
Bagaimana, Bid?” tanya Hasna pada putranya yang baru saja sampai di rumah. Abid pulang bersama Jhon dan Alif.
“Yai Mus sudah bebas?” tanya Hasna lagi.
Abid mengangguk. “Sudah. Berkat Jhon, Pak Hendra menandatangani kebebasan Pakde Yai.”
Hasna menatap ke arah Jhon. “Besar sekali hatimu, Nak.”
Di ruang keluarga yang cukup besar itu, Zahra, Arafah, dan Tina juga berada di sana. Arafah menatap adiknay dengan senyum bahagia, karena sang adik memang telah mendapatkan pria yang tepat.
Arafah merangkul bahu adiknya dari samping.
“Saya hanya menjalankan sesuai yang diajarkan Abi dan Ustad Abdullah. Ikhlas memang membuat hidup menjadi tenang.”
“Benar, Jhon,” sahut Abid. “Aku setuju.”
Alif hanya ikut mengangguk. Ia dan Arafah juga sedang berusaha menjadi insan yang ikhlas, karena hingga tiga tahun pernikahan, mereka belum dikaruniai anak.
“Baiklah, kalau begitu, ayo kita makan! Ummi sudah memasak opor entok.”
“Wah …” Mata Abid berbinar, pasalnya makanan ini adalah makanan kesukaannya. Rasa opor buatan Hasna menurutnya berbeda dengan yang lain. Bahkan sang istri tidak bisa membuat santan opor selezat ibu mertuanya.
“Sayang, opor entok itu apa?” tanya Jhon pada istrinya sembari berbisik.
“Entok itu sejenis bebek. Jadi opor bebek.”
“Seperti opor ayam yang pernah kamu buat?”
Tina mengangguk. “Benar yang ini rasanya lebih enak, karena buatan tangan Ummi berbeda dari yang lain.”
“Oh ya?”
Tina mengangguk. Ia tetap melihat wajah tampan suaminya yang tersenyum dari samping karenakini wajah Jhon kembali lurus ke depan ke arah keluarga Tina lainnya yang ada di sana.
Merasa sedang ditatap sang istri dari samping, Jhon pun kembali menoleh ke samping. “Kenapa?”
Tina menggeleng dan tersenyum. “Tidak apa. aku hanya mau bilang terima kasih.”
Jhon tersenyum. “Ya, kamu memang harus membalas kebaikanku, nanti malam.”
Tina ikut tersenyum sambil menggigit bibirnya.
“Ekhem!” suara Zahra yang berdehem membuat dua orang yang sedang berbicara dengan suara pelan itu langsung tertuju ke arahnya.
“Iya, mba.”
“Ck. Orang lagi ngobrol bareng – bareng, ini malah ngobrolnya berduaan.”
Tina terawa, begitu pun dengan Jhon. Jhon hanya bisa nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Ayo makan!” ajak Zahra.
“Ayo, Jhon.” Abid dan Alif pun mengajak suami Tina itu.
Di meja makan, semua berkumpul. Kini, Hasna yang menjadi orang yang paling dituakan di rumah ini.
“Nduk, kamu di sini sampai lebaran haji kan?” tanya Hasna pada Tina. Arah matanya juga teruju pada Arafah. “Kamu juga kan, Nduk?”
Arafah mengangguk. “Iya, Ummi. Kebetulan, Mas Alif lagi dinas di daerah sini selama dua minggu.”
“Alhamdulillah,” ucap Hasna senang.
“Wah, Asyik dong. Di sini jadi rame,” sahut Zahra yang jua ikut senang.
“Kalau kamu, Bir? Kamu juga belum mau kembali ke Jakarta kan?” tanya Abid yang kemudian menatap Jhon.
“Iya.”
“Tidak.”
Tina mengangguk, tapi Jhon menggeleng. Tina pun menatap suaminya.
“Maaf, tapi saya hanya bisa meninggalkan kantor tiga hari,” ucap Jhon.
“Yah, sayang sekali. Padahal hari raya idul adha tinggal satu minggu lagi, Nak.” Hasna tampak kecewa.
“Tapi terserah, kalau Tina masih mau di sini tidak apa. Saya kembali ke Jakarta sendiri, nanti pas malam hari raya, saya kembali ke sini.”
Sungguh, Jhon tida tega memisahkan Tina dan keluarganya terlebih saat ini momen keluarganya yang sedang berkumpul lengkap.
Tina menggeleng. “Tidak. aku akan ikut denganmu. Kamu pulang, aku juga pulang. Kalau kamu ke sini lagi, aku juga ke sini lagi.”
Jhon langsung tersenyum. tangannya pun terangkat untuk mengelus pipi mulus istrinya. “So sweet.”
“Uhuk … uhuk … uhuk …” Alif pura – pura batuk.
“Dunia serasa milik berdua,” ledek Zahra.
“Iya, yang lain ngontrak,” sambung Arafah yang ikut meledek adiknya hingga kedua orang yang memang tengah dimabuk asmara itu tersenyum malu.
****
“Jhon, sendirian?” tanya Abid pada adik iparnya yang duduk di teras.
Jhon mengangguk.
“Bira mana?”
“Keluar dengan Ayash dan Ameena.”
“Oh ya? Kemana mereka?” tanya Abid, pasalnya hari sudah semakin malam dan menunjukkan pukul sembilan malam.
“Tadi Ayash minta cari cat air dan kuas. Terus Ameena minta ikut karena Bira yang mengantarkan.”
Karena jika Tina yang mengantar, maka ia akan menggunakan mobil.
“Ooo …” Abid mengangguk.
Ayash memang mahir mengukir penggalan huruf Arab menjadi sebuah kaligrafi indah. Dan kali ini ia tertantang untuk mengikuti pagelaran seni kaligrafi dan menargetkan beberapa hasil karya.
“Oh ya, Jhon. Sapi pesananmu akan datang besok,” ucap Abid lagi pada Jhon yang akan berkurban. Meski ini bukan kali pertama ia berkurban.
Tahun - tahun sebelumnya, saat masih bersama Tina, Jhon pun rutin melakukan hal yang sama. Meski ia belum mengetahui lebih dalam makna berkurban.
“Sapi itu milik Tina. Kalau saya kambing saja.”
Dahi Abid berkerut. “Kenapa?”
“Karena saya suka daging kambing. Biasanya jatah untuk yang kurban, saya habiskan sendiri.”
“Apa ngga eneg?” tanya Zahra. “Kebanyakan makan daging kambing juga bikin mual, Jhon.”
Abid mengangguk setuju.
“Tidak. Justru saya semakin kuat.”
Sontak, Abid dan Zahra tertawa.
“Kenapa?” tanya Jhon bingung saat melihat Abid dan istrinya tertawa.
“Tidak. tidak apa – apa,” ucap Abid yang masih tertawa geli.
“Apa aku salah?”
“Tidak, Jhon. Kamu tidak salah.” jawab Zahra. “Kamu benar. Sepertinya aku juga akan menyuruh Mas Abid untuk menghabiskan jatah daging kambingnya supaya kuat.”
Zahra berbicara dengan tetap sembari menahan tawa.
“Tidak, Ummi. Aku tidak suka daging kambing,” jawab Abid.
“Mesti suka, supaya kuat seperti Jhon. Mas.”
“Tidak. Tidak.” Abid kembali tertawa.
Sedangkan Jhon justru bingung melihat pasangan suami istri itu. Bule memang selalu bicara blak – blakan dan apa adanya. Abid yang jarang sekali tertawa, tiba – tiba terkikik geli melihat perkataan dan perbuatan si bule ini.
Kemudian, Jhon ikut tersenyum. Tanpa ia sadsri, gara - gara kambing, ia dapat melihat tawa Abid yang tidak pernah ia lihat. Biasanya, Jhon hanya melihat senyum di wajah pria bersahaja itu, meski usia mereka sama.