
Enam hari kemudian.
Jhon parktis tidak lagi bertemu Tina. Ia masih berada di sini hanya karena tahlilan untuk Utsman dan projek yang akan ia kerjakan untuk memenuhi janji terakhirnya pada Kiyai Magelang itu.
Jhon mencoba ikhlas dengan keputusan Tina.
Dret … Dret … Dret …
Ponsel Jhon berdering dengan nama Alex.
“Halo.”
“Ck. Masih di Magelang?” tanya Alex pada sahabatnya.
“Iya, aku akan lama di sini, Lex.”
“Ya, aku tahu. Makanya sekarang aku sudah di Jakarta.”
“Serius?” tanya Jhon tak percaya.
“Mau bagaimana lagi? Aku tidak mungkin meninggalkan kantor cabang yang sudah kita bangun ini begitu saja, sementara pemimpinnya kabur tidak jelas karena cinta.”
Sontak, Jhon tertawa. “Sorry.”
“Tidak ada, sorry,” sahut Alex kesal.
“Lalu istri dan anakmu?”
“Ya, karenau aku LDR sama mereka,” jawab Alex.
“Kuat, Lex?”
“Ya, kuat ga kuat. Jauh dari anak sih kuat, tapi dari istri yang ga kuat.”
Jhon kembali tertawa. Setelah insiden pelik yang terjadi selama seminggu terakhir ini, akhirnya Jhon bisa kembali tertawa dan ikhlas menjalani lagi hidupnya.
“Oh ya, bagaimana projek yang kau email kemarin tentang tower penguat sinyal? Kau benar – benar akan membangun itu di sana?”
Jhon mengangguk. “Ya. Selama lima hari ini, aku sudah membuat detail proposalnya. Semua perhitungan biaya dan waktu ada di sana.”
“Ck. Kau gila. Ini butuh biaya besar, Jhon. Belum lagi birokrasi dengan pemerintah setempat.”
“Ya, aku tahu,” jawab Jhon. “Tapi, aku sudah terlanjur janji dengan almarhum ayah Tina. Kesetiaan seorang laki – laki adalah ketika dia bisa memenuhi janji.”
“Dahsyat,” jawab Alex meledek. “Sepertinya, lama – lama kau akan jadi anak santri, Jhon.”
Jhon tertawa.
“Oh, ya. Istriku juga ingin ke sana untuk takziah, tapi baby twins masih belum bisa diajak perjalanan jauh.”
“Tidak apa. aku yakin Tina mengerti.”
Alex mengangguk. Setelah berbincang cukup lama, mereka pun menutup sambungan telepon. Jhon dapat bernafas lega. Rencananya, usai tahlil di malam ketujuh yang akan digelar nanti malam, Jhon akan berbincang dengan Abid untuk mulai menggarap projek ini.
Di sisi lain, keluarga yang ditinggalkan Utsman masih dalam duka yang mendalam. Ketika dalam beberapa hari kemarin setelah pemakaman Utsman, Tina yang terpuruk dan sering bengong dengan tatapan kosong, kini Hasna.
Hasna syok dan histeris saat kembali ke rumah dan mendapati kenyataan bahwa sang suami hanya tinggal nama. Walau sejak di rumah sakit, Abid dan Arafah sudah sedikit menyinggung tentang kebenaran ini, tapi tetap saja Hasna syok dan histeris. Apalagi saat wanita paruh baya yang selama tiga puluh lima tahun itu menemani sang suami dan berdiri di atas pusaran itu, Hasna tak kuasa hingga harus tak sadarkan diri.
“Ummi.” Tina menangis, begitu pun dengan Arafah. Mereka yang semual terpukul dan mulai menerima takdir, kini kembali harus sakit hati melihat kondisi ibunya kini.
****
“Ummi. Ayo makan!” Tina masuk ke dalam kamar sang ibu dan meletakka makanan di atas meja kecil yang berada di tempat tidur yang Hasna tempati.
Hasna yang mengabaikan permohonan itu, kini mulai merespon. Hasna menatap wajah putrinya. “Setiap makhluk yang bernyawa pasti mati, begitu pun dengan ummi. Tapi rasanya mengapa sesakit hati ini?”
Tina kembali menangis dan memeluk sang Ibu.
“Ummi tahu ini takdir,” jawab Hasna.
Pelukan itu melonggar dan Hasna mengusap pipinya yang basah. “Ummi hanya butuh sendiri beberapa hari. Dan, InsyaAllah setelah ini, Ummi akan mencoba memulai hari tanpa Abi.”
Tangis Tina kembali pecah. Ia kembali memeluk sang Ibu dan kembali mengucapkan kata maaf. “Maaf, Ummi. Maafkan, Bira.”
Hasna pun menerima pelukan itu. Di luar kamar Hasna, Arafah dan Zahra mengintip. Munah pun ikut nimbrung. Ketiga wanita itu juga meneteskan airmata.
Sementara, di ruang tamu Abid kembali menerima tamu. Mustofa dan Al datang untuk sekalian berpamitan, karena tujuan mereka berada di tempat ini sudah selesai.
“Bid, bagaimana?”
Usai tahli terakhir, Mustofa kembali ke rumah itu untuk bicara dengan Abid dan berbicara tentang perjodohan Al dengan Bira dua tahun lalu.
“Ini sudah tujuh hari, Bid. Pakde mau pulang, sudah lama pondok pesantren Pakde tinggalkan.”
Abis mengangkat kepalanya dan menatap Mustofa. “Saya bingung, Pakde Yai. Saya harus memutuskan apa? Dalam waktu dekat ini, Bira tidak ingin menikah dulu. Katanya dia masih ingin sendiri.”
“Ya ampun. Shabira itu udah umur, sampai kapan dia akan sendiri? Dia sudah dua puluh enam tahun kan?”
Abid mengangguk. “Tapi, saya juga tidak bisa memaksa kalau anaknya tidak mau, Pakde.”
“Apa sih yang membuat Bira menolak Al? anak sulung aku ini berpendidikan, tampan, akhlaknya menawan, dan kita sepadan. Apalagi, Bid?”
Abid sangat mengerti. Jika sang adik menyetujui, ia pun akan dengan senang hati menjadi wali. Namun, apa mau dikata? Tina tetap menolak untuk menikah dan tetap menolak perjodohan ini seperti dua tahun lalu.
“Saya tidak bisa memaksa, Pakde Yai. Karena kondisi Bira juga masih dalam keadaan terpukul. Saya hanya tidak ingin jika memaksa, Bira malah akan kabur lagi dari rumah. Saya tidak mau itu, Pakde.”
Muntofa menarik nafasnya kasar. Ia menoleh ke arah putranya yang sedari tadi memilih diam. “Al, bagaimana reaksimu? Kamu sudah ditolak Bira dua kali ini.”
Al pun pasrah. Ia sudah memaksakan kehendak hingga mengakiatkan korban, walau semua yang terjadi memang atas kehendak-Nya dan sudah menjadi takdir-Nya.
“Mau diapakan lagi, Bi. Ya sudah,” jawab Al pasrah.
“Percayalah, Al. jika jodoh tak akan ke mana. Setelah keadaan Bira stabil dan dia mulai berpikir untuk berumah tangga, kalian bisa mulai taaruf.”
“Ck. Kelamaan, Bid,” jawab Mustofa kesal.
“Maaf, Pakde Yai.” Abid hanya bisa mengucapkan kata maaf, karena tidak bisa memenuhi permintaan Mustofa. Abid lebih mementingkan mental sang adik.
Keesokan harinya, Jhon mulai mengerjakan projek yang sudah ia janjikan. Abid pun senang dengan pembangunan projek yang akan menjadikan ponsok pesantrennya menjadi lebih maju dan modern karena memiliki kecanggihan teknologi.
Abid antusias ketika membaca proposal yang diberikan Jhon, usai kepulangan Mustofa dan Al. Abid hanya murni mempercayai Jhon yang katanya datang untuk bekerjasama dengan Utsman sebelum sang ayah meninggal.
Jhon pun memenuhi keinginan Tina untuk menjauh, walau sebenarnya mereka masih dekat karena Jhon masih berada di area itu, walau mereka tak pernah bertemu. Bahkan Jhon dan Tina tidak berkomunikasi sama sekali hingga satu bulan berlalu.
“Nduk, tolong berikan pisang goreng ini pada pekerja,” ucap Hasna meminta tolong pada putri bungsunya.
“Memang Mbak Munah ke mana, Mi?”
“Ke pasar.”
Tina menghela nafasnya. Sudah satu bulan ini, ia bisa menjauhi Jhon dan kini ia harus datang ke tempat membuatan tower itu untuk membawa makanan. Tina khawatir Jhon ada di sana.
Tanpa sepengetahuan Tina, Jhon memang sering mengintai dirinya. Pria itu terkadang mengendap melihat Tina dari balik pohon saat wanita pujaannya itu menjemur pakaian atau keluar bersama Munah ke pasar.
Sungguh, Jhon sangat merindukan Tina. Merindukan semua yang ada dalam diri wanita itu. Akankah takdir membawa mereka kembali bersama? Jhon hanya berharap dengan membuka pintu langit dari setiap doa yang ia khususkan dipertiga malam.