Cinta Si Bule

Cinta Si Bule
Pantas mendapatkan Bira


Tepat di hari restorative justice di gelar, keluarga Mustofa datang, tak terkecuali Fatimah. Untuk kali pertama, Fatimah datang menjenguk suaminya di hotel prodeo. Bukan hanya keluarga Mustofa, keluarga Utsman yang diwakili Abid pun datang termasuk Jhon dan Alif. Meski mereka pernah dipermalukan, tapi Abid tidak membalas perlakuan keluarga itu.


“Al, nopo ada si bule itu. Dia suaminya Bira kan?” bisik Fatimah pada putranya.


Al selalu ada untuk sang ayah. Bahkan Al mengontrak di area terdekat tempat sang ayah dibekukan. Untuk bakti pada orang tua, Al memang dapat diacungi jempol. Meski orang tuanya salah, sebagai anak, Al tak mampu membantah.


“Al, Ummi bertanya padamu,” kata Fatima lagi.


Al menatap ke arah Jhon yang datang bersama Abid dan Alif. Mereka tiba lima menit sebelum kedatangan Pak Hendra.


Kebetulan, Alif bisa datang ke kota ini setelah melanglang buana ke beberapa kota untuk memenuhi pekerjaan dinasnya. Dan, Arafah juga akhirnya dapat menjenguk sang adik serta melihat keadaan sang ibu setelah cukup lama.


“Al.”


Fatimah menarik ujung kemeja putranya, karena sedari tadi Al belum menjawab pertanyaannya. Mata Al hanya tertuju pada Jhon dengan tatapan yang sulit diartikan. Antara tatapan malu dan rasa bersalah.


“Iya, Mi.” Akhirnya, Al tersadar.


“Kamu ditanya dari tadi malah bengong. Apa sih kelebihan itu bule sampe kamu negliatinnya kaya gitu.”


“Banyak, Ummi,” jawab Al.


“Halah, Cuma menang ganteng doang. Dibanding kamu jua jauh,” kaa Fatimah ketus.


Al menoleh ke arah ibunya. “Ummi tahu mengapa Allah memberikan kita banyak ujian? Itu karena kita suka meremehkan orang lain.”


Seketika Fatimah terdiam.


“Orang yang kita anggap rendah, bisa jadi justru lebih baik di mata Allah. Dan orang yang menurut kita Alim, belum tentu baik di mata Allah. Contohnya kita.” Al berkata lagi.


Selama sang ayah berada di hotel prodeo, Al terus bermuhasabah. Ia terus merenung dan mengoreksi diri karena sejatinya tidak ada kejadian yang kebetulan. Semua yang terjadi memang karena kelakuan diri, entah itu baik atau buruk.


“Kamu ngomong opo toh.” Fatimah tetap menyangkal. Ia masih merasa dirinya benar.


“Ummi tahu, Jhon di sini untuk membela Abi.”


Fatimah terdiam. Ia tidak percaya. “Moso?”


“Iya, Ummi. Jhon itu rekan kerja Pak Hendra dan Pak Hendra mau datang hari ini karena dia.”


Ucapan Al terakhir membuat Fatimah bungkam. Wanita paruh baya yang tampil cetar membahana meski dengan jilbab panjang itu pun menganga dan masih tak percaya. Bibirnya kelu dan tak lagi mengeluarkan kata – kata.


Benar saja, setelah Fatimah mengikuti agenda itu selama beberapa jam, ia bisa melihat bagaimana Jhon membela Mustofa dan meminta Pak Hendra untuk berdamai.


“Saya tahu, Pak Hendra orang yang murah hati. Saya kenal bapak sangat lama,” ujar Jhon tersenyum pada Hendra.


Hendra pun menatap Mustofa.


Hendra tertawa. “Tidak perlu. Saya tidak ingin menjatuhkan seorang Kiyai, meski anda memang harus banyak belajar dan entah mengapa gelar itu bisa tersemat oleh orang semacam anda.”


Mustofa terdiam.


“Sejatinya, gelar hanya sebuah sebutan. Kepribadian seseorang tergantung pada dirinya sendiri. Sama halnya seperti seseorang yang memiliki gelar sarjana pendidikan, belum tentu dia bisa mengajar kan. Bukan begitu?”


“Ck. Ah kamu, Jhon. Selalu saja bisa menjawab omonganku,” sahut Hendra kesal


Jhon tertawa dan merangkul rekan kerjanya itu untuk mencairkan suasana. “Maaf. tapi cara pandangku begitu.”


“Ya … ya … Ya.” Hendra mengangguk. “Baiklah, saya akan cabut tuntutan ini.”


“Alhamdulillah,” ucap Mustofa lega.


Kata itu pun keluar dari bibir Al, Abid, Alif, dan tim pengacara Mustofa. Sedangkan Fatimah, semakin tidak bisa berkata – kata. Ia menyaksikan sendiri bagaimana orang – orang yang selama ini ia remehkan dan permalukan justru membantunya di saat genting.


“Kalau bukan karena Jhon, mungkin saya akan memperpanjang masalah ini,” ujar Hendra. “Tapi karena anda adalah bagian dari kerabat Jhon, maka saya tidak akan mempermasalahkan hal ini. tuntutan dan pelaporan saya akan saya tutup. Saya pastikan bekas ini tidak akan sampai ke pengadilan dan tak lama lagi anda akan bebas.”


“Alhamdulillah.”


Al langsung mengusap wajahnya. Bahkan Mustofa tampak melelehkan airmata.


Usai semua berdamai, Mustofa dinyatakan bebas dengan syarat. Pria paruh baya itu hanya akan melapor sesuai jadwal dan bebas hingga berkas selesai.


Semua orang berdiri dan bersalaman. Mustofa dan Hendra terlihat bersalaman, bahkan berpelukan. Situasi damai ini pun menjadi sorotan publik. Terlebih saat Mustofa mendeklarasikan kata Maaf dan akan memperbaiki diri setelah ini. ia juga meminta maaf pada santri dan orang – orang yang sudah setia dan percaya padanya. Mustofa membenarkan ucapan Jhon bahwa bukan gelar yang dipersalahkan, melainkan kepribadian orang itu sendiri.


Mustofa berdiri di depan Abid dan memeluk anak sahabatnya itu.


“Abid, maafkan Pakde. Maaf karena Pakde pernah membuat keluargamu malu. Malah dengan tidak tahu malu, Pakde meminta uang yang ayahmu tahu adalah sedekah. Pakde malu, Bid.”


Mustofa menangis di bahu Abid saat masih berpelukan. Abid pun menepuk bahu itu.


“Manusia tempatnya khilaf, Pakdek. Tak terkecuali kita. Terlebih Pakde yang tingkatannya sudah jauh dari Abid, pasti ujiannya akan lebih berat lagi. Entah itu ujian berupa kesusahan atau kesenang.”


Mustofa mengangguk. “Allah sudah menyentilku, Bid. Mungkin sebelum disentil seperti ini, aku masih belum sadar. Ujian kesenangan memang membuat orang terlena. Aku lupa bahwa selama ini aku sedang diuji.”


Abid terseyum dan kembali menepuk bahu itu. mereka cukup lama berpelukan hingga beberapa detik kemudian terlerai.


“Oh ya, ada satu orang lagi yang harus kita beri ucapan terimakasih.” Abid menoleh ke arah Jhon. “Dia.”


Mustifa setuju, ia pun hendak menghampiri Jhon. Namun, ternyata Al sudah menghampiri pria bule itu lebih dulu.


“Jhon Loise. Kamu memang pria yang pantas mendapatkan Shabira,” ucap Al yang akhirnya mengakui kekalahan. Bukan kalah karena ilmu dan tampang, tapi kepribadian.


Jhon yang selama ini merasa hidupnya gersang dan sepian, mendapat kenyamanan dari sebuah keluarga harmonis yang dibangun dengan Iman seperti keluarga Utsman.