Cinta Si Bule

Cinta Si Bule
Bidadari surga


"Mas Alif, ayo berangkat! Shabira udah nunggu tuh.”


Arafah menggoyangkan bahu suaminya. pasalnya setelah pulang dari masjid, Alif justru malah ke kamar dan kembali tidur. Semalam ia memang sedikit bergadang, karena lama tak jumpa teman sepondoknya yang kebetulan sedang berada di sini untuk menggantikan beberapa kali kajian yang biasa dipimpin ayah mertuanya.


“Sayang, Mas masih ngantuk.”


“Lah gimana sih, Mas? Mas udah janjiin Shabira ke Jogja loh hari ini.”


Alif mencoba untuk membuka mata. ia pun berusaha bangkit dan duduk. “Mas ajak Al, ya. Biar bisa gantian nyetir.”


“Tapi nanti Bira marah,” sahut Arafah.


“Ya, nda usah di kasih tahu.”


“Aku juga pengennya gitu, supaya mereka deket.”


Alif pun tersenyum menanggapi sang istri. “Lagi pula, sepertinya Al suka adikmu.”


Arafah mengangguk. “Ya, sih. Setiap kali ketemu Bira, tatapan Mas Al cukup lama, walau cuma sekali tatap.”


“Iya, kan kalau dua kali ga boleh, apalagi sampe tiga kali. Jadi memanfaatkan sekali tatapan.”


Arafah tertawa. “Jangan – jangan prinsip itu juga yang kamu terapkan waktu kamu datang ke rumah dan melihatku. Iya kan? Ngaku?”


Alif ikut tertawa. “Yah, ketahuan.”


Pasangan suami istri yang sedang bercengkerama di dalam kamar dengan pintu yang sedikit terbuka itu tampak terlihat mesra. Kemesraan itu seketika membuat Tina iri dan teringat pada Jhon.


“Hayo, jalan! Malah mesra – mesraan sih.” Tina sengaja membuat kaget pasangan suami istri itu.


Arafah menoleh dan Alif menoleh. Suami dari kakak Tina itu pun meledek, “Makanya cepat tentuin pilihan. Supaya bisa mesra – mesraan, Dek.”


Tina mengerucutkan bibir dari balik celah pintu yang terbuka itu. “Udah cepet rapih – rapih! Katanya mau berangkat pagi. Lah ini malah udah hampir siang.”


“Yo,” sahut Alif dan segera beranjak.


Arafah tersenyum dan mulai merapikan keperluan suaminya, serta keperluan untuk perjalanan mereka.


Setelah satu jam berbenah, Alif pun sudah berada di dalam mobil bersama Al Fatih.


“Dek, ayo! Udah keburu siang nih. Tadi kamu yang minta buru – buru, sekarang malah lelet,” kata Arafah yang menyusul Tina kembali ke dalam rumah, karena sang adik belum juga muncul ketika dirinya menunggu di dalam mobil.


“Iya, Mbak. Sebentar.”


“Dari tadi sebentar terus. Mas Alif kasihan udah lama nunggu di mobil.”


Tina keluar dari kamar dan menghampiri sang kakak yang sedari tadi mulutnya tak bisa diam. “Iya, Mbakku yang cerewet.”


“Wes, cerewet – cerewet gini juga ada yang mau,” imbuh Arafah.


“Ya, dan yang mau juga bucin banget.”


Arafah ikut tertawa. Kedua kakak beradik itu bersenda gurau hingga sampai di dalam mobil. Melihat seseorang duduk di kursi kemudi yang kebetulan berada tepat di depan Tina, Tina pun menghentikan tawa.


“Mas Al ikut?” tanyanya.


“Iya, Dek. Mas Alif ngantuk, jadi biar bisa gantian,” sahut Arafah yang diangguki kepala Alif dari kursi penumpang depan.


Al menoleh ke arah Tina. “Kamu keberatan?”


Tina pun menggeleng. “Dari pada pulang ga selamet karena menolak seorang Gus. Jadi, ya sudahlah.”


Dengan enteng dan cuek, perkataan Tina cukup membuat Arafah dan Alif terdiam. Lalu, Tina menoleh ke Arafah, Alif, dan Al bergantian.


“Kok diem? Ayo jalan!”


Arafah nyengir. Sungguh, sikap Tina memang sedikit bar bar dan cuek. Ia seperti bukan seorang Ning yang santun dan berbicara lembut.


Al yang berada di depan pun tersenyum. sesekali ia melihat kaca spion dalam dan mencuri pandang ke arah Tina yang kebetulan duduk persis di belakangnya.


Arafah menyenggol lengan Tina. “jadi perempuan jangan galak – galak!”


“Biarin!”


Keadaan diri membuat Tina merasa tidak ingin didekati seorang Al Fatih. Tina cukup tahu diri, karena dirinya dan Al bagai langit dan bumi. Pikir Tina, saat ini Al menyukainya karena belum mengetahui masa lalunya. Dan mungkin jika sudah tahu, Al pasti tidak akan menerimanya. Oleh karena itu, sejak awal lebih baik Tina acuh pada pria itu. Namun, keacuhan Tina justu membuat Al merasa tertantang.


****


“Jhon, kamu akan meninggalkan aku dan Michelle di sini?” tanya Grace yang baru saja memasuki kamar Jhon.


“Kalau kamu masih ingin di sini. Silahkan! Kamu akan ditemani orang suruhanku.”


“Jhon. Maaf!” Grace berusaha meraih lengan kekar Jhon.


“Kamu menipuku, Grace. Kamu benar – benar tega. Bahkan Kamu dan … Ah, ****!” Jhon tidak kuasa untuk melanjutkan perkataannya. Terlebih setelah akhirnya Grace mengakui perselingkuhan itu.


Ya, Jhon memang memiliki kembaran yang bernama Jhonny. Mereka terpisah, seiring perpisahan yang terjadi pada kedua orang tua mereka. Hak asuh terbagi dua, Jhon dengan ibunya dan Jhonny dengan ayahnya. Perpisahan terjadi saat kedua anak kembar identik itu berusia tujuh tahun. setahun kemudian, keduaorang tua mereka menemukan pasangan hidupnya lagi. Ibu Jhon mendapatkan orang Singapura dan menetap di sana, sedangkan Jhonny masih tetap di Australia. Walau tidak sering bertemu, Jhon dan Jhonny tetap berinteraksi. Dan satu bulan sebelum Grace meninggalkannya, Jhonny memang sedang bertandang ke Singapura. Jhonny pun menginap di apartemen Jhon.


“Itu kesalahn, Jhon. Waktu aku ke apartemenmu, aku kira itu kamu, tapi ternyata kembaranmu. Kalian begitu mirip sehingga aku tidak bisa membedakan,” ucap Grace yang masih mengelak jika dirinya dituduh selingkuh.


“Dan kamu melakukannya?”


“Itu tidak sengaja, Jhon.”


“Ketidak sengajaan yang berulang? hingga kamu hamil?” Jhon tak habis pikir


“Karena kamu terlalu sibuk. Kamu sibuk membangun bisnis bersama Alex dan aku sering diabaikan.” Grace nasih membela diri.


Jhon pun tidak peduli. Ia tidak ingin membahas masa lalunya bersama Grace. Lagi pula perselingkuhan itu tidak membuatnya sakit, karena memang ia sudah tidak memiliki rasa terhadap Grace. Namun yang membuatnya sakit adalah ketika ia harus memperjuangkan orang yang tidak layak diperjuangkan.


“Dan saat Jhonny meninggalkanmu, aku yang menjadi tumbal?” tanyanya kesal.


“Ini demi Michelle. Sejak lahir, dia tahu bahwa Jhonny adalah ayahnya. Kami tinggal bersama. Keberadaan Jhonny sangat berarti baginya dan saat dia seperti ini, aku hanya ingin tetap menghadirkan sosok Jhonny melalui kamu.”


“Crazy!” Jhon benar - benar marah. “Dan karena kamu, aku kehilangan cintaku.”


“Jhon, maaf! Aku mohon kerjasamanya. Aku janji akan pergi dari kehidupanmu, jika Jhonny kembali.”


Sontak, Jhon pun membulatkan matanya di depan Grace. “Kau benar – benar wanita paling egois, Grace. Aku menyesal pernah mencintaimu.”


Jhon langsung menarik koper dan keluar dari kamar itu.


“Daddy.”


Jhon melewati Michelle. Ia tidak peduli dengan teriakan itu. Namun, kakinya terhenti. Walau bagaimana pun, Michelle adalah keponakannya.


Jhon pun membalikkan tubuhnya dan menghampiri anak kecil itu. Jhon berjongkok di depan Michelle.


“Sayang, bersenang – senanglah di sini! Aku ada pekerjaan. Nanti, Michelle dan mommy akan ditemani orang suruhanku. Oke!”


Dahi Michelle mengernyit karena Jhon memanggil dirinya dengan sebutan Aku. Jhon pun bingung harus menyebut dirinya dengan sebutan apa? karena jika tetap dipanggil Daddy, ia tidak ingin memberi harapan pada anak kecil itu. Namun, jika ia menyebut dirinya Uncle, Michelle pasti akan bingung.


Tanpa menoleh lagi, Jhon langsung pergi. ia membawa mobil yang sudah ia sewa untuk bepergian selama berada di kota ini.


Jhon melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tanpa arah. Ia tak memiliki tujuan. Ia hanya ingin berkendara untuk melampiaskan kekesalannya.


Di tempat yang tak jauh dengan Jhon, rombongan Tina berhenti di sebuah restoran khas Jogja. Mereka baru menempuh separuh perjalanan. Namun, waktu sudah menunjukkan waktu Zuhur, sehingga Al dan Alif menepi untuk melaksanakan sholat. Mereka sengaja mencari restoran yang di dalamnya terdapat mushola.


Di dalam mobil, perut Jhon terasa lapar. Sejak pulang berolahraga, ia belum menyempatkan diri untuk sarapan. Perdebatan dengan Grace membuatnya melewatkan jam sarapan pagi yang sudah disiapkan hotel.


Jhon piun menepikan mobilnya di sebuah restoran khas Jogja. Jhon masuk ke dalam restoran dan mengerlingkan pandangan untuk mencari tempat duduk dengan view yang indah. Namun, tatapannya menangkap sosok wajah yang sangat familir. Akan tetapi, dahi Jhon mengernyit dan sengaja mengucek mata. ia takut salah orang, karena sosok familiar itu tampak sangat berbeda.


Wanita yang terus dipandangi Jhon, baru saja keluar dari musholla. Langkah kaki Jhon terus mendekati wanita itu. Namun, wanita itu tak menyadari kehadirannya karena dia sedang menunduk untuk mencari alas kaki yang ia lepaskan saat memasuki musholla tadi.


Dan, ketika wanita itu mendongak untuk jalan, dia pun terkejut.


“Jhon?”


“Tina?”


Jhon terpana. Ia seperti sedang melihat bidadari dari surga. Tina tampak berbeda. Namun, entah mengapa ia menyukai penampilan Tina saat ini, walau tak dipungkiri bahwa ia rindu tubuh sexy itu.


“Shabira, ayo!” seorang pria memanggil Tina dengan lembut.


Dada Jhon lansung bergemuruh. Apalagi saat melihat Tina memilih menoleh ke arah pria itu dan pergi dengannya, lalu meninggalkan Jhon yang masih mematung.


“Tidak. Tidak.” kepala Jhon menggeleng.


Ia tidak bisa membayangkan bahwa wanita yang hampir membuatnya mimpi basah setiap pagi itu dimiliki orang lain.


“Tidak. ini tidak benar.”