Cinta Si Bule

Cinta Si Bule
Salah doa


Jhon duduk bersila mendengarkan tausiah yang disampaikan Kiyai Utsman. Hari ini jadwal kajian fiqih dan Kiyai Utsman menjelaskan tentang Jimak, tata cara hubungan suami istri di dalam islam.


Kajian yang digelar setelah sholat isya ini, terbuka untuk umum. Kajian ini juga tidak diwajibkan bagi santri. Memilih untuk isirahat boleh, mendengarkan pun boleh. Dan malam ini, sebagian jamaah yang hadir memang mendominasi ibu – ibu dan bapak – bapak.


“Siapa yang bapak – bapak yang setelah selesai langsung tidur? Ndongkol nda, Bu?”


Sorak para ibu – ibu setelah menjawab pertanyaan Pak Yai.


“Adab dalam islam, memang setelah berhubungan itu jangan langsung tidur. Berbicara santai dulu, mesra- mesraan dulu, ketawa – ketiwi dulu. Bicarakan tentang perkembangan anak atau diskusi tentang masa depan, menonton film, atau bisa makan berdua di atas ranjang. Karena setelah berhubungan itu kan laper ya Pak, kalori kita terkuras banyak. Nah setelah itu baru tidur. Terus nanti ada yang bilang, diabetes Pak Yai. Ya, mangannya ra banyak – banyak.”


Sontak jamaah itu pun tertawa.


Jhon mendengarkan dan tersenyum. kemudian, kepalanya melirik ke samping, ke arah ejeran jamaah wanita yang niqabnya terbuka untuk melihat dengan jelas nara sumber di depan mereka.


Jhon menangkap sosok Tina yang duduk di depan bersama sang kakak juga ibu – ibu lainnya. Tina tampak sesekali menunduk dan melihat ke arah sang ayah yang sedang bicara di depan.


Jhon tersenyun memandang wajah cantik Tina yang saat ini sulit sekali dijangkau. Jika dahulu, Jhon dengan mudah dan tanpa meminta izin menyentuh bagian tubuh mana pun yang ia mau, sekarang hal itu terasa sulit. Jangankan menyentuh bagian favoritnya, memegang tangan atau sekedar memeluk Tina saja rasanya susah.


Jhon berharap Tina mengedarkan pandangan dan menoleh ke arahnya. Benar saja, dalam hitungan ketiga, tatapan Tina bertemu dengan Jhon.


Jhon tersenyum lebar dan Tina membalas senyumitu sekilas, lalu kembali menunduk. Sungguh, ia merasakan sesuatu yang sangat berbeda dari wanita yang telah dua tahun mengisi hari – harinya. Tina tampak sungguh – sungguh dalam memperbaiki, membuat Jhon juga memiliki semangat yang sama.


“Nah, gimana Pak, Bu. Sudah hafal toh doa nya? Jangan lupa, ucapkan doa sebelum dan setelah melakukan. insyaAllah kita mendapatkan keturunan yang baik. Kalau pun anak itu pernah melenceng, insyaAllah Allah akan memluruskan jalannya kembali, karena apa? Karena kita juga sudah berusaha untuk melakukan yang terbaik.”


Wejangan sang ayah di penutup kajian itu, seketika membuat Tina tersentil. Yang dikatakan sang ayah seolah dirinya adalah contoh itu.


Jhon masih setia ditemani oleh sopirnya yang bernama Ridwan. Setelah kajian itu usai, Jhon tetap berada di samping Utsman bersama Alif dan Al.


“Sir, apa setelah ini kita akan pulang?” tanya Ridwan mendekat dan pertanyaan itu didengar oleh Utsman, Alif, juag Al.


“Tidak. urusan saya belum selesai. Kamu itirahat saja dulu dan cari tempat makan.”


Jhon hendak mengambil dompet di sakunya dan mengeluarkan uang untuk Ridwan Namun, Utsman menahan.


“Buat apa makan diluar? Pasti Ummi, Arafah, dan Shabira sudah menyiapkan makan malam. Kita makan malam bersama. Ayo!”


“Terima kasih, Abi.” Untuk pertama kali, Jhon memanggil Utsman dengan sebutan Abi, karena sebelumnya ia memanggil Utsman dengan sebutan Pak saja.


Utsman pun mengangguk dan kembali berjalan menuju rumah. Ustman berjalan beriringan dengan Jhon, sementara Alif dan Al di belakang mereka.


“Sir ke sini mau meminta Tina bekerja di Jakarta lagi?” tanya Utsman pada Jhon di sela langkah mereka untuk menghilangkan kecanggungan, karena terlihat Jhon begitu canggung saat berdekatan dengannya dan Utsman mencoba mencairkan suasana.


Kepala Jhon menggeleng. “Tidak, Bi. Ada yang lebih pribadi lagi, yang inging saya sampaikan.”


Kaki Utsman terhenti tepat d depan pintu rumahnya. Dahinya mengernyit. “Hal penting apa?”


“Hm. Boleh saya bicara hanya dengan Abi saja?” tanya Jhon.


Utsman melirik ke belakang. Alif dan Al pun segera pergi. begitu juga dengan Ridwan, sopir Jhon. Utsman menangkap raut wajah serius di wajah pria bule yang tampan itu. Jhon yang tinggi, harus memasuki rumah itu dengan sedikit menunduk. Jhon mengikuti langkah Ustman ketika akan duduk di ruang tamu.


“Kamu tinggi sekali, Nang. Saya harus mendongak klau melihatmu,” celetuk Utsman sebelum duduk.


Jhon hanya menanggapi dengan senyum, sembari berbicara dalam hati. “Semuanya memang tinggi, Bi. Bahkan rudalku juga tinggi.”


Kepala Jhon mulai korslet, tapi ia kembali fokus untuk membicarakan sesuatu yang penting pada ayah Tina.


“Shabira.”


Belum Jhon mulai berbicara, tiba – tiba Utsman memanggil putrinya. Jhon sangat senang saat Utsman memanggil nama Tina. Satu fakta yang baru ia ketahui bahwa di sini, Tina dipanggil dengan nama belakangnya. Nama itu memang indah menurut Jhon.


“Iya, Bi.” Tina mendekati sang ayah.


Di sana, Jhon menatap sang kekasih dngan senyum. Sedangkan Tina tidak membalas tatapan itu.


“Ambilkan minum untuk Bosmu. Lalu, siapkan makan malam, karena kita akan makan malam bersama dengan bosmu.”


Akhirnya, Tina melirik ke arah Jhon. Ia kira Jhon tidak akan senekat ini. Jhon pun menatap Tina dengan isyarat bahwa ia memenuhi janjinya.


“Ekhem.” Utsman yang melihat putri dan bosnya saling bertatapan pun berdehem, hingga Tina dan Jhon terkejut dan melepaskan pandangan.


“Baiklah, Abi. Bira ke dapur dulu,” ucap Tina.


Utsman mengangguk dan kembali pada Jhon. “Katakan, apa yang ingin kamu bicarakan?”


“Ekhem.” Jhon memulai kalimat dengan sebuah deheman. Ia mengatur bafas dan jantungnya yang saat ini berdegup dengan sangat kencang.


Sungguh, tidak seperti saat presetasi di depan para petinggi. Ternyata ini lebih menegangkan dari itu.


Baru saja ia memulai kata, tiba – tiba Tina kembali datang dengan membawa nampan.


“Alhamdulillah, kopi datang. dari tadi, Abi haus. Ayo diminum dulu!” pinta Utsman pada Jhon.


Jhon pun mengangguk setuju. Ia ikut mengambil cangkir yang berisi kopi manis hangat, seperti yang biasa Tina buatkan untuknya saat dikantor.


“Alhamdulillah, kopi buatan Shabira memang yang paling enak,” ucap Utsman yang rindu akan kopi buatan si putri bungsu.


Jhon mengangguk setuju. “Ya, kopi buatan Tina memang paling enak, semua yang ada di dirinya memang enak.”


“Apa?” Utsman bertanya karena perkataan Jhon terdengar seperti gumaman.


“Ah, tidak apa – apa. saya hanya ingat, kalau di kantor, Tina juga suka membuatkan saya kopi.”


“Oh.” Utsman membulatkan bibir.


“Oh, ya. Teruskan perkataanmu tadi,” ucap Utsman lagi.


“Ya, saya ingin meminang putri Abi, Agustina Shabira.”


Byur


Utsman yang sedang meneguk kopi, tiba – tiba tersedang dan menyembur wajah Jhon.


“Maaf, Maaf. Abi tidak sengaja.”


“Tidak, Bi. Tidak apa.”


Seorang Jhon, CEO K-Net korporate yang disegani pebisnis besar yang lain, karena ke akurasiannya dalam berkalkulasi, disembur oleh seorang Yai.


“Maaf, Sir.” Utsman kembali meminta maaf. Ustman pun masih memanggil Jhon dengan panggilan yang dipanggil Tina dan Ridwan.


Utsman memberikan tisu pada Jhon dan langsung diterimanya. “terima kasih.”


“Oh, jangan panggil saya Sir. Panggil saja saya Jhon, Bi.”


Utsman mengangguk. “Baik, Jhon.”


“Abi …” Hasna berteriak menghampiri dua pria yang duduk di ruang tamu. “Makan malam sudah siap. Ayo makan dulu! Setelah makan, baru dilanjutkan lagi ngobrolnya.”


Keinginan Jhon, kembali tertunda. Ia belum mendapat jawaban dari Ayah Tina. Namun bukan menjawab pernyataannya tadi, Utsman malah bangkit dan mengajaknya ke ruang makan.


“Ayo, kita makan dulu! Setelah itu, kita lanjutkan obrolannya.” Utsman memang sengaja mengulur waktu sembari berpikir dan mencari kata yang tepat untuk menjawab pinangan dari seorang pria yang sama sekali bukan tipe menantu yang masuk dalam katagorinya.


Jhon duduk di antara keluarga Tina. Tapi satu yang tak ia lihat, yaitu Al.


“Bi, Al Fatih tadi pamit mau jemput orang tuanya di alun – alun,” ucap Alif.


“Iya, tadi dia sudah bilang sama Abi, katanya orang tuanya ingin ke sini.”


Alif mengangguk, sementaa Jhon semakin tegang. Ia mencoba mentralkan jantungnya dengan menarik nafas kasar.


“Ayo, Nak Jhon. Pimpin doa, sebelum kita makan bersama.”


Deg


Jhon pun terkejut. Ia benar – benar canggung.


“Hm. Keilmuan saya masih sangat sedikit, Bi. Baru tiga tahun saya mengenal islam,” ujarnya.


“Tidak apa, hanya doa sebelum makan saja kok,” jawab Utsman.


Tina tampak menatap Jhon dan Jhon pun melirik Tina sekilas. Kini, semua mata orang yang duduk di meja makan itu tertuju pada Jhon. Hasna, Utsman, Alif, Arafah, dan Tina.


Jhon pun harus percaya diri. ia menengadahkan tangan lalu mengucapkan doa. “Allohuma jannibnas Syaithona wa jannibnas syaithona maa razaqtana.”


Wek


Dahi Utsman berkerut, begitupun dengan Hasna. Sementara Alif tertawa dan Arafah menyenggol lengan suaminya untuk berhenti meledek.


Jhon bukan mengucapkan doa makan, melainkan doa sebelum berhubungan suami istri seperti yang diucapkan Utsman saat kajian tadi.


Tina pun menepuk keningnya dan mengumpat dalam hati, “Ya salam, Jhoooon.”