Cinta Si Bule

Cinta Si Bule
Menerima pinangan


Acara empat puluh hari doa untuk Utsman hampir selesai. Di sana, para santri wanita membantu Tina, Arafah, dan Munah untuk membagikan kue yang sudah mereka kemas untuk seratus orang. Mereka pun sudah mengemas bahan – bahan makanan sembilan bahan pokok yang dikemas dalam goodi bag berbahan kain yang akan diberikan setelah makanan dan kue.


Di antara para pria yang mengikuti pengajian itu, Jhon menangkap sosok Tina yang sedang sibuk di sana.


Tina tidak menyadari arah mata Jhon yang terus menatapnya dan berharap Tina membalas tatapan itu.


“Ning Bira, dari tadi diliatin Mas Bul.”


Tina mendengar ucapan Munah dan mengikuti arah mata Munah. Ia pun melihat ke arah Jhon dan Jhon memang masih menatap ke arah itu.


Dari jarak yang cukup jauh, Jhon tersenyum. Dan, Tina membalas senyum itu. seketika, hati Jhon berbunga. Ia benar – benar merasa memiliki kesempatan, karena semakin hari sikap Tina tak lagi ketus seperti sebelumnya. Apalagi anggukan wanita itu saat ia sempat bertanya, apakah masih memiliki kesempatakan untuk memilikinya? Jhon pun kembali bersemangat.


“Ih, Mas Bul ganteng banget, Ning.” Munah justru yang terlihat ke ge – er an sendiri.


Tina masih tersenyum. Lalu, ia mengalihkan pandangan itu dan melanjutkan aktfitasnya. Namun, saat ia mencobna melihat lagi ke arah Jhon, pria bule itu pun ternyata masih menoleh ke arahnya, walau sembari memakan kue yang tersaji di sana.


“Ning Bira, kalau jadi sama Mas Bul, pasti anaknya ganteng – ganteng dan cantik – cantik,” celetuk Munah lagi. ternyata wanita itu masih memperhatikan dua insan yang sedang saling mencuri – curi pandang.


“Apaan sih, Mbak Munah? Ada – ada aja,” jawab Tina sembari tersenyum dan menggelengkan kepala. Ia tidak berani berharap, walau sesungguhnya hatinya ikut berharap demikian dan mengamikan perkataan Munah.


Diantara para santri dan warga yang mengikuti pengajian, juga terdapat keluarga. pengajian yang sudah selesai itu dikhususkan untuk para lelaki saja, sedangkan para wanita hanya membantu merapikan makanan dan barang bawaan di belakang.


Jhon duduk bersama para santri yang mengikuti talaqqi sore tadi. Di seberangnya ada Alif dan Al Fatih yang duduk berjajar dengan Abid, Mustofa, Utadz Abdullah dan para guru besar pondo pesantren ini. Mereka bercengkerama ringan sembari menikmati makanan kecil yang disajikan.


“Bid, minggu depan saya sudah tidak mengajar di sini ya,” ujar Utadz Abdulla pada Abid.


Abid mengangguk. Abdullah memang hanya bisa mengisi program ini selama satu bulan saja sebelum guru sebenarnya ada. Dan saat ini, Abid sudah menemukan guru yang akan memegang program itu.


“Jadi, talaqqi minggu depan tidakd engan Utadz Abdullah lagi?” tanya Jhon terkejut. karena ternyata hanya dia yang belum mengetahui informasi ini.


Jhon mendekatkan duduk dengan Abdullah.


Lalu Abdullah tersenyum dan mengangguk. “Iya, Jhon. Kebetulan Gus Abid sudah menemukan guru. Saya hanya diperbantukan saja selama Gus Abid belum mendapatkan guru tetap,” ujarnya tawadhu.


Abdullah benar – benar menerapkan ilmu dan tata cara bersikap Rosulullah sehari – hari. Ia bersahaja, rendah hati, dan bertutur kata lembut. Tidak heran jika Alex waktu itu sangat mengidolakannya dan kini, Jhon pun mengikuti jejak sahabatnya. Menurutnya, Abdullah memiliki beberapa kesamaan dengan Utsman, tapi tidak sama dengan Mustofa. Kiya itu agak tinggi hati, terdengar dari tata cara bicaranya saat bersama orang lain.


“Utadz akan kembali ke Jakarta?” tanya Jhon lagi, yang langsung di angguki Abdullah.


“Iya, benar.”


Abdullah memang tinggal di ibukota. Baginya, mengajak anak – anak muda di kota lebih menatang. Banyak suka dukany di sana. Lagi pula, kebetulan Abdullah mendapatkan istri yang sudah menetap lama di kota itu, sehingga ia pun mengikuti istrinya.


Jhon tersipu malu. ia pun tersenyum.


“Beruntung, wanita yang akan mendapatkanmu nanti.”


Kata – kata yang keluar dari mulut Abdullah, di dengar oleh Abid. Kakak lelaki Tina, itu pun tesenyum. Namun di balik itu, ada saja orang yang tidak suka dengan perkataan Abdullah.


Hari ini, hari yang cukup melelahkan untuk keluarga besar Tina, termasuk Tina sendiri. Usai semua barang – barang yang mereka kemas terdistribusi, Tina, Arafah, dan Munah kembali ke rumah. Kebetulan, di rumah itu hanya ada Hasna dan Fatimah, karena memang sebagian besar penghuninya berada di Masjid saat acara berlangsung.


“Na, bagaimana?” tanya Fatimah pada Hasna.


“Apanya, Mbak?” Hasna balik bertanya.


“Itu loh, kelanjutan hubungan Al dan Bira. Saya ndak tega melihat Al yang sepertinya suka sekali dengan putri bungsumu.”


Hasna terdiam. Sungguh, jika disinggung masalah ini, ia pun bingung. Pasalnya, Tina terlihat biasa saja. Apalagi sang putri pernah mengatakan bahwa dirinya tak memiliki perasaan apa pun dengan Al Fatih. Tina hanya menganggap pria itu sebagai kakaknya saja, tidak lebih.


“Na, kamu lupa jasa – jasaku dan Mas Mus dulu? Siapa yang ikut membangun pondok pesantren ini saat mau tutup? Kami, Na.”


Fatimah mulai mengungkit masa lalu. Masa lalu yang cukup rumit dan pelik, ketika pondok pesantren yang dibangun orang tua Utsman sempat mengalami penurunan. Penurunan itu pun diikuti oleh pendanaan yang kurang karean saat itu kedua orang tua Utsman sakit bersamaan dan membutuhkan biay yang tidak sedikit.


“Kalian tidak ingin membalas budi kami?” tanya Fatimah lagi, seperti orang memaksa.


Hasna terlihat seperti orang yang tersudut. Dan di balik tembok dapur, Tina dan Arafah mendengar percakapan itu. bahkan Munah pun ada dan hanya bisa terdiam. Sungguh, mereka baru mengetahui hal ini. Mereka baru tahu kalau keluarganya berhutang budi banyak oleh keluarga Mustofa. Dan Abid pun baru mengetahui ini karena Mustofa juga mendesaknya dengan mengungkit masa lalu ini padanya.


“Lagi pula, Mas Utsman juga menginginkan Bira dengan Al. Apa lagi yang harus ditunda? Langsung saja nikahkan mereka.”


Hasna menatap Fatimah. “Saya tergantung bagaimana Bira, Mbak. Klau Bira setuju, saya akan dengan senang hati setuju. tidak ada yang kurang dalam diri Al. tapi masalahnya kan Tina …”


“Iya, Ummi. Tina setuju.”


Tiba – tiba suara Tina menyela ucapan Hasna yang belum tuntas. Kedua wanita itu pun menoleh ke arah Tina. Sedangkan satu orang pria berdiri mematung di ruang tamu dan mendengar ucapan Tina.


Arafah dan Munah yang berada di tengah antara Tina, Hasna dan Fatimah yang ada di dapur dengan Jhon yang masih berdiri di pintu ruang tamu, merasa bingung.


“Tina menerima pinangan Mas Al, Ummi.”


Jedar


Serasa tersambar petir di tengah malam. Jhon pun terdiam. Hatinya bergemuruh. baru tadi siang, Tina memberinya peluang, mengangkatnya tinggi ke angkasa, kini ia dijatuhkan tiba – tiba. Seketika, peluang itu pun sirna tak tersisa.