Cinta Si Bule

Cinta Si Bule
Kabar berita


“Ummi, gedungnya tinggi – tinggi,” ujar Ameena senang saat tiba di Jakarta bersama nenek, kedua orang tua, dan kakaknya.


Gadis berusia dua belas tahun yang duduk di kursi penumpang paling belakang bersama sang kakak tampak antusias.


“Sama seperti di Kairo ya, Bi.” Ayash pun berujar.


“Ya, namanya juga ibukota. Jantungnya kota. Pusat perekonomian biasanya memang ada di pusat kota,” jawab Abid pada kedua anaknya yang mulai beranjak remaja.


“Kalian senang ya?” tanya Hasna dengan menoleh ke belakang.


“Seneng banget, Uti,” sahut Ayash dan Ameena bergantian.


“Alhamdulillah,” jawab Hasna disertai senyuman dari Zahra yang duduk di sampingnya.


Abid dan keluarga tiba di bandara Tangerang sekitar empat puluh menit yang lalu. Keluar dari bandara, mereka sudah ditunggu oleh orang suruhan Jhon. Sementara, Jhon dan Tina sengaja menunggu mereka di apartemen.


Apartemen milik Jhon memang besar. Terdapat empat kamar, ruang tamu yang bercampur dengan ruang televisi, dan dapur. balkon besar juga ada tepat di area ruang televisi. Namun empat kamar tamu itu hanya dua kamar yang memang dijadikan kamar. Satu kaamr utama dan satu kamar tamu. Dua kamar lain untuk ruang kerja Jhon dan ruang olahraga. Ruang olahraga itu pun langsung Jhon sulap menjadi kamar tamu untuk kamar Hasna dan kedua cucunya.


“Mas, ruang kerja kamu jadi penuh,” ujar Tina melihat alat olahraga Jhon kini berpindah ke ruangan yang cukup besar itu.


“Tidak apa.” Jhon merangkul bahu Tina.


Tina pun mengaitkan tangannya pada tangan Jhon yang berada di bahunya. “Sementara ya, Mas. Setelah keluargaku pulang, alat – alat ini akan kembali ke ruangannya dan tidak memenuhi ruang kerjamu.”


“Tidak perlu. Biarkan seperti ini tidak apa. Lagi pula, tidak penuh, kok. Masih enak dilihat.”


Tina menoleh ke wajah bule tampan itu. Jhon pun menatap wajah istrinya.


“Biarkan kamar itu menjadi kamar tamu. Jika Ummi dan keluarga Mas Abid datang, kita tidak perlu mendekorasi lagi.”


Dahi Tina mengernyit. “Benarkah?”


Jhon tersenyum dan mengangguk. “Ya. memangnya keluargamu hanya datang hari ini saja? Aku juga ingin mereka datang lebih sering. Mereka bebas menemui kamu kapan pun itu. Lagi pula, keluargamu adalah keluargaku. Bukan begitu?”


Tina mengeratkan tangan Jhon yang melingkar di bahunya. Ia menatap wajah Jhon sambil tersenyum manis.


“Terima kasih, suamiku.”


“Sama – sama, istriku.”


Keduanya tertawa. Rasanya senang mendengar Tina memanggil Jhon dengan sebuta suami. Sebaliknya, Tina pun senang mendengar Jhon memanggilnya dengan sebutan istri. Status yang tak pernah keduanya bayangkan sama sekali, apalagi setelah berbagai prahara dan drama yang terjadi.


Ting Tong


Jhon dan Tina kembali bertatapan.


“Mas, mereka datang,” ujar Tina yang langsung diangguki Jhon.


“Ayo, kita sambut mereka!”


Tina mengangguk. Keduanya berjalan menuju pintu dan membukanya.


“Bira …”


“Ummi.”


Setelah pintu terbuka, yang lebih dulu Tina lihat adalah Hasna. Kebetulan wanita paruh baya yang sejak semalam tidak bisa tidur karena begitu antusias ingin ke Jakarta dan menemui putrinya itu tepat berdiri di depan pintu.


Hasna langsung memeluk Tina dengan erat. Tina pun menerima pelukan hangat itu.


“Bira, kamu sudah benar – benar bisa melihat?” tanya Hasna senang sembari melihat ke kedua mata sang putri dalam jarak dekat.


Tina mengangguk. Hasna meleraikan pelukan dan membiarkan Tina menatap semua saudaranya.


“Iya, Ummi. Alhamdulillah berkat doa Ummi, doa Mas Abid, doa Mbak Zahra, doa Ayash dan Ameena, serat kesabaran suamiku yang ganteng ini.” Arah mata Tina berakhir pada suami bulenya. “Allah memberikan Bira kesembuhan.”


“Alhamdulillah.” Hasna kembali menghambur peluk dan disertai oleh Zahra. Ameena pun tak mau ketinggalan. Gadis beranjak remaja itu ikut memeluk tantenya.


Usai saling berpelukan untuk melepas kerinduan, Tina dan Jhon mengajak tamunya masuk ke dalam. Hasna tkajub dengan dekorasi apartemen yang mirip seperti iklan property di tivi.


“Ra, rumah Nak Jhon bagus banget ya.” Hasna berbisik pada menantunya.


“Ya, namanya juga bos, Ummi.”


“Bira beruntung. Alhamdulillah,” ucap Hasna.


“Jhon lebih beruntung, Ummi.” Tiba – tiba suara Jhon tepat di belakang tubuh Hasna.


Hasna berkaca – kaca. “Terima kasih, Nak Jhon.”


Jhon pun memeluk ibu mertuanya. “Sama – sama, Ummi.”


HAsna menatap Tina yang sedang membuatkan minum dari jauh. Abid pun mendekati ibu dan adik iparnya. Ia pun merangkul bahu Jho setelah pelukan dengan ibunya terlerai.


“Aku juga terima kasih, Jhon.”


Jhon menoleh ke arah Abid dan tersenyum. “Justru aku yang berterima kasih, karena kamu sudah mempercayakan Bira padaku.”


Abid ikut tersenyum dan mengangguk. Melihat Tina bersama Ayash dan Ameena, Zahra pun mendekati dan membantu menyiapkan minum.


Mereka berkumpul di ruang televisi sambil menikmati berita terkini. Tina memang sudah menyiapkan banyak makanan dan minuman untuk menyambut keluarganya.


“Bir, Arafah titip salam, katanya dia tidak bisa ikut ke sini,” ujar Hasna saat duduk berkumpul.


“Iya, Ummi. Semalam Mbak Arafah sudah telepon Bira. Katanya, kalau Mas Alif sedang dinas di Jakarta, mereka akan mampir.”


Hasna mengangguk. senang rasanya melihat anak dan menantunya akur dan saling menjalin silaturahmi dengan baik.


Di samping Tina, Jhon melahap kue yang ada di tangannya. Padahal Tina baru saja mengambil kue itu dan hendak memakannya, tapi Jhon malah menarik tangannya dan memasukkan makanan itu ke mulutnya.


Tina tidak protes dan malah tersenyum. Ia kembali mengambil kue itu dan lagi, Jhon melakukan yang sama.


“Maas,” rengeknya pelan.


Jhon tertawa. Untung saja, semua mata orang – orang di sana tertuju pada televisi dan tidak melihat interaksi mesra pasangan suami istri ini.


“Ummi, itu kan Padek Yai,” ujar Zahra menunjuk ke arah televisi.


Semua mata pun menatap ke arah layar besar itu.


“Kiyai Mustofa, pemilik pondok pesantren yang cukup ternama di kotanya terpaksa di giring ke polisi karena cuitan yang menghina salah satu pejabat negara.”


Take line itu tertera di layar televisi diiringi suara presenter yang menjelaskan kronoligis berita itu.