Cinta Si Bule

Cinta Si Bule
Separuh jiwa


Hari berganti, tidak ada klarifikasi dari Tina. Padahal Jhon berharap wanita itu mengatakan sesuatu padanya, atau sekedar salam perpisahan.


Tina masih setiap pagi menjemur pakaian dan Jhon pun melakukan hal yang sama, ia masih mencuri pandang jika Tina sedang melakukan rutinitas itu. kebetulan rumah Utsman dan rumah singgah itu bersebelahan dekat.


Tina menyadari bahwa setiap pagi, Jhon melakukan ini. Ia menyadari bahwa selama ini, Jhon sering mengintai dirinya, karena secara tidak langsung Tina pun terkadang melakukan hal yang sama. Tina sering bertanya pada orang pekerja di sana, jika ia tidak melihat Jhon keberadaan Jhon beberapa hari, atau Tina selalu menjadikan Aji, suami Munah yang juga menjadi mandor projek di sana untuk dijadikan mata – mata dan memastikan Jhon makan serta menjaga kesehatan yang cukup di sela aktifitasnya.


Atas dasar itu pula, Jhon memiliki harapan tinggi. Tapi kini, harapan itu tidak ada lagi.


Kini, Jhon mengerti bahwa berharap pada manusia hanya membuatnya terluka. Jhon mengubah mindset itu.Ia mencoba berhenti berharap pada manusia, karena saat ini ia hanya berharap pada sang pemilik manusia.


Pelaksanaan projek tower juga sudah memasuki hampir dua bulan. Berdasarkan anggaran dan rancangan, projek itu memakan waktu sekitar tiga bulan dan satu bulan terakhir hanya finishing.


Kabar mengenai pernikahan Tina dan Al pun semakin hari semakin santer terdengar. ada yang senang, ada juga yang tidak. Dan, biasanya yang tidak senang adalah para penggemar Mas Al. Rencananya, lamaran besar – besaran itu pun akan digelar tiga hari lagi dan pernikahan akan dilaksanakan satu bulan setelahnya.


Dret … Dret … Dret …


Ponsel Jhon berdering. Jhon yang hendak ke pasar pun mengambil ponsel itu. Di rumah ini, ia kembali sendiri karena Utadz Abdullah sudah pamit pergi untu kembali pulang ke Jakarta.


“Halo.”


“Jhon. Apa projek di sana tidak bisa ditinggal?”


“Sedikit lagi.”


“Kembalilah, Aku tidak bisa menjadi amuba. Aku tidak bisa membela tubuhku, Jakarta Singapura tidak dekat.”


Jhon tertawa. Ia juga kasihan melihat sahabatnya. Apalagi Alex sudah memiliki keluarga.


“Sorry, Lex.”


“Ah, kamu ini, bisanya cuma sorry.”


“Baiklah, aku akan kembali minggu depan,” ucap Jhon.


“Janji.”


“Janji.”


Jhon ingin pergi dan kembali ke Jakarta, setelah menghadiri acara lamaran Tina. Ia hanya ingin memastikan hatinya bahwa ia sudah ikhlas dan baik – baik saja.


Usai menutup sambungan telepon, Jhon bergegas keluar rumah menuju pasar. Di sana, ia mencari barang – barang kebutuhan pribadinya, serta beberapa benda sebagai kenang – kenangan nanti saat pulang ke Jakarta.


Pasar tradisional yang sedang Jhon singgahi cukup besar dan terkenal. Pria itu berjalan santai sambil menengok ke kiri dan kanan. Kehadiran Jhon, cukup membuat pusat perhatian. Postur tubuhnya yang tinggi melebihi orang – orang yang berkunjung serta kulit dan perawakan wajahnya yang berbeda, membuat Jhon memang tampak berbeda dari orang – orang di sana.


“Yang ini berapa, Bu?”


“Sekilo, Lima belas ribu.”


Wanita itu mengangguk dan mengeluarkan uang dua puluh ribuan untuk membeli salah satu buah kesukaannya.


Ya, wanita itu adalah Tina. Tina berada di pasar yang sama dengan Jhon dan Jhon menangkap wanita yang sedang berinteraksi dengan ibu – ibu pedagang itu.


“Tidak usah bagus semua, Bu. Yang jeleknya ada juga nda apa.”


Ibu – ibu pedagang itu tersenyum. “Di mana – mana orang minta buahnya bagus semua. Lah ini cah ayu malah minta ada yang busuknya.”


Tina tertawa. “Tidak apa. Anggap saja itu sedekah saya.”


Ibu – ibu, itu pun tetawa dan memberikan sesuai keinginan Tina. “Terima kasih, cah ayu. Sudah cantik, baik lagi.”


Tina tersenyum malu. “Ibu bisa saja.”


Usai berhenti di pedagang buah, Tina melanjutkan langkahnya. Biasanya ia ditemani oleh Munah, tapi kali ini Tina sendiri, karena Munah ternyata sedang isi. Hampir setiap pagi, wanita muda yang baru saja mengetahui bahwa dirinya tengah hamil itu mengalami muntah - muntah atau morning sickness.


Jhon tetap berada di belakang Tina. Ia mengikuti langkah wanita itu. terkadang Jhon tersenyum, mengikuti senyum Tina yang ditujukan untuk pedagang yang berinteraksi dengannya. Mungkin jika Alex dan ketiga sahabatnya berada di sini, mereka akan merutuki kelakuan Jhon yang menurutnya memang gila.


Jhon panik, saat langkah Tina yang ada di depannya berhenti. Sepertinya, Tina mulai sadar bahwa ia dibuntuti, apalagi saat ini kondisi jalan sepi. Mereka tak lagi berada di pasar, tapi jalanan kampung yang dilalui Tina untuk pulang.


Begitu asyiknya mengikuti Tina di belakang, Jhon sampai tidak membeli satu barang pun di sana. Ia melupakan tujuannya tadi pergi ke pasar.


Tina dan Jhon masih diam di tempat. Jarak mereka tidak jauh dan Tina masih berada di depan Jhon.


Tina menolehkan kepalanya ke belakang dan Jhon melakukan yang sama. Namun, Jhon tidak bisa menghindar karena tubuh Tina kini menghadapnya.


“Kamu membuntutiku dari tadi?” tanya Tina.


“Hm. Tidak. Aku juga ke pasar untuk membeli …” ucapan Jhon terhenti, karena saat melihat kedua tangannya, ia tak memegang buah tangan apa pun dari pasar tadi.


Tina menatap Jhon. Sungguh, sebenarnya ia rindu lelaki itu. Tina sadar bahwa ia telah menyakitinya.


“Hm.”


Jhon yang semula mengalihkan pandangan untuk memberi alasan atas pertanyaan Tina tadi, kemudian mendongak dan menatap wanita itu.


“Maafkan aku.”


Akhirnya, setelah semua rasa yang telah terjadi, mereka kembali berhadapan dengan jarak yang cukup dekat.


Kepala dan hati Jhon mulai tidak sinkron. Mereka berperang hingga akhirnya Jhon tak kuasa menahan.


Grep


Jhon mengambil tangan Tina dan menariknya ke tempat yang lebih sepi. Tubuh Tina di dorong ke sebuah pohon besar dan mengungkungnya.


“Aku menunggu permintaan maaf dari mu. Aku menunggu klarifikasi atas keputusanmu,” ucap Jhon dengan wajah yang begitu dekat dengan wajah Tina.


“Maaf, Jhon. Aku baru menyadari bahwa dulu mungkin posisimu sesulit ini. Kamu harus memutuskan mana yang menjadi prioritasmu. Dan benar, saat itu kamu benar mempriritaskan Michelle karena saat itu kamu mengira dia adalah putrimu. Banyak kesalahan yang kamu perbuat hingga kamu harus menebusnya dengan cara memprioritaskannya. Dan sekarang aku pun dalam posisi itu. Banyak kesalahan yang telah aku perbuat untuk keluargaku. Dan sekarang, aku memprioritaskan mereka.”


Jhon menarik nafasnya kasar. Ia cukup mengerti posisi Tina, jauh sebelum wanita itu menjelaskan. Hanya saja, ia ingin mendengar suara itu. Ia ingin ada moment ini untuk yang terakhir kali.


“Jangan banyak bicara! Gerakan bibirmu membuatku tidak tahan.”


Jhon memang membagongkan. Di saat Tina sedang menjelaskan, ia malah sibuk memperhatikan bibir sexy Tina saja.


Lagi – lagi, wujud asli Jhon muncul saat berdekatan langsung dengan Tina. Tina bagai magnet, yang mampu membuat beruang yang sedang hibernasi lama itu terjaga.


“Jhon, aku serius.”


“Aku juga serius, Tina. Aku tidak akan pernah bisa melupakan. Tidak akan pernah,” jawab Jhon. “Bahkan mungkin, aku tidak akan pernah bisa jatuh cinta lagi setelah ini.”


Tina menggeleng. “Masih banyak wanita yang lebih cantik dari aku, Jhon. Mungkin saat kembali ke Jakarta nanti, kamu akan mendapat sekretaris yang lebih sexy.”


Jhon menatap lekat wajah itu. Ucapan Tina yang membuatnya kesal, serta gerakan bibir itu semakin membuat Jhon ingin melahapnya.


“Stop, Tina! Atau aku akan melahap bibirmu dan membuatnya bengkak.”


Seketika, Tina terdiam. Ia menggelengkan kepala dengan ekspresi takut.


“Good.”


Dada Tina naik turun. Kini, ia benar -benar takut. Ia takut, Jhon akan berbuat nekat seperti biasanya. Apalagi, ia bisa merasakan hembusan nafas Jhon yang berat. Posisi mereka pun tidak seharusnya demikian. Tubuh Jhon sangat dekat.


“Jhon, bisakah kita berjarak?” ucap Tina hati – hati.


Jhon menggeleng. “Untuk yang terakhir kali. Aku hanya ingin memelukmu, sebentar saja.”


Kepala Tina ikut menggeleng. “Tidak bisa. kita bukan mahrom. Kamu tahu itu, Jhon. Kamu mengerti itu, bukan?”


Jhon mengangguk. Ia tahu ini salah, tapi ia hanya ingin melakukan keselahan untuk yang terkahir kali.


“Hanya untuk yang terakhir kali, Tina.”


Tina tetap menggeleng. “Jangan kotori hati dan pikiranmu yang sudah bersih! Aku tahu, sekarang kamu jauh lebih baik. Pertahankan, Jhon! Sayang hafalanmu. Suaramu merdu dan aku menyukai itu. Aku tahu, kamu adalah pria yang baik.”


Jhon memejamkan mata. Ia meresapi perkataan Tina. Memang hanya wanita itu yang bisa menenangkannya. Tina selalu menjadi tempatnya pulang. Tina selalu menjadi tempat yang paling aman untuknya. Tapi itu dulu.


Jhon pun mengurungkan niatnya untuk memeluk Tina. Ia beralih dengan menangkup wajah yang terbalut jilbab syar’i.


Jhon membenarkan posisi kacamata Tina. Ya, wanita itu memang berkacamata sejak dulu. Hanya saja, Tina lebih sering menggunakan softlens, karena minusnya memang tidak terlalu tinggi.


“Aku akan merindukan wajah ini. Bibir ini dan kacamata ini.”


Jhon berujar dengan mata mengembun. Hal yang sama juga terjadi pada Tina. Justru lebih parah, karena pipi Tina sudah basah. Tina tak kuasa melihat kedua bola mata Jhon. Tina tak kuasa melihat keikhlasan pria bule yang dulu begitu pemaksa.


“Terima kasih telah memberikan semua hal terindah untukku. Kamu akan tetap menjadi separuh jiwaku. Kamu akan tetap menjadi bagian yang terpenting dalam hidupku. Bahagialah, Tina. Aku ikhlas.”


Keiklhasan Jhon meruntuhkan relung hati Tina. Ia pun menangis sejadi – jadinya.


Ini yang paling Tina takutkan. Sebelumnya, ia belum merasa kehilangan karena Jhon masih berada di sekitarnya. Namun setelah ini, bisa dipastikan Jhon akan pergi dan Tina pun akan merasakan sangat kehilangan, karena sebenarnya Jhon masih menjadi bagian istimewa yang tetap ada di separuh jiwanya.


Di balik dua insan yang tengah mengucapkan salam perpisahan, Hasna menjadi saksi kejadian itu, karena entah mengapa kakinya ingin melangkah menjemput sang putri yang tak kunjung pulang dari pasar.


Hasna pun menangis. Ia selalu berharap putrinya bersanding dengan pria setulus Jhon, walau ia tahu bahwa Allah lebih tahu yang terbaik untuk hambanya. Hanya saja, jika boleh meminta, ia tetap berharap ada satu keajaiban yang membatalkan pernikahan putrinya dengan Al. Hati Hasna masih tak bisa melepas Tina, yang akan memiliki ibu mertua seperti Fatimah


Hasna melihat tanggung jawab dan ketulusan dari seorang Jhon Louise, pria berdarah Australia yang dulu hidupnya tak punya arah dan tujuan.


Tapi kini, banyak yang Jhon mengerti. Tina mengajarkannya banyak hal, terutama arti sebuah cinta dan keluarga yang sesungguhnya.