Cinta Si Bule

Cinta Si Bule
Terima kasih tidak datang


"Mas Al yakin akan tetap menikahi Bira? Bira bukan wanita sempurna, Mas.”


“Apalagi, Bira juga punya masa lalu yang kelam. Tidak ada yang Mas Al banggakan dari Bira.”


“Mas.”


Pukul sembilan malam, Tina dan Al berkomunikasi lewat telepon. Semula Al menelepon ke Abid, lalu Tina ingin bicara dengan pria yang berstatus calon suaminya itu. Tina hanya ingin meyakinkan Al, jika pria itu mengundurkan diri dan tidak jadi menikahinya, ia akan tetap baik – baik saja.


“Sudah, Bira. Jangan terlalu banyak berpikir! Jalani saja semuanya. Mas kan sudah bilang, Mas akan menerimamu apa adanya.”


Di sela telepon yang memang sejak awal diloudspeaker oleh Al yang sedang berada di kamarnya, tiba – tiba sang ibu mendatangi kamar itu dan duduk di samping sang putra. Sedari tadi, Fatimah mendengarkan percakapan Tina dan Al.


“Mas yakin? Tina tidak akan bisa melayani Mas nantinya. Bira hanya akan menyusahkan Mas Al saja, nanti. Jika Mas ingin mundur, silahkan! Bira akan baik – baik saja.”


Fatimah menekan paha putranya sebagai kode. Sejak kemarin, ia memang menyuruh putranya untuk mundur dan tidak melanjutkan pernikahan ini.


Fatimah berujar, “ apa kata dunia, seorang menantu keluarga Mustofa, buta.”


Al menatap mata ibunya yang membulat dan menyuruhnya untuk mengatakan sesuatu pada Tina. Namun, Al tidak mengatakannya, pria itu memilih untuk mengakhir percakapan ini.


“Bira, tidurlah! Ini sudah malam. Besok kita akan bangun pagi – pagi kan?”


Tina alias Shabira menurut, sambungan telepon itu pun terputus setelah Tina mengucapkan salam dan Al menjawab salam itu dengan lengkap.


“Tuh, Al. bira saja udah tahu diri. Dia sudah mengatakan untuk mundur. Kenapa kamu masih saja ingin menikahinya?” tanya Fatimah kesal.


Al terdiam.


“Menikah itu supaya ada yang mengurus. Bira saja tidak bisa mengurus drinya sendiri, bagaimana dia bisa mengurusmu, Mas? Apalagi nanti kalau kalian punya anak. Ibunya tidak bisa melihat, terus anaknya siapa yang mengurus? Pernikahan itu bukan hanya karena cinta, tapi realita. Logis, Mas!”


Fatimah terus mencuci otak putranya untuk mengurngkan niat menikahi Tina.


“Tapi pernikahan sudah tinggal besok, Ummi. Kita sudah mengundang banyak orang. Malu, Mi.”


“Ummi lebih malu, kalau memiliki menantu yang tidak bisa melihat.”


“Benar kata Ummi-mu, Al.” Mustofa datang dan ikut membenarkan perkataan istrinya.


“Tapi …”


“Tidak ada kata tapi, besok Abi akan menelepon Abid dan membatalkan pernikahan ini. Kita tidak akan ke sana.”


“Tapi, Bi …” Al masih tidak tega dengan Tina. Di saat seperti ini, ia malah lepas tangan dan tidak bertanggung jawab.


Al mencoba mengejar kedua orang tuanya. Namun, Rendi menahan sang kakak.


“Kenapa sih? Mas segitunya banget cinta sama Bira? Emang dia cantik, tapi dia banyak kurangnya, Mas.”


“Kamu juga tidak mendukung Mas-mu, sekarang?”


Al terdiam.


“Lagian, Mas juga dekat dengan Habibah kan? Petugas kepala tata usaha di pondok pesantren kita?”


Al mengernyitkan dah. “Tahu dari mana kamu?”


Rendi menyeringai. “Apa sih yang Rendi ga tahu.”


“Jadi, Mas tetap akan menikahi Tina dan kemudian menikahi Habibah?” tanya Rendi bagai seorang dukun yang tahu isi hati kakaknya.


“Rendi kenal Mas Al. Ga ada rahasia diantara kita kan?”


Kemudian, Rendi berlalu pergi.


Selama dua tahun ini, Al memang dekat dengan petugas tata usaha di pesantren milik sang ayah yang bernama Habibah. Gadis cantik, santun, dan selalu tersenyum.


Setelah kabur ke Jakarta, hati Al yang kosong sempat terisi oleh Habibah dan itu terjadi saat keduanya sering terlibat pekerjaan. Setiap minggu Habibah bertemu Al untuk memberi laporan keuangan pondok, sebelum Al serahkan menyeluruh pada ayahnya. Mereka juga sempat terlibat pekerjaan untuk program study tour santri ke timur tengah. Kala itu, mereka ingin mengenalkan tentang sekolah – sekolah yang ada di Mesir. Selama enam hari di sana, Al dan Habibah yang ditugaskan sebagai pembimbing, nampak semakin akrab.


Al ingin memiliki Tina, walau dengan segala kekurangan yang ada. Ia yakin dengan kekurangan itu, Tina akan mau diduakan, karena Al juga belum bisa melepas wanita yang sama sekali tidak Tina ketahui ini. Dan di sana, Habibah dijanjikan banyak hal oleh Al. Habibah pun rela untuk jadi yang kedua setelah Al menikahi Tina nanti.


Sayang, niat Al tidak berjalan sesuai keinginan. Fatimah dan Mustofa mengganjal rencana yang mereka tidak ketahui. Bahkan Mustofa dan Fatimah tidak pernah tahu bahwa putranya dekat dengan salah satu pegawai mereka yang berlatar belakang anak yatim piatu.


Al pasrah. Hingga saat pagi tiba, keraguan semakin mendera, ditambah kedua orang tuanya yang tetap tidak merestui. Rumah yang seharusnya tengah sibuk dan ramai, kini tampak sepi.


Al menatap jam di dinding kamarnya, seharusnya ia sudah menjadi pasangan suami istri dengan Tina sang pujaan hati, cinta pertama Al. seharusnya ia juga sudah mengucapkan janji suci. Namun, ia hanhya menyendiri.


Krek


Fatimah membuka pintu kamar putranya.


“Mas, masih marah sama Ummi? Ummi hanya melakukan yang terbaik buat kamu. Kalau dulu Ummi dan Abi menggebu – gebu menjodohkan kalian, karena kondisi Bira tidak seperti ini.”


“Ummi hanya tidak ingin melihat anak Ummi kesusahan,” ujar Fatimah.


Al menarik nafasnya kasar. “Baiklah. Al menurut, tapi nanti Ummi harus menurut. Al tidak ingin dijodohkan lagi. Al ingin menikah dengan pilihan Al sendiri.”


“Asal bibit, bobot, dan bebetnya jelas, Ummi tidak masalah,” jawab Fatimah.


Tring


Ponsel Al berdering menunjukkan sebuah pesan.


“Mas Bro, Ini uang proses pernikahan yang sudah kamu dan keluargamu berikan pada Bira, aku kembalikan dan aku lebihkan. Terima kasih tidak datang.” Jhon menyematkan emot senyum diakhir kalimatnya.


Dada Al pun bergemuruh. Sesuatu yang tidak ia prediksi, akhirnya terjadi.