Cinta Si Bule

Cinta Si Bule
Istidraj


Jhon melirik ke arah istrinya. “Itu, ayahnya Al?”


Tina mengangguk.


“Bi.” Zahra menarik ujung bawah koko suaminya.


Abid pun menoleh.


“Allah menunjukkan kuasa-Nya, Bi,” kata Zahra lagi.


Abid terdiam. Tidak. Ia tidak pernah berdoa yang buruk untuk Mustofa, meski sikapnya membuat kepalanya ingin pecah karena harus mengumpulkan dana besar dalam kurun waktu sebentar.


Di kantor polisi, tampak Abdullah mendampingi saudaranya yang sedang terpuruk. Walau tidak sedarah, pertemanan yang cukup lama membuat mereka seperti saudara.


Mustofa memang sudah lama bergabung dalam sebuah kepartaian. Ia juga sedang mencalonkan diri sebagai legislatif. Namun, lisannya yang tak jauh berbeda dengan sang istri, justru malah menjatuhkan dirinya sendiri.


“Abdullah, kerahkan semua santri – santrimu yang lulusan hukum untuk membelaku,” ujar Mustofa di sana.


Abdullah mengangguk. Diantara persahabatan mereka, kini yang Mustofa miliki memang tinggal Abdullah.


“Ya, sampean tenang. Saya akan membantu apa pun yang saya bisa,” jawab Abdullah.


Mustofa terlihat panik. “Aku tidak mau di penjara, Abdullah.”


“Sabar. Banyak – banyak istighfar,” jawab Abdullah lagi, mencoba menenangkan sahabatnya.


Di sana, Al mencoba bernegosiasi dengan petugas. Ia meminta penagguhan penahanan untuk ayahnya, mengingat apa yang dilakukan sang ayah bukanlah sebuah kriminal. Namun, Mustofa terjerat undang – undang ITE dan menggiring publik untuk membenci salah satu pejabat negara yang sedang diusung untuk menjadi gubernur di daerahnya.


“Aku tidak mau di penjara, Abdullah. Tidak. Memangnya aku salah apa? Aku bukan pelaku kriminal. Aku pemilik pondok pesantren,” ujar Mustofa lagi.


Abdullah duduk di depan Mustofa dan mengehmpaskan nafasnya kasar. “Justru karena itu, Allah mengingatkanmu, Gus.”


“Semua yang terjadi atas kehendak-Nya. Tidak ada kejadian yang tidak bermaksud. Terima lah takdir ini dengan bermuhasabah. Renungi, apa saja kesalahan yang telah kamu lakukan.” Abdullah menambahkan kalimatnya, karena sebagai teman, ia wajib mengingatkan Mustofa yang kian bertambah usia, kian semakin berbeda.


Deg


Kata – kata Abdullah langsung menusuk relung hati Mustofa yang paling dalam.


“Setiap orang selalu diberikan ujian. Ada ujian kesusahan dan ada kesenangan. Dan, tanpa kamu sadari, selama ini Allah mengujimu dengan kesenangan.”


“Dan kita mengenalnya dengan Istidraj,” sambung Abdullah membuat Mustofa terdiam.


Mustofa cukup tahu satu kata yang diucapkan Abdullah tadi.


Seketika, Mustofa mengingat kesalahannya pada orang lain, terutama pada keluarga sahabatnya sendiri, yaitu Utsman. Tanpa ia sadari, ia sudah dzolim dengan anak – anak yatim itu. Pertama pada Tina, sebegitu tidak ingin bermenantukan buta, ia tega tidak datang di saat hari pernikahan. Kedua pada Abid. Mustofa membebankan hutang yang seharusnya bukanlah sebuah hutang karena saat itu ia memberikan dana itu sebagai sedekah.


Mustofa pun menangkup wajahnya sendiri. Ia teringat perkataan sang istri, sebelum para polisi tiba dan hendak menggiringnya.


“Abi, Ummi malu. Ummi ga mau punya suami mantan narapidana. Ummi ga mau antar ikut Abi ke kantor polisi. Abi urus diri Abi sendiri. Ummi mau pulang ke rumah orang tua Ummi.”


Mustofa membuka wajahnya dan menatap Abdullah. Ia melihat wajah Abdullah yang putih berseri. Abdullah yang tawadhu dan bersahaja, membuatnya malu.


“Aku …” tiba – tiba Mustofa menangis.


“Memohon ampun lah pada Allah.” Abdullah menepuk bahu Mustofa.


Tak lama kemudian, dua petugas datang menghampiri mereka dan membawa pria paruh baya itu. Mustofa merenungi perkataan terakhir temannya.


Jegrek


Mustofa dimasukkan ke dalam sel. Ia langsung terduduk lemas di lantai. Airmatanya luruh. Disaat Allah mengujinya dengan sebuah kesusahan, ia pun baru menyadari segudang kesalahannya.


Di pertiga malam, Mustofa bangkit dan meminta izin kepada petugas untuk ke kamar kecil. Mustofa berdiri menghadap kiblat dan membentangkan kedua tangannya ke atas.


"Allahu Akbar."


Mustofa terisak di tengah doa iftitah yang menyerahkan hidup dan matinya pada Robb-nya. Ia membenarkan ucapan Abdullah. Isakan tangisnya semakin nyata, tatkala ia mengingat semua dosa yang ia lakukan terhadao makhlukNya, terutama keluarga Hasna, sepeninggal Ustman.


****


Malam semakin larut. Jhon yang keluar dari kamar sebentar mendapati pintu balkon ruang tivi terbuka dan mendapati Abid berdiri di sana.


"Hei, belum tidur?"


Terkadang, Jhon bingung memanggil Abid dengan sebutan apa? Mengingat, mereka seumur.


"Hei, Jhon." Abid menoleh.


Jhon berdiri di samping Abid. "Ada yang mengganggu pikiranmu?"


Abid mengangguk dan tersenyum. "Pasti kamu pelakunya."


"Apa?"


"Kamu yang mentransfer uang sebesar tiga ratus juta ke rekeningku?"


Jhon tersenyum. Ia menatap langit, setelah sebelumnya Abid melakukan yang sama saat ia bertanya tadi.


"Aku mencintai adikmu," jawab Jhon yang kemudian menatap Abid. "Dan aku juga mencintai orang - orang yang Tina cintai."


Jawaban Jhon meyakinkan Abid, jika itu bukan sebuah bantuan, tapi kewajiban dari seorang kakak pada adiknya.


"Darimana kamu tahu tentang itu?" tanya Abid yang tidak mengira bahwa Jhon tahu tentang dana yang ditagih Mustofa.


"Jangan panggil aku Jhon! Kalau aku tidak tahu semua tentang adikmu dan keluargnya."


Abid tertawa. "Ya ... Ya ... Ya ..."


Jhon pun ikut tertawa.


Setelah mendapat transfer dari tanpa nama dengan nominal yang ia butuhkan. Abid segera menyerahkannya pada Mustofa. Ia yakin pelaku yang mentransfer uang itu adalah Jhon.


"Kau ingin menjenguknya?" tanya Jhon.


"Tentu. Setelah pulang dari sini, aku akan menjenguk Pakde Yai."


"Kamu tidak dendam atas apa yang sudah dia lakukan?"


Abid langsung menggeleng. "Abi tidak pernah mengajarkan kami dendam. Justru, aku akan membantu Pakde Yai untuk keluar dari penjara secepatnya."


Jhon tersenyum. "Good."