Cinta Si Bule

Cinta Si Bule
Wanita bar bar yang Jhon suka


"Ssstt ..."


"Ssstt ..."


Tina memanggil Jhon yang sedang duduk dengan laptop menyala di depannya.


Arah mata Jhon sejenak teralih dari layar elektronik berlogo apel yang separuh tergigit dengan versi keluaran terbaru.


"Apa?" tanya Jhon tersenyum sembari menopang dagu. Ia menatap sang istri yang sengaja duduk sexy di atas meja kerjanya.


Sudah dua hari Jhon dan Tina tiba di Jakarta. Dan sejak sampai di sini, Jhon masih belum meninggalkan istrinya sendiri, sehingga ia tetap bekerja dari rumah.


"Kerja terus! Kapan kita bercinta?"


Jhon tersenyum lebar.


Tidak tahu apa? kalau Jhon sedang mati-matian menahan hasratnya yang sudah diujung selama ini? Jika bukan karena pesan dokter yang menangani operasi istrinya itu, Jhon mungkin sudah menghabisi Tina hingga tak tersisa.


Sementara Tina kerap sengaja mengundang hasratnya. Seperti siang ini. Bahkan sejak pagi, Tina berpakaian sangat sexy. Wanita itu memakai kaos putih transparan tanpa bawahan dan dengan belahan lingkaran lehernya yang panjang, sehingga bahu sisi kanan Tina pun terekspose. Bahu putih dan mulus yang menggoda Jhon untuk hendak menggigitnya.


Jhon menghilangkan frustrasi dengan menyandarkan punggungnya pada dinding kursi dan melipat kedua tangannya di dada.


"Terus saja, Sayang. Terus. Goda aku terus."


Tina tertawa. Dan, Jhon pun tersenyum. Kemudian, Tina sengaja membungkuk dan memperlihatkan belahan dadanya yang bulat, lalu menopang dagu persis di depan laptop Jhon.


Jhon pun kesulitan menelan saliva. Ia terus menatap sang istri tanpa kedip.


"Kamu terlalu patuh dengan ucapan dokter, Mas. Aku itu sudah sembuh. Tidak apa hanya sekedar bercinta."


Tina bangkit dan menggeser laptop, lalu duduk persis di tempat yang sebelumnya terisi laptop. Tina duduk di depan suaminya dengan posisi yang sangat menggoda dan menggairahkan.


"Lagi pula, menunggu bercinta di kapal pesiar itu lama. Kamu aja susah buat libur," ucap Tina lagi.


Jhon yang semula memberi jarak antara meja kerja dan kursinya itu pun sengaja menggeser maju. Kini, kedua tangannya melingkar di kedua paha Tina.


"Aku bisa tahan, jika itu menyangkut kesehatanmu."


"Kamu tahu, kita itu sangat ekspresif saat bercinta. Dan aku tidak mau pusat syarat matamu menjadi tidak stabil karena aktifitas itu," kata Jhon lagi.


Beberapa minggu paska operasi, Tina memang dianjurkan untuk santai, tidak lelah, dan tidak beraktifitas yang membuat syaraf serta otot - otot matanya menegang. Biarkan transplantasi itu menyesuaikan dengan sempurna lebih dulu.


Jhon bangkit dan manangkup wajah sang istri. "Aku tidak mau membuatmu tambah sakit, hanya karena aktifitas yang tidak lebih dari lima belas menit."


"Tidak lebih dari lima belas menit? Yakin?" tanya Tina yang merasa tidak pernah bercinta dengan durasi se sebentar itu.


"Ralat. Tiga puluh menit," ucap Jhon.


"Yakin, cuma tiga puluh menit?"


Jhon menarik nafasnya kasar. Padahal yang ia ungkapkan tadi hanya sekedar perumpamaan.


"Baiklah, tiga jam. Puas!"


Tina tertawa. "Ya. Kamu memang tidak akan melepasku sebelum puas."


Tina mengalungkan kedua tangannya di leher Jhon. "Percayalah, Sayang! Aku sudah tidak apa - Apa."


" Sudah lebih dari tiga hari loh operasinya. Jadi, semua sudah baik," ucap Tina lagi untuk meyakinkan.


Jika biasanya, suami yang ingin meminta haknya. Kini, Tina malah yang menggebu ingin bercinta. Luar biasa, tapi Jhon suka.


Melihat ekspresi Tina, Jhon pun tertawa. "Tahu apa yang aku suka darimu?"


Tina mengangguk.


"Apa?"


"Aku cantik," jawab Tina membuat Jhon mengernyit.


"End then?"


"Hm. Aku baik. Aku ga macem - macem. Aku setia."


Jhon mencibir.


Jhon membulatkan mata mendengar perkataan Tina selanjutnya.


"Nakal."


Jhon tertawa. Tina pun demikian. Jhon menekan ujung hidung Tina.


"Ya, kamu memang benar - benar nakal."


Tina tertawa dan berkata lagi, "Kalau begitu, Ayo! Mumpung keluargaku belum datang. Karena besok pagi, apartemen ini akan penuh lagi."


Tina segera turun dari meja dan menarik tangan Jhon menuju kamar. Jhon menurut dan mengikuti Tina. Senyumnya terus terbit. Wanita itu memang satu - satunya wanita yang membuat hidup Jhon penuh warna. Tidak sia - sia jika ia mengejarnya hingga titik darah penghabisan.


Sesampainya di kamar dan berdiri di depan ranjang, Jhon menarik Tina menuju kamar mandi.


Kini, Tina yang menurut. Kakinya terhenti seiring kaki Jhon yang berhenti. Mereka sudah berada di dalam kamar mandi.


"Kamu ingin melakukannya di sini?" tanya Tina.


Namun, pria bule itu hanya tersenyum. "Kamu yakin bisa melayaniku?"


"Tentu saja. Memang kenapa ga bisa? Bahkan aku bisa membuatmu berteriak berkali - kali," sambung Tina dengan nada sensual.


"Oh ya? Coba buka bajumu!" Jhon menatang.


Tina pun membuka bajunya, hingga hanya bagian kain dalamnya saja yang tersisa.


"Aku rasa, kamu belum bisa melayaniku malam ini hingga tujuh hari ke depan," ucap Jhon yakin.


"Kenapa?" tanya Tina bingung.


"Karena bulanmu datang."


Dahi Tina mengernyit. Jhon senang sekali berbicara dengan kata - kata ambigu dan tersirat.


Lalu, Tina membuka kain segitiga yang menutupu miliknya.


"Hah, kok kamu tahu?" tanya Tina yang tidak merasa jika sedari pagi ia sedang datang bulan.


Jhon tersenyum sembari melipat kedua tangabbya di dada dan menyandarkan tubuhnya pada didinding.


"Aku hafal tanggal periodemu. Aku hafal ulang tahunmu, aku hafal makanan kesukaanmu. Aku hafal suara lenguhanmu saat bercinta. Aku hafal semua tentangmu, hingga warna pakaian d*l*m yang sering kamu gunakan."


Ucapan Jhon mampu membuat Tina terdiam dengan tatapan meleleh.


Jhom masih tersenyum dan mengecup bibir Tina sekilas.


"Anggap saja ini ujian. Aku pasti tahan. Lagi pula, semua akan teralihkan karena Ummi dan keluarga Mas Abis akan tinggal di sini selama satu minggu."


Jhon mengacak - acak rambut Tina dan membalikkan tubuhnya untuk keluar dari tempat itu. Ia meninggalkan Tina yang mungkin ingin membersihkan diri.


"Mas."


Jhon menoleh mendengar Tina memanggilnya.


Tina langsung berlari dan menubruk tubuh Jhon, serta melingkarkan kedua kakinya ke pinggang Jhon tanpa aba - aba. Jhon pun langsung menangkap tubhh Tina dan menggendongnya.


"Sayang, cel*n*ku jadi kotor," ucapnya karena sudah terlanjur menempel pada cel*n* Tina. "Sudah tidak bisa dipakai sholat ini."


Jhon protes. Sekarang, Jhon sangat berhati - hati dengan kebersihan. Ia berusaha untuk menjaga wudhu dan menjaga pakaiannya.


Namun, bibirnya tetap tersenyum. Berhubung sudah terlanjur wudhunya tak terjaga dan pakaiannya pun kotor. Jhon mencium bibir Tina. Ia memborbardir bibir itu tanpa ampun, memberi hukuman pada wanita penggoda ini. Tina memang sudah menggodanya sejak tadi. Bahkan sejak tadi pun, boxernya basah.


"Ah, Mas. Bibirku bengkak," protes Tina karena tidak diberi jeda untuk beristirahat dan menghirup nafasnya sejenak.


"Biarin. Ini baru hukuman kecil."


"Terus hukuman besarnya kapan?"


"Satu minggu kemudian."


"Uh, ga sabar." Tina menggosokkan kedua telapak tangannya.


Melihat ekspresi bar - bar itu, Jhon semakin gemas dan menggelengkan kepala. Ia kembali memiringkan kepalanya dan memagut bibir itu lagi.