Cinta Si Bule

Cinta Si Bule
Kejujuran Jhon


#Flashback on


“Mas, kamu belum kalah.”


Al menggeleng. “Udah, Ran. Aku memang nda jodoh sama Bira.”


“Jangan patah semangat, Mas! bule itu juga belum entu jodohnya kok.”


Dua kakak beradik itu saling berbincang, usai bertandang ke rumah Utsman malam itu. Bukan hanya Al saja yang kecewa, kedua orang tuanya pun juga terutama sang ayah.


Randy menatap kasihan kakaknya yang tampak lesu. Sepertinya sang kakak memang sangat menyukai anak Kiyai Utsman.


Ya, memang. Saat beranjak remaja, Al memang sudah menyukai Tina. Sejak berada di pondok pesantren milik Utsman, Al sudah terpesona pada Tina yang kala itu masih duduk di bangku tsanawiyah. Tina adalah gadis ceria, cantik, dan mempesona menurutnya.


“Sekarang Randy tanya lagi, Mas yakin menerima masa lalu Bira?”


Al mengangguk. “Yakin. Semua orang punya masa lalu, Ran. Tak terkecuali Mas. Mas juga pernah punya masa lalu.”


Randy pun mengangguk. “Iya, sih.”


“Menurutmu, apa yang harus Mas lakukan?” tanya Al pada adiknya yang sedikit licik.


Randy sebelas dua belas dengan Tina. Saat hendak dimasukkan ke pondok pesantren, Randy memilih kabur dan akhirnya sekolah di SMA negeri. Randy tinggal bersama paman dan bibinya di Jakarta hingga berkuliah di sana.


“Mas punya kartu As Bira. Mas bisa menekannya.”


Al menggeleng. “Tidak. itu terlalu licik.”


“Tapi, dia juga sudah membuat Mas patah hati dua kali. Pertama, dia kabur dari perjodohan. Sekarang, keluarganya malah memilih bule itu.”


Al berpikir sejenak. “Itu artinya, Mas menghalalkan segala cara?”


“Bukan menghalalkan segala cara, Mas. Tapi bentuk ikhtiar bukan?”


Al mengernyitkan dahi.


“Jika Mas, tidak berani mengatakan itu. Biar, aku yang melakukannya.”


“Tapi, Ran.”


#Flashback off


Pagi itu, Al ditemani oleh Randy. Saat Al pamit dan bicara empat mata dengan Utsman di ruang tamu, Randy bicara empat mata dengan Randy di pekarangan. Dan saat Tina berbicara dengan Al, pria itu seperti membenarkan ucapan sang adik.


“Jangan Mas! Jangan katakan hal itu pada Abi!” Tina memohon pada Al, tapi justru yang terlihat geram adalah Randy.


Randy tak rela melihat kakak kesayangannya patah hati untuk kedua kali, sedangkan dia tahu persis bagaimana Al menyukai Agustina Shabria sejak remaja.


“Itu tergantung kamu, Tina.”


“Randy, kamu …” ucapan Tina tertahan. Dadanya bergemuruh. Antara bingung dan takut, semua menjadi satu.


“Kamu harus menentukan pilihanmu sekarang, sebelum semua terlanjur jauh.”


Tina menggelengkan kepala. Al tidak mencegah tindakan Randy, sehingga Tina pun bingung. Sapu lidi yang semula menjadi pelampiasan Tina saat bingung, kini terlepas asal. Tina pun berlari menuju ruang tamu dan mengatakan sesuatu yang diluar dugaan.


“Shabira, Kamu sadar dengan keputusanmu?” tanya Hasna terkejut.


Hasna meletakkan nampan itu dan mendekati sang putri.


Tina mengangguk sembari menelan salivanya dengan susah payah. “Yakin, Ummi.”


Jhon yang tidak terima. Pria itu berdiri dan ikut mendekati Tina. “apa yang kamu katakan? Kamu bilang ingin dinikahi, sekarang aku bersusah payah untuk memantaskan diri, tapi kau seperti yang sedang berjuang sendiri.”


“Kamu memang tidak perlu berjuang Jhon. Sejak awal, kamu memang tidak berniat untuk berjuang kan?”


Kepala Jhon menggeleng. “Aku berniat untuk itu, Tina. Aku berniat, hanya saja kemarin aku … Ah.”


Jhon tampak frustrasi, ia meremas kepalanya. “Aku mencintaimu, Tina. Aku mengejarmu sampai ke sini untuk membuktikan bahwa aku akan bertanggung jawab padamu.”


Utsman bingung. Matanya menatap sang putri dan si bule itu bergantian.


Tina menggeleng. “Tidak ada, Bi.”


“Ada, Bi.” Jhon meralat.


“Jhon, diam!” bentak Tina.


“Katakan, Nak Jhon. Apa yang ingin kamu pertanggung jawabkan?” Kini, Utsman bertanya oada Jhon.


Tina menggeleng dengan tatapan memelas pada Jhon. Ia berharap Jhon tidak terlanjur berkata jujur. Utsman memiliki riwayat penyakit jantung. Usia yang semakin renta, serta sempat mengonsumsi rokok berlebihan saat muda, membuat jantungnya mulai melemah.


“Saya, Bi. Saya dan Tina sudah …”


“Jhon.” Tina memanggil nama itu agar tidak berkata lagi.


Utsman menatap Tina. “Biarkan Jhon bicara, Bira. Abi ingin mendengar kejujurannya. Abi sudah curiga saat kamu pulang, ada sesuatu yang kamu sembunyikan.”


Lalu, Utsman menatap Randy yang berdiri di dekat pintu bersama Al.


“Apa kamu juga tahu bagaimana Bira di Jakarta?” tanyanya sedih.


Randy diam. Ia melilih tidak menjawab pertanyaan itu.


Kemudian, Utsman kembali mendekati Jhon. “Demi Allah, Jhon Loiuse. Katakan! Apa yang ingin kamu pertanggung jawabkan?”


“Saya dan Tina sudah berpacaran selama dua tahun. selama itu juga kami tinggal bersama. Kami sudah seperti layakanya suami istri. Kami juga sering melakukan …”


“Cukup.” Utsman memegang dadanya.


“Abi …” Hasna langsung memegang suaminya yang mulai tak kuasa mendengar penuturan Jhon.


“Abi …” Tina pun mendekati sang ayah.


“Jangan mendekat, Bira. Jangan mendekat!”


Seketika, airmata Tina meluncur bebas. “Abi, maafkan Bira. Maaf!”


“Jadi seperti itu kelakuan di kota besar? Kamu menyerahkan kehormatanmu pada pria bule ini cuma – Cuma? Apa pendidikan agama yang Abi dan Ummi tanamkan selama ini, tidak berarti bagimu?”


“Abi …” Tina terisak.


“Apa … Ah.” Utsman pun tumbang.


“Abiiiii …” teriak Tina dan Hasna.


Al dan Randy langsung mendekati Utsman dan hendak membantunya. Jhon yang lebih dekat pun langsung melakukan hal itu. Namun, Hasna menolak.


“Pergi. Pergi kalian dari sini! Kalian membuat suamiku sakit. Pergi!”


“Aji … tolong Pak Yai.” Hasna lebih memilih memanggil Aji dan Munah. Kedua orang itu pun langsng digap.


“Aji, siapkan mobil.”


“Ummi …” Tina pun mencoba mendekat dan hendak membantu sang ayah. Namun sang ibu pun menolak. “Urus saja urusanmu, Bira. Kamu selalu merasa sudah besar kan? Sudah dewasa dan tak butuh orang tua.”


“Ummi …”


Jhon hanya bisa mematung. Begitu pun dengan Al dan Randy. Menurut Tina, ketiga pria itu merusak semuanya. Padahal dengan kembali ke rumah, Tina hanya ingin mendapat ketenangan dan niat merubah diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Namun, ternyata tidak semudah yang ia bayangkan, ada saja ujian.


“Abi …” Tina masih menangis.


Jhon pun mendekat. Kaki Jhon yang mendekat diikuti oleh Al.


“Tina.”


“Bira.”


Kedua pria ini sama – sama mengulurkan tangannya untuk membantu Tina berdiri saat bersimpuh di tanah.


Tina hanya melihat ke arah kedua pria itu bergantian, tanpa berniat untuk menerima salah satu uluran tangan mereka. Aib yang selama ini ia tutupi, akhirnya terungkap sudah. Dan, Tina hanya bisa pasrah.