
Usai melaksanakan sholat sunah dua rakaat, Jhon kembali memutar tubuhnya dan menghadap Tina. Dengan duduk bersila, Jhon memandang istrinya. Dengan kaki yang masih posisi tahiyat akhir, Tina juga menatap suaminya.
Tina tersenyum dan bertanya. Pasalnya tatapan Jhon sulit diartikan.
“Kenapa? Apa ada yang salah dengan wajahku?”
Jhon menggeleng dengan bibir terkulum.
“Terus?”
Tina menatap kedua mata Jhon. Lalu mengambil tangan Tina dan ditempelkan pada dadanya. “Jantungku berdebar, Sayang.”
Tina tertawa. “Ini bukan yang pertama, Mas.”
“Entahlah, tapi rasanya berbeda. Mungkin karena sudah lama aku tak melakukannya,” jawab Jhon.
“Jadi, kamu benar – benar menungguku selama ini? Tidak pernah berhubungan dengan siapa pun?”
“Sayang, kamu meragukanku?” tanya Jhon kesal.
Tina kembali tertawa dan mengggeleng. Tidak, ia tidak meragukan Jhon. Ia hanya ingin meledek pria bule ini. Biasanya pria seperti Jhon tidak kuat menahan hasrat.
“Lalu, mengapa bertanya seperti itu? Hm?”
“Hanya memastikan,” jawab Tina dengan bibir yang masih tersenyum.
“Tunggu! Pantas saja banyak sekali persediaan sabun di dapur. Ternyata …”
Hap
Jhon langsung membekap mulut Tina. “Kamu banyak bicar, Sayang.”
Jhon melepaskan bekapan itu dan melahap bibir Tina. Kedua tangannya menangkup wajah itu. Dada Jhon semakin bergemuruh. adrenalinnya terpacu diiringi dengan kegiatan yang ia lakukan.
Tin pasrah dan hanya bisa mengikuti permainan bibir yang Jhon lakukan. Kedua tangan Tina meremas baju koko milik Jhon.
Suara kecapan dari bibir yang menyatu itu terdengar di penjuru kamar.
“Ah.”
Setelah cukup lama, Jhon mengakhiri ciuman. kedua kening mereka menyatu. Nafas mereka memburu. Kedua dada mereka pun bergerak tak beraturan. Bagi Jhon, hanya Tina yang bisa mengimbangi kegilaan berciuman. Jhon yang memakai mahir berciuman, mengajarkan Tina yang polos hingga menjadi seperti dirinya dan kini, Tina pun mempraktekkan itu kembali dengan orang yang sama yang mengajarkannya dulu.
Jhon menangkup wajah itu dan menatap ke kedua mata Tina yang indah. Kedua mata indah yang kini berfungsi sebagaimana mestinya lagi.
Jhon tersenyum. Ia adalah orang yang paling bahagia melihat Tina dapat melihat lagi. keduanya saling bertatapan dalam keheningan, hingga Jhon memecahkan keheningan itu.
“Sejak pertama melihat mata ini, aku sudah mulai jatuh cinta. Menatapmu membangkitkan semua rasa. Aku merasa lebih kuat, lebih berarti, disayangi, dan merasa dibutuhkan. Semula aku pikir, seumur hidupku aku akan sendirian, karena pengalaman hidup membuatku takut untuk menjalin hubungan. Dan kamu datang ke dalam rumah gersang tak berpenghuni dengan membawa banyak bunga. Menjadikan rumah itu berwarna dan layak untuk ditempati.”
Tak terasa airmata Tina meleleh. Ini adalah kali pertama Jhon banyak bicara. Jhon bukan pria gombal yang mampu merangkai kata sedemikian rupa untuk membuat lawan jenis terpesona. Tapi malam ini, ia ingin mengungkapkan segala isi hati, segala hal yang ia rasakan dulu dan sekarang. Pasangan yang baik memang yang membawa seseorang menjadi lebih baik dan itu ia dapatkan dari Tina.
Kedua mata Jhon berkaca – kaca. Lalu, ia mengambil kedua tangan Tina dan mengecupnya. Ia menghapus airmata yang meleleh di pipi mulus itu.
Jhon mengecup ke kedua mata Tina. Kecupan Jhon terasa lembut. Jhon juga mengecup kening, ujung hidung dan kedua pipi Tina.
Mendapat perlakuan yang lembut dari Jhon, Tina kembali terisak. Dadanya pun merasakan semua rasa. Terlebih semua hal yang sudah terjadi, Jhon tidak pernah pergi, dia selalu ada di sisi.
Tina memeluk tubuh kekar itu. “Aku mencintaimu, Jhon. Aku akan selalu ada di sisimu. Kita akan selalu menjadi rumah yang nyaman untukmu.”
Tina memeluk erat tubuh Jhon dan Jhon pun demikian. Mereka berpelukan cukup lama, hingga terlerai dan keduanya tersenyum.
“Jadi, aku boleh melakukannya sekarang?” tanya Jhon.
“Tentu. Malah seharusnya dari satu bulan yang lalu.”
Jhon tertawa. Perlahan, tangannya membuka tali mukena yang ada di belakang kepala Tina. Ia meloloskan kain panjang itu hingga menampilkan lingeri merah yang saat ini Tina kenakan.
Jhon pun tersenyum. “Kamu sudah mempersiapkan ini?”
Jhon tidak tahu jika dibalik mukena tertutup itu, Tina sudah memakai gaun malam sexy kesukaannya.
Tina mengangguk. “Kamu sudah melakukan banyak untukku dan aku belum melakukan apa pun untukmu. Malam ini, aku ingin melakukan sesuatu untukmu.”
Senyum yang terkulum itu berubah bagai bulan sabit. Lalu, Jhon mengajak Tina bangkit. Jhon menarik tali gaun yang berada tepat di dada itu, membuat kain itu turun hingga pinggang dan menampilkan dua gunung kembar yang bulat sempurna.
Tanpa Tina sadari, ia menyilangkan dua tangannya untuk menutupi dua gunung yang terpampang itu.
Jhon tersenyum. “Kenapa ditutupi? Malu?”
Tina menunduk dan mengangguk.
Reaksi itu, sungguh membuat Jhon semakin gemas. Kemudian, Jhon beralih pada bagian bawah tubuh Tina yang masih berbalut alat sholat yang belum dilepaskan. Jhon berjongkok dan melepaskan kain itu.
Jhon memang curang, sedari tadi ia melucuti kain yang melekat di tubuh sang istri, tapi dirinya sendiri masih dalam keadaan lengkap.
Tina pun malu dan kembali menutup bagian sensitifnya yang terekspose dengan menyilangkan kedua kakinya.
Jhon tertawa. Tubuh Tina bahkan jauh lebih indah dari para pemain dewasa yang sering Jhon tonton dulu. Dan sejak bersama Tina, ia tak lagi menonton film itu. Saat jauh dari Tina, ia sempat menonton film dewasa itu untuk menuntaskan hasratnya, tapi tidak bisa. justru hasrat itu bisa terlampiaskan saat menatap wajah Tina yang tersimpan di galeri ponsel atau laptopnya.
Kemudian, Jhon membawa Tina ke atas ranjang, meletakkannya perlahan dan mengungkungnya. Jhon mulai membuka pakaiannya sendiri, hingga tak ada lagi kain yang melekat di tubuhnya.
Bruk
“Biar aku yang memimpin.”
Jhon tersenyum lebar. Namun, ia tidak setuju.
Bruk
Jhon kembali mendorong Tina, hingga tubuh wanita itu kembali terlentang.
“Ladies first. Aku ingin memuaskanmu lebih dulu,” bisik Jhon dengn mendekatkan bibirnya ke telinga Tina.
“Allahumma janibnas saythona wa janibnas saythona ma rozaktana.”
Jhon mengucapkan doa yang benar, sesuai dengan aktifitas yang akan ia lakukan. Doa itu lun diikuti oleh Tina sembari tersenyum.
“Ah.” Tina langsung melenguh, karena mulut Jhon mulai langsung melahap leher Tina.
“Mas … Eum.” Kemudian, lenguhan itu terdengar sedikit tertahan karena sensasi sesapan dan gigitan itu.
“Oh.”
“Eum.”
“Mas, aku ga tahan.”
“Mas.”
Tina semakin tak karuan, terlebih saat mulut Jhon sudah bergerilya di bagian bawah tubuh Tina. Jhon tak melewatkan satu senti pun bagian tubuh itu, semua telah ia jelajahi dengan mulutnya. Bahkan jika Tina mengaca nanti, kismark bertebaran di sekujur tubuhnya.
Teriakan dari mulut Tina pun menggema. Beruntung kamar itu kedap suara. Tina tak tahan dengan gejolak yang nikmat akibat ulah mulut Jhon.
Jhon tersenyum. Senang rasanya dapat melihat wajah Tina yang sedang menikmati pelepasannya. Akhirnya, ia bisa menikmai pemandangan itu lagi.
“Very sexy,” gumam Jhon di depan mata Tina yang tertutup.
Tina masih menikmati sisa sisa kenikmatan yang terlepas itu. Dan, Jhon juga masih menikmati raut wajah Tina yang sexy.
Tina pu membuka mata dan memukul lengan Jhon. “Kamu jahat.”
Jhon tertawa. Ia senang melihat wajah merah Tina yang bagai tomat. Tina memang selalu malu ketika terciduk dalam keadaan yang seperti itu. Namun, Jhon justru sangat menikmati pemandangan itu.
“Sekarang giliranku.”
Tombak yang sudah siap menghunus lawan, akhirnya ditancapkan.
“Ah, sakit Mas. Pelan – pelan.”
“Sayang, kenapa sulit?’
“Mungkin karena sudah lama tidak digunakan,” jawab Tina polos.
“Mas,” pekik Tina lagi, karena Jhon kembali menghunus lebih dalam.
“Tahan, Sayang.”
Malam ini benar – benar seperti malam pertama kali saat ia menjebol pertahanan Tina.
“Mas, pelan.”
Ini udah pelan, Sayang.”
“Mas.” Tina tak kuasa, ia pun menekan bahu Jhon hingga tak terasa mencakarnya.
Jhon yang tak ingin memuat Tina sakit, mulai mencium bibir itu dan … “Eum.”
Suara teriakan dari bibir Tina tertahan oleh bibir Jhon yang sedang membungkamnya. Akhirnya, tombak itu tepat menghunus lawan. Semua rasa menjadi satu.
“Sempit, Sayang.”
“Ah.”
Tina yang sudah menikmati permainan, membalikkan tubuh Jhon. “Sekarang, aku yang memimpin permainan.”
“As you wish, babe,” balas Jhon senang.
Gila. Permainan wanita yang sedang menduduki tubuhnya itu memang gila. Tina menari di atas tubuhnya, membuat Jhon begitu merasakan nikmat yang luar biasa.
“Oh, Babe. Ini Gila. Kamu benar – benar hebat. Aku merindukanmu.”
Jhon semakin terbuai oleh permainan Tina. Tidak dipungkiri bahwa salah satu yang tak bisa membuat Jhon lupa adalah ini, kegilaan Tina dalam bercinta, selalu membuatnya puas.
“Oh, Shabira.”
“Oh.”
Tina tersenyum. “Aku akan membuatmu tumbang, Tuan.”
“No! Tidak secepat itu, Babe. Kamu harus menari sampai pagi,” ujar Jhon yang tak ingin aktifitas ini berlalu dengan cepat.
Malam ini benar – benar malam yang indah. Malam panjang yang akan dilalui dengan berbagai macam gaya. Walau lelah karena aktifitas yang sudah mereka lalui sedari pagi, tak menurunkan semangat mereka untuk bercinta sampai pagi lagi.