
"Assalamualaikum.”
“Waalaikumusalam.”
Abid yang berada di ruangan kecil sebagai ruangan kantor pemimpin pondok pesantren menoleh ke arah pintu. Ia melihat pria paruh baya yang satu bulan lalu meminta adiknya, tetapi justru melanggar janjinya dengan tidak datang pada hari yang berlangsung.
“Pakdek Yai.”
Abid berdiri untuk menyambut kedatangan Mustofa. Walau ia masih merasa kesal dengan penghinaan keluarga itu karena tidak datang di saat pesta berlangsung. Namun, Abid bersyukur karena kejadian itu adalah yang terbaik untuk adiknya.
Mustofa menghampiri kursi Abid dan mengulurkan tangan. Sebagai orang yang mengerti agama dan tata krama, Abid tetap menyambut Mustofa dan mencium punggung tangan itu.
“Silahkan duduk, Pakde!”
Mustofa mengangguk, lalu menarik kursi di depan meja Abid dan duduk.
“Hm. Apa kabar Pakdek?” tanya Abid dengan ramah. Sebisa mungkin ia tetap ramah pada Mustofa, meski sebelumnya ia sakit hati.
Mustofa mengangguk lagi. “Alhamdulillah baik. Hanya saja, pondok Pakde yang kurang baik.”
Mustofa mengedarkan pandangan. “Pondokmu semakin banyak saja santrinya, Bid.”
“Alhamdulillah Pakdek. Pendaftaran tahun ajaran ini juga meningkat drastis, mungkin karena sistem tekhnologi yang dibantu Jhon waktu itu.”
“Jhon?” Mustofa coba mengingat nama itu.
Menurut rumor yang sampai ditelinganya, Tina dinikahi oleh pria bule, yang merupakan mantan bos Tina di Jakarta dan Mustofa pernah bertemu Jhon saat Utsman masih hidup. Seelah itu, ia tidak pernah bertemu Jhon lagi.
“Bosnya Bira yang bekerja di K-Net itu?” tanya Mustofa untuk meyakinkan.
Abid mengangguk.
“Jadi benar, Tina dinikahi dia?” tanya Mustifa lagi, kali ini dengan tatapan sinis.
“Ya.” Abid mengangguk bangga. “Untung saja, Jhon datang. karena memang pria itu yang sudah dipilih Abi untuk Bira.”
“Maksudmu?” Mustofa semakin sinis.
“Sebelumnya, saya tidak tahu apa yang terjadi di sini ketika Abi masih hidup. Dan ternyata. Jhon sudah melamar Bira sebelum Al.”
“Tapi Al lebih dulu, karena dua tahun lalu, Pakde dan Abimu sudah sepakat.” Mustofa menyela perkataan Abi. Pria itu masih saja ingin menang sendiri.
“Ya, tapi dua tahun sudah tidak berarti, Pakde. Dan sebelum Abi meninggal, Jhon yang sudah mengkhitbah Bira. Ternyata, sebelum Abi meninggal, Abi menerima pinangan Jhon dengan memberikan tasbih kesayangannya.”
Mustofa terkejut.
“Saya tahu Pakde tahu hal ini. Pakde tahu, bahwa Bira sudah dikhitbah orang lain, tapi Pakde tutup mata dan tetap memaksa. Jadi beginilah jalannya. Allah maha tahu. Dia lebih tahu yang terbaik untuk hambanya.”
Mustofa mati kutu. Ia tertunduk malu. lalu, mengalihkan pembicaraan. “Bid, sebenarnya Pakde ke sini ingin bicara sesuatu.”
“Ya, sebelumnya Pakde minta maaf, karena hari itu Pakde dan keluarga tidak datang. Al ragu untuk menikahi Bira yang …”
“Buta,” sambung Abid, membuat Mustofa sedikit tidak enak.
“Maaf loh, Bid. Bukan Pakde yang bicara begitu.”
Abid mengangguk. “Ya, saya mengerti. Saya tahu, adik saya cacat. Bira tidak mungkin bisa menjadi istri yang bisa melayani suami dengan penuh.”
“Nah itu dia,” sahut Mustofa.
“Tapi, justru dengan kekurangan Bira, dia menemukan cinta sejatinya.”
Mustofa kembali diam, mendengar ucapan Abid yang nyelekit.
“Ya sudah. Pakde tidak ingin basa basi lagi. Begini, Bid.” Mustofa kembali mengalihkan pembicaraan dan Abid mendengarkan. “Kamu tahu kan, waktu itu Pakde pernah membantu pondok pesantren ini ketika ingin di tutup?”
Abid mengangguk. Ia tak lupa itu, kebetulan saat hal itu terjadi dia sudah remaja dan hendak terbang ke Kairo, Mesir. Ekonomi keluarganya yang saat itu sedang sulit, mengharuskan Abid mengambil jalur beasiswa.
“Ini total biaya yang Pakde keluarkan saat itu. ada tanda tangan Abimu juga di sini!” Mustofa menyerahkan satu lembar kertas pada Abid.
Abid mengambil kertas itu dan melihatnya. Tertera nominal sebesar tiga ratus delapan puluh tujuh juta rupiah.
“Sebenarnya, Pakde tidak ingin mengungkit ini, karena waktu itu kami sepakat akan menjodohkan Al dan Bira sebagai gantinya. Tapi karena al dan Bira tidak jodoh, jadi Pakde meminta uang itu.”
Abid berpikir. Saat ini, ia tidak memiliki dana sejumlah itu, kalau pun jika dikumpulkan dari hasil keuntungan pondok, tidaklah seberapa. Abid sengaja tidak membebani biaya administrasi besar pada santri karena baginya yang terpenting daerah sekitarnya mendapat pendidikan yang layak.
“Pakde bisa ambil uang ini kan? Kamu tahu kondisi pondok Pakde yang sedang menurun. Lagi pula, kamu sedang naik, kamu pasti bisa mengembalikan uang Pakde.”
Abid menarik nafasnya kasar. “Tapi, Abid butuh waktu Pakde.”
“Ya, tidak apa. Pakdek kasih tenggang waktu satu minggu.”
“Apa? Satu minggu?”
“Kalau begitu dua minggu,” ucap Mustofa.
Abid kembali menghela nafasnya kasar. Ia pun mengangguk dan akan berusaha untuk mencari uang yang menurutnya cukup besar.
“Baik Pakde, akan Abid usahakan.”
“Terima kasih, Bid. Sebelumnya, Pakde minta maaf harus melakukan ini.”
Abid mengangguk.
Mustofa sebenarnya tidak enak melakukan ini, tapi Fatimah mendesak agar meminta kembali dana yang pernah mereka bantu untuk keluarga Tina. Demi cintanya pada sang istri dan tidak ingin didiamkan, Mustofa pun harus menebalkan muka.