Cinta Si Bule

Cinta Si Bule
Welcome to Jogja


Ting Tong


Jhon yang seharian ini hanya mengisi waktu dengan tidur, makan, dan nonton televisi itu pun akhirnya beranjak dari sofa menuju pintu yang baru saja ditekan belnya.


Setiap hari libur menjelang, rasanya Jhon sangat bosan. Ia lebih suka hari kerja dibanding hari libur, padahal saat bersama Tina, Jhon selalu mendamba hari libur, jauh sebelum waktunya weekend, Jhon malah sudah mempersiapkan kegiatan yang akan mereka lakukan saat weekend datang. Tapi kini, Jhon lebih banyak menyibukkan hari – harinya dengan bekerja dan mengurus Michelle. Dan beruntung saat ini Michelle pun dalam keadaan baik. Tiga bulan perawatan sangat intensif, akhirnya Michelle dikatakan mendekati kesembuhan, wlau kontrol rawat jalan tetap dilakukan dan pada saat tiga bula itu Jhon tidak kenal lelah bolak balik Jakarta Singapore hanya untuk menyeimbangkan antara pekerjaan dengan tanggung jawabnya bersama anak kecil yang sang mantan akui sebagai anaknya, diikuti dengan bukti hasil DNA yang membuat Jhon percaya.


“Jhon, kamu masih tidur?” tanya seorang wanita yang berdiri bersama anak kecil.


“Grace?” Jhon terkejut melihat kehadiran seseorang yang membuatnya kehilangan Tina. Ia juga menoleh ke arah gadis kecil yang sedang tersenyum.


“Daddy.”


Anak kecil itu langsung meminta Jhon untuk menggendong dan dengan senang hati Jhon menggendongnya.


Tanpa dipersilahkan masuk, Grace pun memasuki apartemen itu seraya berkata, “Kamu lupa ingin mengajak kami jalan – jalan ke Jogya?”


Jhon mengernyitkan dahi.


“Bahkan aku masih memegang tiket pesawat kepergian kita.” Grace menunjukkan tiket itu pada Jhon.


“Ayo, cepat bersih – bersih! Kami menunggumu.”


Jhon menurunkan sang putri dan bergegas ke kamar mandi.


“Jhon, apartemenmu berantakan sekali,” ujar Grace melihat apartemen Jhon yang seperti kapal pecah.


“Sudah tidak perlu dibereskan,” teriak Jhon.


“Tidak apa, sambil menunggumu siap,” sahut Grace yang dengan senang hati merapikan isi apartemen itu, padahal Jhon tidak pernah menginginkan hal itu, bahkan Jhon selalu melarang Grace untuk memegang barang miliknya.


Bukan karena tidak ada alasan, mengingat beberapa foto Tina yang terpajang tiba – tiba menghilang tiap kali Grace datang ke apartemen ini dan membereskan beberapa barang yang terserak.


Jhon dengan terpaksa mengikuti keinginan dua wanita itu beda usia itu. Ini adalah janjinya saat Michlle tengah mengalami drop. Ia berjanji pada Michelle untuk mengajaknya ke Indonesia dan berlibur ke Jogja. Satu minggu lalu, janji itu pun ditagih Michelle. Alhasil sudah tiga hari Grace dan Michellle di Jakarta. Namun, selama tiga hari itu, Jhon tidak pernah menemani mereka berjalan – jalan di ibukota. Jhon hanya menyiapkan sopir untuk anak dan ibu itu.


Dan untuk hari ini ia pun memenuhi janjinya yang lain. lalu setelah itu ia akan bicara pada Grace untuk memenuhi tanggung jawabnya yang lain, mengingat tanggung jawabnya pada Michelle sudah terpenuhi, kini ia ingin memenuhi janjinya apda Tina.


Setelah menempuh perjalanan cukup lama dan jauh akhirnya Jhon tiba di Jogja bersama Grace dan Michelle.


“Hei, kau lelah, baby?” tanya Jhon pada Michelle.


“No.” Michelle menggelengkan kepala. “Aku sudah sangat sehat, Dad.”


Jhon tersenyum. “Good.”


Grace yang berada di samping Jhon pun ikut tersenyum. Lalu, Jhon mengalihkan pandangannya apda Grcae.


“Grace, sesampainya di hotel, aku ingin bicara denganmu.”


Grace mengangguk. Ia pikir Jhon akan membicarakan tentang pernikahan, padahal Jhon justru akan membicarakan tentang pernikahannya bersama wanita pujaannya, bukan dengan Grace.


Jhon bersama Ibu dan anak itu pun tiba di hotel. ketiganya berdiri di resepsionis.


“Kamu memesan dua kamar?” tanya Grace pada Jhon.


“Ya.”


“Michelle akan tidur sendiri?”


Jhon langsung mengernyitkan dahi. “Bukan. Aku yang akan tidur sendiri.”


Tiba – tiba raut wajah Grace pun berubah. Ia pikir, Jhon sengaja memesan dua kamar, karena pria itu ingin sekamar dengannya saja.


“Mom, kenapa Dad tidak tidur di kamar kita?” tanya Michelle pada ibunya saat mereka masuk ke dalam kamar.


“Entahlah, mungkin Daddy hanya ingin sendiri.”


Michelle cemberut. “Mengapa Daddy begitu? Apa Daddy masih memikirkan Aunty Tina?”


Semakin melihat sang ayah, Michelle semakin prihatin, pasalnya kini sang ayah tak seceria dan selucu dulu. Jhon lebih banyak diam dan termenung. Seperti saat ini, ketika mereka menikmati makan malam, usai istirahat sebentar di dalam kaamr usai kedatangan tadi.


“Dad. Stop!” Michelle menahan botol saos dan diikuti oleh tangan Grace yang menahan botol itu.


“Saos yang Daddy tuangkan berlebihan.”


Seketika Jhon pun tersadar kalau sedari tadi ia melamun hingga saos yang dituangkan ke piringnya pun meluber.


“Jhon, kamu kenapa sih?” tanya Grace sembari menggelengkan kepala.


Di tempat berbeda, Tina pun melakukan hal yang sama.


“Dek … Dek … Dek … kecapnya kebanyakan tuh,” ucap Alif saat makan bersama istri dan adik iparnya di sebuah kedai bakso.


“Ah, kebanyakan ya,” sahut Tina yang baru menyadari ternyata mangkuk baksonya tak lagi berwarna putih melainkan hitam.


“Ya ampun, Dek. Apa enaknya kuah kamu?” tanya Arafah tertawa.


“Kamu mikirin apa sih, Dek?” Alif kembali bertanya pada adik iparnya.


Beruntung saat makan di kedai ini, Al Fatih tidak ikut bersama. Itu pun sesuai keinginan Tina yang memang tidak ingin Al ikut bersama mereka.


“Ck. Pasti mikirin si bule itu ya?” terka Arafah.


“Bule? Bule siapa? Adiknya Ummi?” tanya Alif.


Arafah tertawa. “Bukan Bule Sri, Mas. tapi bule, laki – laki blasteran.”


“Oalah, bule beneran?”


“Mas Alif sama Mbak Arafah apaan sih? Ga lucu,” sahut Tina.


Arafah pun memelankan tawa. “Lagian ngapain sih masih inget orang yang ga ada, lebih baik fokus aja sama yang ada di depan mata. Mbak rasa, Mas Al ga keberatan kalau Abi melanjutkan perjodohan yang tertunda dulu.”


Mata Tina langsung membulat ke arah sang kakak. “Mbak Fah. Jangan macem – macem deh.”


Arafah tertawa dan Alif ikut menyumbang tawa.


“Ya, sepertinya dari tatapan Al ke kamu emang beda sih, Dek. Jangan – jangan nanti dia yang langsung minta kamu ke Abi.” Alif menambahkan.


“Ih, ini suami istri samanya. Shabira belummau nikah. Belum siap,” jawab Tina.


“Lah umur udah dua puluh enam masih belum siap. Mau sampai kapan?” tanya Arafah.


“Mbak, Mbak kan tahu kisahku. Aku masih ingin sendiri saat ini.”


Arafah pun terdiam. “Yo wis, terserah kamu.”


“Ya udah, gimana kalau besok kita ke Jogja,” ucap Alif tiba – tiba. “Sekalian refreshing. Kita berangkat pakai mobil.”


“Wah, setuju,” sahut Arafah antusias. Lalu menoleh ke arah sang adik. “Ayo, Dek! Lagi pula kamu udah tiga bulan ngerem terus di kamar.”


Tina terdiam sejenak hingga akhirnya kepalanya mengangguk. “Oke deh. Welcome to Jogja.”


“Yeah,” sahut Arafah senang.


“Aku ajak Gus Al juga ya,” ucap Alif.


“Ngga.” Tina langsung protes. “Kalau dia diajak, aku ga ikut.”


“Ih, ngambek.”


Bibir Tina masih cemberut. Ekspresi kesukaan Jhon yang sedang ia lihat di layar ponselnya. Ia menatap ke layar ponsel dengan galeri yang hampir dipenuhi oleh foto sang pujaan hati.


“Tina, aku akan segera menjemputmu.”