
"Abi …”
Tina kembali histeris, sudah berkali – kali ia pingsan di tengah pusaran itu. Apalagi saat jenazah Utsman dikebumikan, tangis Tina pecah hingga tak kuasa menopang tubuhnya. Di sana, Jhon ingin sekali menggendong Tina, tapi orang – orang yang ada di sekelilingnya yang lebih berhak pun ada, sehingga Jhon hanya diam di tempat.
“Mas Abid, gimana ini?” tanya Arafah sambil memegang tubuh Tina bersama Munah.
Abid menarik nafasnya kasar. Ia juga melihat istrinya memegangi Tina. “Seharusnya, tadi Bira tidak usah ikut ke sini.”
“Tapi, anaknya ngeyel minta ikut, Mas,” sahut Zahra, istri Abid.
Jhon yang melihat itu ingin sekali mendekat. Walau ragu akan penolakan saudara – saudara Tina, Jhon tetap mendekati wanita pujaannya yang sedang dilanda kerapuhan tingkat tinggi.
“Mbak, Fah. Minyak anginnya habis,” kata Munah yang sedari tadi tak lepas menemani Tina.
Keluarga inti Utsman masih berada di sana hanya karena Tina. Langit cerah dan terik matahari yang mampu membakar kulit itu, untungnya tidak membuat orang – orang yang masih ada di area itu kepanasan, karena di area pusaran itu terpasang tenda yang cukup luas.
“Mba, saya ada minyak angin.” Jhon memerikan botol minyak angn kecil pada Munah. Botol minyak angin yang baru saja di beli Edi.
“Oh ya, Mas Bul. Terima kasih.” Munah menerima botol minyak angin itu dan langsung didekatkan ke ujung hidung Tina.
Berkali – kali menghirup minyak angin, kesadaran Tina pun berangsur pulih. Matanya perlahan terbuka.
“Ning Bira, jangan begini dong!” ujar Munah.
“Iya, Bira. Kamu harus kuat. Ini takdir, setiap makhluk yang bernyawa pasti akan mati. Semua pasti akan berpulang padaNya,” sambung Zahra.
Jhon baru saja ingin mendekati Tina, tapi Abid lebih dulu.
“Dek, kita semua kehilangan Abi, bukan cuma kamu.” Abid menasehati adiknya. Namun, Tina masih tetap sama, wanita itu masih menangis sesegukan.
“Sekarang, kita pulang ya, Dek! Kasihan mabk – mbak mu di sini terus. Mereka juga ingin istirahat di rumah.”
Tina pun mengangguk.
Orang yang paling ia takuti setelah Utsman adalah Abid. Abid sedikit banyak memiliki sifat yang mendekati dengan Abi. Ia tegas, berani, tapi agak sedikit kaku, sedangkan Utsman lebih luwes dan mudah membaur. Saat berdakwah, para jamaah juga lebih suka Utsman yang memberi tausyiah dibanding Abid, karena katanya penyampaian Abid terlalu saklek dan tak mudah dipahami untuk orang biasa atau pemula.
Dengan susah payah, Tina pun berusaha bangkit dari kursi itu. Ia mengikuti langkah saudara – saudaranya yang hendak meninggalkan tempat ini. Dengan berat hati, ia pun meninggalkn tempat itu.
Saat kaki Tina sudah sedikit jauh meninggalkan pusaran itu, kepalanya kembali menoleh. Airmatanya kembali mengalir, bahkan Tina tak sadar jika dibelakangnya saat ini ada Jhon yang ingin terus menjaga, sesuai dengan janjinya pada Utsman saat detik – detik terakhir hidupnya.
Tina berjalan pelan dan …
Bruk
Tubuh itu kembali ambruk. Untung saja, dengan cepat Jhon menahan tubuh Tina.
Abid langsung menoleh ke belakang. “Ya ampun, Dek.”
Abid melihat Tina yang sudah dalam gendongan Jhon.
“Biar saya bawa Tina ke dalam mobil.”
Tanpa meminta izin dan persetujuan Abid, Jhon langsung membawa Tina ke dalam mobilnya dengan menggendong tubuh rapuh itu ala bridal. Sontak, Arafah, Zahra, dan Munah melongo. Mereka pasrah melihat adiknya digendong dan masuk dalam dekapan pria yang bukan mahromnya.
****
“Dek, ayo makan!”
Sudah kesekian kali, Arafah membujuk adiknya untuk makan, tapi tidak berhasil.
“Ayo, Ning Bira makan dulu.” Al ikut membujuk Tina dan duduk di depan wanita itu.
“Ning Bira. Ayo makan!” Al berkata dengan sangat lembut, sambil menyodorkan makanan yang ada dalam sendok itu pada Tina.
Namun, Tina tetap diam. Ia tidak membuka mulutnya sama sekali. Hingg sudah dua jam Al bersabar, tapi hasilnya tetap sama.
Hari semakin malam, pengajian yang digelar hingga tujuh hari ke depan pun baru saja selesai. Pengajian selama tujuh hari dan dilaksanakan pada malam hari itu akan berlangsung di masjid bersama para santri dan jajaran staf.
“Bid, saya dan Al akan terus berada di sini dan membantumu,” ucap Mustofa, setelah mereka kembali ke rumah utama Utsman.
Usai dari masjid, Abid ditemani oleh Mustofa dan Al Fatih, sementara Jhon tidak berani mendekat, ia merasa dirinya tidak sepadan dengan mereka. Jhon merasa ia begitu kecil di hadapan Mustofa dan Abid.
“Mas, Bira belum mau makan sampai sekarang. Bagaimana ini?” Zahra mendekati suaminya.
Mustofa dan Al pun mendengar pertanyaan itu.
“Bid, bagaimana kalau pernikahan Shabira dan Al dipercepat? Supaya Al bisa mengurus adikmu dengan telaten. Kalau seperti ini kan mereka belum mahrom, padahal Al pasti ingin menemani Bira dua puluh empat jam. Bukan begitu Al?” Mustofa menoleh ke arah putra sulungnya.
Al pun mengangguk. “Iya, Abi. Al ingin sekali mendampingi Bira di saat – saat seperti ini.”
Abid tampak diam.
“Lagi pula, ini adalah keinginan ayahmu, Bid. Sejak masih berjuang di Mesir, aku dan Utsman sepakat untuk menikahkan salah satu keturunan kita.”
Abid masih diam. Ia menyimak perkataan Mustofa dan berpikir. Memang setahu Abid, sang ayah ingin sekali menjadikan Tina sebagai istri Al, apalagi Al juga memang terlihat sudah menyukai Tina sejak remaja.
“Baik, Yai. Abid akan pertimbangkan.”
“Jangan dipertimbangkan, Bid! Tapi segera dilakukan,” kata Mustofa dengan sedikit mendesak.
Di balik pintu itu, Jhon mendengar percakapan mereka. Percakapan yang cukup membuat hatinya dag dig dug. Entah dari mana ia mengatakan bahwa dirinya sudah meminang Tina lebih dulu pada Utsman, bahkan Utsman sudah memberinya restu dengan memberikan sebua benda berharga miliknya, sementara percakapan yang terjadi kala itu hanya Jhon, Utsman, dan Tuhan yang tahu.
Jhon memegang tasbih itu seraya berkata, “Abi, bantu aku untuk bisa meyakinkan putramu kalau Abi sudah merestuiku.”
Jhon menarik nafasnya kasar, lalu lisannya melafaskan satu kata untuk menenangkan hatinya. “Bismillah.”
Jhon mengetuk pintu itu, hingga ketiga pria yang sedang berbincang itu pun menoleh. Mustifa dan Al menatap ketidak sukaannya pada Jhon.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumusalam.” Ketiga pria itu menjawab salam Jhon. Akan tetapi suara Al dan Mustofa terdengar lebih pelan dari Abid.
Zahra kembali ke ruang tamu dan berkata pada suaminya. “Mas, Bira belum makan sudah malam begini. Kalau dia sakit bagaimana?” tanyanya cemas.
“Mbak, boleh saya menemui Tina?” Jhon langsung mengajukan permohonan.
Zahra menatap Jhon dan mengangguk, padahal Abid belum mengizinkan, tetapi istrinya lebih dulu memberi izin. Kemudian, Jhon pun memasuki kamar Tina. Pria bule itu berjongkok dihadapan kekasihnya dan berkata dengan pelan.
“Sayang, kamu adalah wanita paling kuat yang aku kenal. kamu adalah wanita yang paling ceria dan mampu membuat aku tertawa saat aku terpuruk dulu.”
“Tina, jangan seperti ini! Aku mohon. Aku tidak bisa melihatmu seperti ini.”
Mata Jhon menggenang. Sungguh, hal yang paling membuat hatinya teriris adalah melihat Tina seperti ini.
Tina yang semula memandang ke sembarang arah, kini tertuju apda kedua mata Jhon yang berwarna cokelat.
Tatapan itu sulit diartikan, sejenak Jhon pun sedikit takut. Ia takut, jika Tina akan melimpahkan kesalahan ini padanya. Ia juga takut jika Tina akan membencinya dan berasumsi bahwa dia adalah penyebab Utsman pergi.
Karena hingga kini, Abid, Arafah dan keluarga inti Tina tidak ada yang tahu kronologis persis kejadian yang terjadi hingga Utsman tumbang dan dilarikan ke rumab sakit, sementara Jasna pun hingga kini belum mengetahui kabar suaminya yang telah pergi dan Tina pu keadaan masih tidak stabil, sehingga membuat Jhon tidak memiliki kekuatan jika semua orang menyudutkannya termasuk Randi dan Al, yang jelas jelas mereka juga memiliki andil dalam insiden ini.