernikahan putri bungsu Kiyai yang dikenal bersahaja itu. walau sudah tiada, nama Utsman dan kebaikannya tetap selalu ada dan terus dikenang para warga.
Hasna membuka pintu kamar Tina. Ia melihat sang putri yang masih belum didandani.
“Loh, Kok putri Ummi masih begini? Mana tata riasnya?” tanya Hasna pada Tina.
Tina yang duduk di meja rias dengan tatapan yang hanya lurus ke depan, menggeleng. kemudian, Hasna menatap putrinya yang satu lagi.
“Fah, gimana sih? Masa jam segini tata riasnya belum datang? Ndak profesional sekali.”
“Sudah Arafah telepon, Mi. katanya lagi di jalan. Sudah dekat, sebentar lagi sampai.”
“Oh.”
Sejak semalam, Hasna memang terlihat ketus. Bawaannya ingin marah – marah terus. Entah karena acara yang belum selesai, atau memang ada hal lain yang mengganjal yang membuatnya ingin melampiaskan kekesalan dengan orang lain.
“Tenang Ummi! Ummi ga usah khawatir. Ummi itu lelah, jadi bawaannya sewot terus,” ucap Arafah dengan merangkul bahu sang ibu.
Hasna malah ingin menangis.
“Ummi …. Stttt!!” Arafah menuntup mulutnya dengan ibu jarinya, mengisyaratkan pada sang Ibu untuk tidak menangis dan mengelus di depan Tina.
“Ummi tidak kuasa, Fah,” ucapnya tanpa suara.
Tina hanya duduk sembari mencoba mendengar semua yang terjadi. Ia tahu sang ibu dan kakaknya sedang berbisik. Ia juga tahu kekhawatiran Hasna pada dirinya. Oleh karena itu, di depan keluarga, Tina tetap tegar. Ia tidak meraung meratapi nasib, hanya karena tidak ingin melihat keluarganya bersedih atas apa yang ia alami ini.
Satu jam
Dua jam
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan. Keluarga Tina menanti kedatangan keluarga Mustofa. Di sana, Jhon pun sudah hadir.
“Tina,” panggil Mira yang langsung menemui sahabatnya di dalam kamar.
“Mira.”
“Iya, ini aku,” ujar Mira yang langsung menarik kursi dan duduk di depan Tina yang sudah didandani seperti ratu timur tengah.
Tina memang benar – benar cantik. Dengan kebaya putih, jilbab berwarna senada, serta riasan make up yang natural menambah kecantikan seorang Agustina Shabira.
“Masa sih?” Tina tampak malu.
“Tin, kamu banyak berubah ya,” ujar Mira tertegun menatap sahabatnya yang tidak seperti dulu.
“Hidup mengajarkanku banyak hal, Mir.”
Mira mengangguk. ia menarik kedua tangan Tina dan menggenggamnya.
“Sabar Tina. Kamu kans elalu bilang selalu ada pelangi setelah hujan. Yakinlah kamu akan sembuh setelah ini.”
Tina mengangguk. “Aku selalu optimis, Mir. Kamu tahu kan kalau aku memang orangnya selalu optimis.”
“Ya. Dan kita semua tertular optimismu saat dikantor. Sayang, aku tidak menemukan orang sepertimu lagi di kantor.”
“Masa?”
“Ya. Malah orangnya makin ga asyik,” sahut Mira.
Mereka tampak bercengkerama. Di detik – detik ijab qobul dan tengah riuh di luar sana, di dalam kamar Tina justru riuh dengan cerita Mira.
“Mir. Apa ijab qobulku sudah selesai?” tanya Tina, usai bercengkerama dan suasana hening setelah Arafah datang, lalu mengatakan bahwa ijab qobul akan dimulai.
“Baru akan dimulai,” jawab Mira.
Mira menatap kakak Tina dan Arafah mengangguk. Suasana riuh di luar sana, kini berganti haru.
Tina tak tahu apa yang terjadi di luar kamarnya. Ia hanya menunggu saja di dalam kamar dan menanti kedatangan suami yang akan menjemputnya di sini, usai ijab qobul.
“Saya terima nikah dan kawinnya Agustina Shabira Binti Haji Ustman Al Rasyid dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”
Terdengar suara lantang dari seorang pria yang sayup – sayup terdengar dari dalam kamar Tina. Suara lantang yang sudah mengucap janji suci di depan Abid serta keluarga besar Tina dan para warga terdengar melalui pengeras suara.
Deg
Seketika jantung Tina berdegup kencang. Kepasrahan yang terlampau luar biasa pada yang kuasa, membuatnya menemukan sesuatu yang ia butuhkan.
“Sah.”
“Sah.”
“Sah.”
“Barokallahulakuma wa baroka ‘alaikuma wa jam’a baynakuma fii khoir.”
Pak penghulu mengucapkan doa setelah ujab qobul diucapkan. Semua orang yang hadir pun menengadahkan tangan mengaminkan setiap doa yang dipanjatkan penghulu itu.
“Aamiin.” semua orang mengusap wajahnya, termasuk Hasna, Abid, dan Alif.
“Sekarang, temuilah Bira!” ucap Abid pada pria yang sudah menghalalkan adiknya.
Pria itu bangkit dan mendekati kamar Tina. Di sana, ia melihat sosok wanita cantik dengan kebaya putih dan jilbab putih yang dihiasi bunga melati duduk dengan tatapan lurus ke depan.
Pria itu menghampiri Tina dan berjongkok di depannya. “Hai, Sayang. Apa kabar?”
Seketika, Tina terbelalak. Dadanya semakin bergemuruh, lebih hebat dari saat ia mendengar suara pria yang mengucapkan ijab qobul tadi.
Tina tahu betul pemilik suara ini.
“Jhon?”
Jhon mengangguk. “Ya, ini aku. Aku datang untuk menikahimu, seperti janjiku dulu.”
Seketika, airmata Tina luruh.
Jhon langsung memeluk tubuh rapuh itu. keduanya menangis tersedu hingga orang yang melihat dari balik pintu kamar itu pun ikut terharu, terlebih Hasna, Arafah, dan Zahra. Bahkan Abid, pria yang tak pernah meneteskan airmata, tiba – tiba ikut menangis.
“Sungguh, kuasaMu selalu diluar nalar manusia,” ujar Abid pada dirinya sendiri.
Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah mengehndaki. Tina dan Jhon berada di titik kepasrahan yang teramat pasrah. Mereka hanya mengandalkan Rabb-nya atas semua yang akan terjadi. Dan dari titik kepasahan ini, mereka pun menemukan jalan.
Di tempat berbeda, Al hanya terdiam di kamar. Fatimah melarang putranya untuk menikah. Wanita itu tak menginginkan menantu yang buta.
Mustofa pun sama, ia tak setuju, meski semula ia begitu antusias dan berambisi untuk menyatukan dua pondok pesantren dengan menikahkan anak – anak mereka. Mustofa merasa bahwa pesantren yang dikelola Utsman dan semakin bagus sekarang, tidak luput dari andilnya waktu itu. Ia ingin memiliki pesantren itu melalui ikatan pernikahan dari anak – anak mereka. Namun, takdir tidak semudah yang mereka bayangkan.