
"Hai, Sayang. Lagi apa?”
Jhon yang kehilangan sang istri di kamar susai membersihkan diri, bergegas keluar dari sana dan mencari Tina. Ternyata sang istri tengah berdiri di depan kitchen set.
Jhon langsung memeluk Tina dari belakang dan mengecup leher jenjang yang terpampang karena Tina sengaja menggelung rambutnya tinggi ke atas.
“Membuatkanmu kopi,” jawab Tina dengan meraba kopi dan gelas.
Jhon langsung melepas pelukan dan mengambil alih tangan Tina yang sedang meraba benda. “Tidak usah. Aku akan membuatkan sendiri.”
“Jhon. Aku ingin melayanimu,” ucap Tina sedih.
“Hei, kamu lupa memanggilku Mas,” sanggah Jhon yang kembali memeluk sang istri, tapi kini dari depan.
Tina tertawa. “Ah, iya. Aku selalu lupa. Sudah kebiasaan manggil namamu saja.”
“Dasar! Emang ga sopan. Waktu masih jadi sekretarisku, kamu juga hanya memanggil namaku saja.”
“Loh, kan kamu sendiri yang ga mau dipanggil Sir.”
Kemudian, Jhon mendekatkan bibirnya pada telinga Tina. “Ya, karena aku memang tidak ingin dipanggil Sir. Aku inginnya dipanggil Sayang atau Mas.”
Tina bergidik geli. Bulu di bagian punuknya meremang karena bulu halus di dagu Jhon menyentuh klitnya bagian itu.
Tina pun tertawa. “Iya, iya. Mas bul, Sayang.”
Sontak keduanya pun tertawa.
Jhon menatap wajah cantik yang sedang tertawa itu. Walau kedua bola mata indah Tina tak lagi melihat ke arahnya, tapi ia sudah cukup bahagia melihat senyum manis itu setiap pagi.
Jhon mendekatkan wajahnya pada wajah Tina. Sedari tadi bibir ranum itu terus menggoda. Jhon ingin menciumnya. Selama apartemennya penuh, ia tidak bisa melakukan ini, bahkan untuk mencium istrinya sendiri rasanya sulit, mengingat ada dua anak dibawah umur yang menginap di rumah ini, siapa lagi kalau bukan kedua anak Laura yang masih berusia dibawah tujuh belas tahun.
Dret … Dret … Dret …
Ponsel Jhon yang ia letakkan di meja depan sebelum menghampiri istrinya di sini pun berbunyi. Padahal bibirnya baru saja hendak menempel pada bibir ranum Tina.
Tina menahan dada Jhon dan berkata, “ponselmu bunyi.”
“Ck. Menganggu saja.”
Tina tersenyum. ia hafal ekspresi itu, walau tidak bisa melihat ekspresi Jhon saat ini. namun, Tina bisa membayangkan bagaimana rupanya.
Tina merasakan Jhon yang sudah tidak lagi berada di hadapannya. Jhon mengambil ponsel yang ia letakkan cukup jauh dari tempat Tin berdiri.
Jhon menarik nafasnya kasar. Seseorang yang ia prediksi pun terbukti. Yang biasa menganggu dirinya saat berdua dengan sang istri memang selalu saja Alex.
“Halo, Lex. Ada apa lagi?”
Suara Jhon terdengar oleh Tina.
“Ck, ga seneng banget di telepon sih.”
“Ya iyalah, ini udah di rumah. Waktunya aku sama Tina.”
Alex tertawa. “Sorry. Ini urgent.”
“Sebentar, Sayang,” tiba – tiba Alex berkata diluar percakapan.
“Di situ ada Bilqis?”
Alex menangguk.
“Iya, dari kemarin Bilqis minta ke Jakarta buat nemuin kalian. Maslaahnya si twins lagi batuk pilek, jadi kita ga bisa ke mana – mana. sorry ya, Jhon. Kita belum mengucapkan selamat secara langsung.”
“ya ampun. Aku kira ada apa. It’s oke, Bro. Bukan masalah. Lagi pula, kayanya justru aku yang pengen main ke Singapura sama Tina. Sudah lama juga ga ke sana.”
“Wah, ide bagus. Aku akan sambut tamu kehormatan.”
Jhon tertawa, begitu pun dengan Alex. Kedua pria dewasa itu saling bercengkerama. Alex juga bertanya tentang kondisi Tina dan perkembangan pendonor untuknya. Jhon menjawab sesuai fakta yang ada. Ia memang sedang menunggu moment itu tiba.
Kemudian, Jhon melangkah ke ruang tamu dan meninggalkan Tina yang masih berdiri di dapur. Tina tetap bersikeras membuatkan minuman hangat untuk suaminya. ia ingin melakukan sesuatu yang berarti hingga benda mudah pecah yang hendak Tina raih dan merasa sudah pas ia raba pun terjatuh.
Prang
Suara pecahan itu terdengar jelas.
“Bro, nanti aku telepon lagi. wait!”
“Stop, Sayang! Don’t move!”
“Jangan bergerak!”
Tina pun mematung. Ia menurut dan hanya berdiam saja di tempat.
Jhon langsung menghampiri sang istri dan menggendong Tina. Tina hanya merasakan tubuhnya yang melayang. Lalu, Jhon meletakkan Tina di atas sofa.
“Diam di sini, Oke! Aku akan membersihkan pecahan gelas itu.”
Hati Tina kembali terenyuh. Ternyata yang ia jatuhkan adalah gelas yang hendak ia raih tadi. Tina pun duduk mematung. Jika saja ia melihat bagaimana pengorbanan Jhon. Di sana tanpa mengeluh, Jhon membersihkan pecahan itu. Padahal seharian ini, ia begitu lelah dengan pekerjaan dan sesampainya di rumah, ia pun masih tetap belum bisa beristirahat.
Tanpa melihat apa yang Jhon lakukan, Tina sudah bisa merasakan paa yang sedang pria itu lakukan saat ini.
Beberapa menint kemudian, Jhon kembali berjongkok di depan Tina.
“Pecahan gelasnya sudah aku bersihkan. Aku pastikan tidak ada bekas pecahan itu yang bisa melukai kakimu. Lain kali, jangan lagi melakukan itu. Oke!” Dengan suara ceria dan tidak sama sekali memarahi, Jhon menoel ujung hidung istrinya.
Tina terdiam. Ia pun menunduk.
“Hei, kenapa?” Jhon mengangkat wajah Tina dengan menjepit dagunya.
Tina menggeleng. “Seharusnya kamu tidak perlu menikahiku. Aku hanya menyusahkanmu.”
“Hei, aku tidak merasa kesusahan, Sayang.”
“Tapi kamu lelah, Mas. kamu sudah seharian bekerja dan di rumah kamu kembali mengurusku.”
“Dengar!” Jhon sengaja mendekatkan wajahnya dengan wajah sang istri hingga tak ada jarak di antara mereka. “Dengan adanya kamu di sisiku, itu sudah membuat lelahku hilang, Sayang. Sungguh!”
Lagi – lagi, Tina terenyuh.
“Kalau begitu, aku ingin melakukan sesuatu untukmu.”
“Apa?” tanya Jhon bingung.
Tiba – tiba, Tina menurunkan tali tangtop dari dres tidur yang ia kenakan saat ini. Tina melepaskan satu tali yang menyangga di kedua bahunya satu persatu.
“Hei, Sayang. kamu mau apa?” tanya Jhon semakin bingung. padahal ular kobranya kembali meronta.
Cetek
Tina pun melepaskan kaitan kain yang menutupi dua gunung kembarnya.
Tenggorokan Jhon kembali tercekat.
“Sayang. Kamu …”
“Ya, Mas. Ayo kita bercinta! Sudah hampir satu bulan aku menjadi istrimu, tapi aku belum melakukan tugasku.”
“Aku tidak ingin kamu melakukannya karena sebuah kewajiban, atau karena ingin membalas apa yang sudah aku lakukan.”
“Tidak. Siapa bilang?” sanggah Tina. “Aku memang ingin bercinta karena cinta. Aku rindu sentuhanmu,” jawab Tina lagi, tapi kali ini dengan nada genit.
Jhon pun menyeringai. Tina yang agresif, akhirnya kembali. Dan, Jhon merindukan keagresifan itu.
“Oke, siapa takut?” Jhon langsung menggendong istrinya menuju kamar.
“Berapa ronde?” tanya Tina menantang dengan bibir tersenyum.
“Kamu maunya berapa?” Jhon balik bertanya.
“Sampai pagi.”
“Dengan senang hati.”
“Kamu kuat?”
Jhon tertawa. “Jangan ditanya, Sayang!”
“Kamu tidak lapar?” tanya Tina lagi.
“Sekarang aku lagi mau makan besar.”
Sontak, Tina tertawa.