Cinta Si Bule

Cinta Si Bule
The right man, on the right place


Jhon membawa Tina keluar dari kamar. Ia menuntun langkah wanita pujaan yang sudah sah menjadi istrinya itu ke pelaminan dengan tetap menggenggam tangannya.


“Kita ke Ummi dan Mommy.”


“Mommy?” tanya Tina yang memang belum pernah bertemu Laura sama sekali.


“Ya, Mommy ada di sini.”


Jhon membawa Tina menemui ibunya lebih dulu. Laura tersenyum menyambut dengan hangat belahan jiwa sang putra.


“Mommy, ini Tina, Agustina Shabira. Keluarga besarnya, biasa memanggil Tina dengan sebutan Bira,” ucap Jhon pada sang ibu saat Tina sudah berada di depannya.


“Sayang, ini Mommy. Wanita hebat yang selalu aku ceritakan.” Jhon juga memperkenalkan Tina pada Laura.


Tina hanya bisa tersenyum. Saat masih berpacaran dulu, ia sangat ingin bertemu dengan Laura. Selama ini, Tina hanya mendengar cerita Laura dari Jhon dan hanya melihat foto cantik wanita itu saja, tapi kini ia dapat berhadapan dengan wanita yang amat Jhon sayangi.


Laura mendekati menantunya. Ia menangkup wajah Tina. “Cantik. Pantas saja Jhon tergila – gila padamu.”


Tina tersipu malu.


“Jhon bilang, katanya sejak dulu kamu ingin bertemu Mommy ya?”


Tina mengangguk.


“Jhon memang nakal. Dia tidak pernah mempertemukan kita, padahal kalian cukup lama berpacaran.”


Jhon nyengir saat ibunya membulatkan mata padanya.


“Mommy.”


Tina hanya bisa memanggil nama itu, kemudian meneteskan airmata. Perasaannya campur aduk. Entah ingin merasa bahagia atau sedih, karena keadaanya saat ini tidak seperti dulu. Tina merasa dirinya cacat. Ia khawatir tidak bisa melayani Jhon dengan baik.


“Hei, kenapa menangis?” Laura memeluk menantunya.


“Tina khawatir tidak bisa menjadi istri yang baik untuk Jhon, Mom. Tina, wanita yang …”


“Ssttt …” Laura menutup mulut Tina dengan jari telunjuknya. “Apa kamu meragukan cinta putra Mommy?”


Tina menunduk.


“Lagi pula, Jhon tidak akan diam saja. Dia akan mencari berbagai pengobatan untuk menyembuhkanmu dan membuatmu bisa melihat lagi.”


Percakapan antara menantu dan mertua itu membuat Hasna terharu. Bukan hanya Hasna, Abid pun begitu. Segenap keluarga Tina merasa lega, sama seperti Munah. Walau Munah bukan bagian keluarga Tina, tapi ia sudah memiliki ikatan kuat seperti keluarga. Wanita yang tengah hamil itu dan suaminya ikut bahagia.


“Alhamdulillah, akhirnya Ning Bira menikah sama Mas Bul.”


Arafah yang berdiri di samping Munah pun menoleh. “Mas bul?”


“Iya, Mas bule maksudnya Mbak Ning.”


Arafah tertawa dan menggelengkan kepala. Lalu, tangan Arafah yang masih setia menggandeng lengan suaminya, menengadah menatap sang suami.


“Mas, maaf kamu tidak jadi ipar – iparan dengan sahabatmu.”


“Allah maha tahu yang terbaik untuk hambanya, Dek.” Alif kembali berkata sembari memegang punggung tangan sang istri dan mengeratkan genggamannya.


Arafah pun tersenyum. “Ya, terkadang apa yang terbaik menurut kita, belum tentu terbaik mennurut Allah. Dan Apa yang terbaik menurut Allah, pasti yang terbaik untuk kita.”


Alif mengangguk. Ia sangat setuju dengan pernyataan istrinya.


Suasana semakin haru, ketika kedua mempelai mulai sungkem pada orang tua masing – masing. Hasna yang paling tidak kuasa. Sedari tadi tangisnya tak kunjung reda. Apalagi melihat kasih sayang Laura pda putrinya. Laura terlihat sangat menerima kondisi Bira.


“Jhon, aku tidak menemukan tasbih kesayangan Abi. Apa benda itu ada bersamamu?” tanya Abid, usai Jhon bersimpuh di pangkuan pria yang sudah menjadi pengganti Utsman.


Di samping Abid, Hasna mendengar pertanyaan putranya. Di samping Jhon, Tina juga mendengar pertanyaan sang kakak. Bukan hanya mereka, bahkan Arafah, Alif, dan Zahra pun menjadi saksinya.


“Ya.” Jhon mengangguk dan mengeluarkan benda yang sepanjang waktu selalu ia bawa ke mana pun ia pergi. Jhon selau menggunaan benda itu setiap kali usai melakukan sholat lima waktu.


“Ini benda yang Abi berikan saat di rumah sakit, sebelum masuk ruang ICU, katanya sebagaiu tana bahwa Abi merestui hubungan kami dan menerima pinanganku.”


Sontak, Hasna kembali menangis. Dan Abid memegang benda yang selalu ayahnya bawa ke mana – mana.


“MasyaAllah. Pantas saja, aku tidak menemukan tasbih ini. ternyata, Abi sudah memberikannya pada orang yang tepat,” ucap Abid dengan menatap mata Jhon. “Mengapa saat Al melamar, kamu tidak mengatakan hal ini?”


“Saat itu, keadaannya tidak memungkinkan.”


Abid menarik nafasnya kasar. Apa yang dikatakan Jhon benar, pada saat itu memang keadaan tidak memungkinkan. Keluarga Mustofa terlalu gencar melakukan aksinya, hingga Abid tidak memiliki pilihan untuk tidak mengiyakan permintaan itu.


“Semoga Allah memberkahimu, Jhon. Jaga adikku dengan segenap jiwamu!” Pesan Abid pada Jhon, kini Abid menyerahkan seluruhnya tanggung jawab sang adik pada Jhon.


Jhon mengangguk. “Tentu. Seperti janji yang sudah aku ikrarkan tadi. Aku tidak akan mengecewakanmu.”


"The right man, on the right place," ucap Abid lagi, membuat Jhon tersenyum lebar.


Istilah itu memang tepat diungkapkan untuk Jhon, karena Jhon adalah pria yang tepat untuk Tina.


Kedua pria yang sayang keluarga dan penuh tanggung jawab itu pun berpelukan.


Jhon dan Tina menjadi pasangan yang fenomena sepanjang sejarah di desa itu. Keharuan dan kisah cinta mereka menjadi perbincangan banyak orang yang menyaksikan. Bahkan sampai ke telinga Fatimah.


“Nyai tega sekali tidak datang pas hari pernikahan. mentang – mentang anak Kiyai Utsman buta. Masa’ Nyai langsung membatalkan pernikahan.”


“Iya, untung saja ada pria bule yang tulus menggantikan utadz Al.”


“Iya, bulenya juga ganteng.”


“Iya. Ya ampun ganteng tenan itu suami Ning Bira. Suaranya juga merdu. Pas subuh jadi imam, bacaannya bagus tenan.”


Suara – suara ibu – ibu itu menyuarakan isi hati keluarga Tina yang kecewa dengan keluarga Mustofa yang membatalkan pernikahan di saat hari akan berlangsung.


Walau keluarga Tina kecewa, sebenarnya hati mereka pun lega, karena kini Tina berada di tangan yang tepat.


Gunjingan tidak sedap terus ditujukan pada Fatimah. Meski, Utsman dan Mustofa tinggal di desa berbeda, tapi gunjingan cepat sekali beredar ke desa tetangga. Keegoisan dan keangkuhan Fatima dan Mustofa pun mendapat ganjaran. Keputusan mereka yang sepihak dan terkesan menghina, akhirnya ditganti dengan trvagedi santri yang ke pergok berduaan di salah satu gubuk kosong yang ada di antara asrama laki – laki dan perempuan.


Tragedi itu cukup mencorengkan nama pondok pesantren dan pemiliknya. Alhasil, peserta didik di pondok itu pun berkurang peminatnya saat memasuki tahun ajaran baru tiba. Sementara pondok pesantren yang dikelola Abid semakin bersinar dan diminati, terlebih saat Jhon memberi ide – ide cemerlang untuk kecanggihan sistem program yang memudahkan para santri melakukan pembelajaran.