Cinta Si Bule

Cinta Si Bule
Thank you, Allah


Tina meraba wajah Jhon, dari dahi, pipi, hingga rahang tegas itu. Jhon memejamkan mata merasakan sentuhan lembut tangan Tina.


“Mas, boleh aku memanggilmu Jhon saja saat merintih nanti?”


Jhon tersenyum. Kepalanya mengangguk.


Tina pun merasakan kepala Jhon yang mengangguk. Dan, Tina ikut tersenyum. Masih lekat dikepala, bagaimana dulu ia melakukan dosa itu. tapi kini ia tidak ingin mengingatkanya, karena Tina yakin apa yang akan terjadi malam ini lebih nikmat dari malam – malam sebelumnya yang mereka lakukan tanpa ikatan.


“Mas.”


“Hm.”


Jhon masih setia di atas tubuh Tina. Ia suka posisi ini, karena rasanya tidak ada jarak diantara mereka.


“Aku cinta kamu,” ucap Tina, membuat seketika senyum lebar di bibir Jhon terbit.


“Benarkah?”


Tina mengangguk.


“Lalu, mengapa sebelumnya menolakku?” tanya Jhon iseng. Padahal ia tahu persis alasan Tina tetap memilih Al waktu itu.


“kamu tahu jawabannya, Mas.”


Kepala Jhon menggeleng. “Tidak. Aku tidak tahu.”


“Abi punya hutang banyak pada Pakdek Yai. Keluarga Al membantu pondok pesantren Abi yang saat itu ingin tutup.”


Jhon mendengarkan cerita Tina. Bukan segera bercinta, mereka malah bercengkerama, padahal Tubuh Tina sudah polos. Jhon pun sengaja membesarkan volume AC. Lagi pula Tina tidak akan kedinginan karena Jhon sedang mengungkungnya erat.


Jhon memang aneh. Ia sangat menyukai tubuh Tina yang polos. Jika saat berdua nanti, mungkin ia akan meminta istrinya untuk lebih sering tidak mengenakan apa pun saat di rumah, terutama ketika malam hari.


“Lalu? Kamu ditumbalkan, begitu?”


“Awalnya, aku juga berpikir begitu,” jawab Tina. “Makanya aku lari ke Jakarta dan bertemu denganmu.”


“Jadi, kalau kamu tidak lari ke sini dan bekerja di K-Net korp, kamu sudah menjadi istri Raden Mas Al Fatih.”


Tina tertawa. “Ngarang. Nama depan Mas Al ga ada Radennya.”


“Ya kan biasanya orang Ningrat itu pakai Raden atau nama panjang Al itu Raden Roro Ajeng kertojoso Al Fatih.”


Tina semakin tertawa.


Bugh


Ia pun memukul lengan suaminya. “Ajeng itu untuk wanita.”


Jhon ikut tertawa. Budaya berbeda membuat Jhon harus mengetahui banyak budaya istrinya. Jhon melihat lekat tawa Tina yang lepas dan sangat cantik menurutnya.


“Sayang, bisa kita mulai sekarang?”


“Aku sudah tidak memakai apa – apa, kamu masih bertanya?” Tina balik bertanya.


Jhon pun tersenyum. “Sejak dulu, aku suka melihatmu tidak memakai baju.”


Bugh


“Jhon,” rengek Tina, membuat Jhon kembali tertawa.


Usai bercengkerama ringan, Jhon mulai melanjutkan aksinya. Yang pertama akan ia lakukan adalah mencumbu wajah Tina hingga ke ujung kakinya.


Baru saja, Tina merasakan deru nafas Jhon yang mendekati wajahnya, ia pun menahan dada itu. “Mas, kamu belum membaca doa.”


“Ah. Iya.” Jhon hampir saja lupa.


“Jangan doa makan ya, Mas!”


Jhon tertawa. Ia ingat saat pertama kali duduk bersama keluarga Tina di meja makan dan Utsman memintanya untuk meminta doa sebelum makan.


“Kamu ingat aja sih.”


Tina ikut tertawa. “Iya lah. Itu hal yang paling memalukan.”


“Sayang.” kini Jhon yang merengek, pasalnya hal itu memang hal yang paling memalukan, jadi Jhon memohon pada Tina untuk tidak mengingatkannya lagi.


Tina masih tertawa. Lalu, ia memelankan tawanya dan kembali berkata, “Harusnya kita sholat sunah dua rokaat dulu, Mas.”


Jhon lemas. “Yah, udah begini, Sayang. Tanggung!”


“Udah di ujung ya?” tanya Tina ambigu.


Jhon pun mengangguk polos.


“Andai aku bisa melihat wajahmu, Mas. Aku rindu memandang wajahmu yang tampan.”


Sontak, Jhon kembali mengangkat tangan Tina untuk menyentuh wajahnya. “Semua milikmu dan akan tetap menjadi milikmu. Aku yakin, tidak lama lagi kamu akan mendapatkan donor retina, Sayang. kamu akan melihat lagi dan melihat ketampananku setiap hari.”


“Weeek.” Tina menjulur lidahnya, membuat Jhon tertawa.


Malam pertama mereka di awali dengan penuh canda tawa dan saling bercerita. Kemudian. Jhon kembali mendekatkan wajahnya dengan wajah Tina. Ia mengucapkan doa, lalu memiringkan wajahnya untuk memagut bibir ranum itu.


Cup


Jhon berhasil melahap bibir yang dahulu sering ia buat bengkak.


Tina pun membalas pagutan Jhon. Dengan lihai, Tina membalas pagutan yang semula lembut, kini terus menuntut.


“Ah, Jhon,” rintih Tina saat pagutan terlepas sebentar.


Jhon kembali memagut, kedua tangannya pun ikut meremas dada Tina, membuat lenguhan itu pun lolos dari bibir mungilnya saat ada kesempatan terlepas.


Cukup lama, mereka berpagutan. Pasokan oksigen di dada Tina pun mulai terasa habis. Dan, Jhon menyadari itu, lalu melepasnya.


“Ah. Hosh .. Hosh … Hosh …”


Keduanya berlomba menghirup oksigen.


“Kamu rindu permainan bibirku?” tanya Jhon yang langsung dijawab dengan anggukan kepala Tina.


“Pasti bibirku sekarang sudah bengkak, kan?”


Jhon tertawa. “Seperti biasa. Aku tidak bisa sekali menciummu, Sayang. bibirmu terlalu candu.”


Tina pun tersenyum.


Baru saja, Jhon akan memulai aksinya lagi. Tiba – tiba ponselnya berdering.


Dret … Dret .. Dret …


Jhon mengabaikan deringan itu, apalagi kini ia sedang asyik berada di dua gunung kembar Tina yang kenyal.


“Mas, Ah.” Tina meremas rambut Jhon, apalagi saat pria itu menggigitnya kuat.


“Mas. ponselmu.”


“Ah.”


“Jhon.”


Plup


Jhon melepaskan aksi kegemarannya itu, lalu menatap ponsel yang ia letakkan di nakas. “Pasti itu Alex. Dia selalu saja mengganggu kalau kita sedang bercumbu.”


Tina tertawa. “Ya sudah. Angkat dulu! Siapa tahu penting.”


Dengan terpaksa Jhon bangkit dan mengambil ponselnya. Di layar tertera nama Papi Baim.


“Dari siapa, Mas?” tanya Tina yang tak mendengar suara Jhon.


“Papi. Tumben Papi menelpon malam – malam. sebentar ya, Sayang,” ucap Jhon yang kemudian mengangkat panggilan telepon itu.


Tina mengangguk. Ia pun bangkit dan duduk di tempat tidur. Tangannya meraba ke samping untuk mengambil pakaian yang Jhon lepaskan tadi. Tina memakai lagi dresnya.


“Assalamualaiku.”


“Waalaikumusalam, Jhon. Maaf Papi meneleponmu malam – malam.”


“Tidak apa, Pi. Bagaimana? Apa ada kabar baik?” tanya Jhon antusias.


Setiap kali mendapat telepon dari ayah sambungnya, Jhon berharap ada pendonor untuk retina ssang istri.


“Iya, Jhon. Ada. Dan semoga cocok.”


“Alhamdulillah.” Jhon menatap ke arah istrinya yang sedang duduk di atas tempat tidur dengan tatapan lurus ke depan.


Tina yang berada di sana pun mendengar suara suaminya yang mengucap syukur. Ia menutup mulutnya dan ikut mengucap syukur, walau tidak tahu pasti hal apa yang terjadi.


“Ya, Jhon. Ada seorang ibu penderita kanker serviks. Dia sedang koma. Sebelum pembedahan ke liam ini dilakukan, dia sudah berpesan demikian. Siakhir hidupnya, dia ingin bermanfaat untuk orang lain dan bersedia mendonorkan retinanya.”


“Lalu?” tanya Jhon.


“Siapkan dirimu dan Tina. Segeralah ke sini. karena kondisi ibu itu semakin memburuk. Ketika ibu itu tiada, maka operasi segera dilakukan. Tidak bisa menunggu satu kali dua puluh empat jam untuk melakukan itu, Jhon. Kau mengerti?”


Jhon langsung mengangguk. “Ya, Pi. Aku mengerti.”


“Oke. Kalau begitu segeralah datang!”


“Baik. Pi. Terima kasih.”


“Assalamualikum.”


“Waalaikumusalam.”


Jhon membalas ucapan salam ayah sambungnya, lalu menutup sambungan telepon itu dengan kembali mengucapkan rasa syukur.


“Mas, Apa kata Papi?” pertanyaan Tina membuat Jhon tersentak. Ia menoleh dan menghampiri istrinya.


“Sayang. sudah ada pendonor retina untukmu.”


“Benarkah?”


Jhn mengangguk bahagia. “Benar, Sayang. kita harus segera ke Penang.”


Kepala Tina mengangguk. Sungguh, ia sangat bersyukur, hingga airmatanya tak terasa mengalir dengan sendrinya.


“Terima kasih, ya Allah.”


Jhon yang senang, langsung menarik tubuh Tina dan memeluknya. Ia mengecup pucuk kepala itu berkali – kali.


“Thank you, Allah,” ucapnya.