
"Hai, Jhon. Airmu penuh.” Seseorang menepuk bahu Jhon yang sedang berdiri di depan dispenser pantry saat melintas.
Entah mengapa, beberapa hari ini Jhon selalu memikirkan Tina.
“Sir. Are you okey?” tanya seorang wanita dengan rok sepan ketat di atas lutut berwarna ungu dan blazer berwarna senada.
“Oh ya.” Jhon baru tersadar dari lamunan yang hanya beberapa menit itu. “Thank you.”
Jhon berterima kasih pada wanita itu karena wanita cantik yang merupakan sekretaris baru Pak Dion bagian operasional itu sudah mengebalikan posisi dispenser yang semula Jhon tekan.
Kemudian, tangan Jhon hendak mengambil gelas yang sudah terisi penuh. Wanita itu pun melakukan yang sama, hingga kedua tangan mereka saling bersentuhan.
“Maaf,” ucap Jhon yang langsung menarik lengannya.
Wanita itu menyerngai. “It’s oke. Sir.”
“Are you fine?” tanya wanita itu lagi.
Jhon tidak menggubris pertanyaan itu. Pria bule berparas tampan dan bertubuh atletis itu hanya berlalu tanpa sepatah kata lagi. Ia cukup tahu gelagat wanita itu. Sekretaris Dion yang bernama Melati, memang kerap mencuri – curi pandang ke arah Jhon saat rapat. Jhon yang juga tahu gelagat itu pun hanya cuek, bahkan lebih sering menghindar. Sungguh, bagi Jhon tidak ada wanita yang menarik selain Tina.
Walau menurut sebagian pria di kantor ini, Melati cantik dan memiliki postur tubuh bak model, Jhon tetap tidak tertarik.
“Hei, ngapain deket – deket Sir Jhon?” tanya Mira pada Melati.
Dahulu, Mira memiliki geng sekretaris somplak yang terdiri dari dirinya, Tina, Bilqis, dan Saskiya. Ketig sekretaris yang memiliki hubungan dengan bosnya masing – masing, kecuali Mira. Dan kini, mereka sudah berada di tempat masing – masing bersama suami yang dulu adalah bosnya, menyisakan Mira yang tinggal sendiri di sini bersama para sekretaris baru termasuk Melati.
Mira memang tidak menyukai gaya Melati yang merasa paling cantik di kantor ini.
“Memang apa hubungannya sama Mbak Mira. Suka – suka aku dong, mau deketin siapa aja,” sahut Melati dengan nada menantang.
“Dih, anak baru belagu. Sir Jhon udah punya pacar. Jangan ke ge- er an! Doi ga bakal ngelirik lu.”
Melati memonyongkan bibir dan melewati Mira dengan sengaja menyenggol bahu sekretaris senior yang sudah memiliki dua anak itu.
“Wah, ga beres nih orang,” ujar Mira kesal.
Mira tahu tentang cerita Tina yang memilih anak sahabat ayahnya dan akan menikah beberapa hari lagi. Tidak ada undangan khusus dari Tina untuknya dan untuk Bilqis juga Saskiya. Karena Tina memang tidak mengundang teman – temannya. Hanya keluarga Mustofa saja yang antusias dan mengundang banyak orang.
Mira tetap berharap sahabatnya akan tetap bersama Jhon, karena Mira tahu persis bagaimana Tina mencintai pria bule itu.
Tok .. Tok …
Jhon mengetuk pintu ruangan Mira.
“Eh, Sir.” Mira henda berdiri untuk menghormati kedatangan Jhon. Namun, Jhon menahannya.
“Duduk saja.”
Jhon memasuki ruangan itu dan duduk di depan meja Mira. “Mir, Hm … aku ingin minta tolong padamu.”
Mira menatap lekat wajah bos yang kebetulan bukan bosnya, karena Mira memang tidak pernah menjadi sekretaris pribadi Jhon.
“Silahkan, Sir! Jika saya bisa, saya pasti akan menolong. Bagaimana?” tanya Mira antusias.
“Hm … Bagaimana ya? Ah. Sudahlah. Lupakan!” Jhon kembali berdiri.
Mira pun ikut berdiri dan berkata, “Sir, saya saksi bahwa Tina sangat mencintai Sir Jhon.”
Jhon menoleh ke arah Mira, lalu menghempaskan nafasnya kasar.
Waktu pernikahan Tina dan Al tinggal menghitung mundur mulai tiga hari dari sekarang dan Jhon sangat ingat itu.
Jhon tersenyum mendengar ketersediaan Mira untuk menemaninya. “Tidak. aku tidak ingin suamimu cemburu.”
“Suami saya tidak akan cemburu sama Sir Jhon, tapi sama Hendra.”
Jhon menyipitkan matanya. “Hendra satpam lobby?”
Mira mengangguk. “Iya. Kata suami saya, saya bukan selera orang bule, tapi dia takut kalau saya kepincut duda lokal seperti Hendra si satpam lobby.”
Sontak, Jhon tertawa. Setelah terakhir pertemuannya dengan Tina, akhirnya ia dapat tertawa dan tersenyum lebar. Namun, itu pun hanya sesaat. Mengingat lagi wajah Tina, membuat Jhon menghentikan tawanya. Menghilangkan kontak Tina, setelah pertemuan terakhir mereka, membuat Jhon kini dilanda kecemasan akan keadaan mantan kekasihnya itu.
“Mir, apa kamu tahu kabar Tina sekarang?” tanya Jhon pada Mira.
Mira menggeleng. “Nah itu dia, Sir. beberapa hari terakhir, saya mencoba menghubungi Tina, tapi tidak pernah diangkat. Apa dia sesibuk itu? Perasaan dulu waktu saya mau nikah, sibuk sih, tapi masih bisa ngangkat telepon.”
Jhon terdiam sejenak. Ia berpikir dan semakin khawatir.
“Sir tidak pernah menelepon Tina lagi?” tanya Mira dengan rasa ingin tahu yang besar.
Jhon menggeleng. “Tidak. Saya tidak berani mengganggunya lagi. karena saya menghormati keputusannya.”
Mira pun terdiam. Hatinya terenyuh melihat kisah cinta pria bule ini. memang kisah cinta antara Tina dan Jhon sejak awal sangat dramatis. Mira ingat bagaimana Jhon mengejar Tina, saat pria itu menodainya. Tina yang syok kala itu, memilih menghindari Jhon. Namun, Jhon dengan sekuat tenaga meyakinkan Tina, lalu berhasil. Mereka pun menjadi sepasang kekasih dan tinggal bersama.
Dan untuk kali kedua, Jhon meyakinkan Tina dengan kepergiannya selama hampir tiga bulan ke tempat kelahiran Tina. Namun, kali ini perjuangannya tak membuahkan hasil. Ia berjanji pada dirinya sendiri dan terucap dalam setiap doa, jika ada kejaiban untuk memiliki Tina kembali, maka ia tidak akan pernah menyia – nyiakan lagi wanita itu.
Di Magelang, Tina sedang beristirahat. Setelah mencoba ke berbagai pengobatan untuk mengambil benda yang ada di dalam matanya itu, akhirnya Tina memilih tindakan vacum. Tina yang tetap ditemani Abid, Zahra, dan Al kembali ke rumah sakit besar yang ada di tengah kota itu. mereka pun kembali bertemu dengan dokter yang menyarankan tindakan itu, walau dengan beberapa resiko.
Mau tidak mau, keluarga akhirnya memilih jalan ini, karena sudah beberapa hari dengan tindakan lain, benda yang ada di dalam mata Tina belum juga bisa dikeluarkan.
Kedua mata Tina masih diperban. Dokter meminta Tina untuk membukanya setelah dua kali dua puluh empat jam. Dan, siang ini waktunya perban itu dibuka.
Usai di vacum dan berhasil mengeluarkan benda itu, Tina dibolehkan pulang. Dokter menyatakan bahwa tindakan itu berhasil.
“Pelan – pelan bukanya, Dek,” ucap Abid pada Zahra.
Istri Abid sedang membuka perban itu perlahan.
“Ini juga pelan – pelan, Bi.”
Di depan mereka sudah berdiri Hasna, Arafah, dan Al. sejak kejadian naas itu, Al terus mendampingi dan menemani Tina ke rumah sakit.
“Nah, sudah dibuka perbannya semua. Sekarang, buka matamu, Bira!” ujar Zahra senang.
Tina membuka matanya. “Ummi, Mas Abid, Mba Zahra. Kalian di mana?”
Deg
Semua orang yang ada di depan Bira pun terkejut. Sesuatu yang dikawatirkan dan sudah dikatakan oleh dokter sebelum tindakan, akhirnya terjadi.
“Bira, kamu tidak bisa melihat kami? Kami di sini. di depanmu.”
“Ummi … Bira tidak bisa melihat.”
Semua orang panik dan memeluk Tina dengan tangisan yang pilu. Sementara Al hanya mematung. Ia bingung, ia memang mencintai wanita itu, mengagumi kecantikan seorang Agustina Shabira sejak pandangan pertama. Dan kini, Tuhan mengujinya dengan kecantikan itu. Dua bola mata indah Tina yang ia kagumi, kini tidak berfungsi. Akankah ia menerima Tina dengan segala ketidaksempurnaannya? Al mulai mempertanyakan itu pada dirinya lagi.