
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumusalam.” Hasna keluar dari dapur untuk menyambut tamu yang baru saja mengucapkan salam.
“Nyai.”
“Na.”
Fatimah, Ibu dari Al dan Randi datang dengan membawakan kue yang cukup banyak untuk acara empat puluh hari Utsman yang akan di adakan di masjid pondok selepas sholat isya berjamaah.
Fatimah dan Hasna memiliki perbedaan usia yang cukup jauh. Fatimah lebih tua lima tahun dari Hasna, sedangkan dengan Utsman, Hasna lebih muda delapan tahun. Hasna gadis sederhan dari keluarga sederhana yang baru tamat aliyah, tiba – tiba dipinta oleh Utsman yang merupakan keluarga terpandang. Hasna pun tak kuasa menolak. Lagi pula, siapa yang bisa menolak pesona Utsman, pria yang cukup tampan, sholeh, santun, dan lulusan LC. Justru Hasna yang tak menduga sama sekali, bahwa selama ini Utsman menaruh hati padanya, padahal saat itu hubungan mereka hanya sekedar guru dan murid. Utsman menjadi penggati guru bahasa Arab dari seorang guru sesungguhnya yang sedang menunaikan ibadah haji dan harus cuti selama lebih dari empat puluh hari.
“Ya ampun, Nyai. Ndak usah repot – repot,” ucap Hasna dengan menerima buah tangan dari Fatimah yang tidak hanya berupa kue, tetapi juga buah – buahan.
“Taruh di mana ini, Nyai?” tanya sopir Fatimah yang datang bersamanya dan membawa buah berpeti – peti.
“Taruh di mana ini, Na?” Fatimah bertanya pada Hasna.
“Langsung di baw ake dapur aja,” jawab Hasna dengan menunjuk ke arah daur menggunakan ibu jainya.
Sopir Fatimah mengangguk. Dia mondar mandir menurunkan barang bawaan dari dalam mobil Paj*ro warna putih milik Hasna.
Berbeda dengan Hasna, justru Fatimah terlahir dari keluarga kaya dan terpandang dari kota sebelah. Fatimah juga kuliah, walau bukan lulusan dari Kairo seperti Utsman dan sumaminya, Mustofa.
Utsman juga menikah lebih dulu dari Mustofa, sehingga Abid, anak pertama Utsman dan Hasna lebih tua tiga tahun dari Al.
“Ndak. Ndak merepotkan sama sekali kok, Na. Kita kan sudah seperti saudara. Aku juga sudah menganggapmu seperti adikku,” ujar Fatimah sembari merangkul Hasna.
“Terima kasih, Nyai.”
“Ck. Kalau berdua seperti ini, panggil saja aku, Mbak,” jawab Fatimah sembari menarik kursi meja makan dan duduk di sana.
Hasna tersenyum. Lalu, menawarkan minum. “Aku buatkan minum dulu yo, Mbak.”
Fatimah mengangguk sembari mengedarkan pandangan. “Bira mana?”
“Bira dan Arafah ada di rumah Munah. Mereka sedang membuat bawaan untuk para santri yang hadir nanti malam.”
Fatimah mengangguk. “Oh, begitu.”
“Mbak nanti di sini sampai acara selesai kan?” tanya Hasna.
“Iya dong, Na. Aku kn juga ingin membantumu.”
Hasna tersenyum dan mengangguk.
Hari semakin sore. Sebelum maghrib, Masjid digunakan talaqqi yang dipimpin oleh Ustadz Abdullah. Ada sekitar tujuh santri yang mengikuti program yang dilakukan setiap hari senin dan kamis itu, termasuk satu orang luar yang bukan santri, yaitu Jhon.
“Jhon. Sekarang giliranmu,” ucap Utadz Abdullah.
Jhon mengangguk. Ia mendekati Ustadz Abdullah dan duduk bersila berhadapan dengan pria paruh baya yang bersahaja itu.
Kali ini, Ustad Abdullah meminta Jhon untuk melantunkan surat Al – mulk. Untuk pertemuan yang ke delapan kali ini, Utadz Abdullah baru memberikan tugas yang lebih sulit dari sebelumnya, karena sebelumnya ia masih meminta Jhon menghafal da melantunkan surat dengan ayat pendek yang ada di juz tiga puluh, tentunya dengan menggunakan nada seperti nada yang dilakukan imam masjid Madinah.
“Ekhem.” Jhon berdehem dan memulai talaqqi dengan menyucapkan taawuz dan basamalah.
Suara Jhon terdengar merdu.
“Allażī khalaqal-mauta wal-ḥayāta liyabluwakum ayyukum aḥsanu ‘amalā, wa huwal-‘azīzul-gafūr.”
Jhon terus melantunkan ayat tersebut dengan merdu dan mendayu. Nada yang dilantunkannya pun mirip dengan yang diajarkan Abdullah. Jika sekilas mendengar suara Jhon ini, tidak ada ang menyangka bahwa yang melantunkannya adalh seorang bule.
“Ning Bira, kata Nyai sembako – sembako yang sudah dikemas langsung saja di bawa ke masjid,” ujar Munah kepada Bira dan Arafah yang kini masih berada di rumahnya.
“Ya sudah, kita angkut saja langsung. Ayo!” ucap Arafah yang langsung di angguki Tina.
Munah langsung meminta suaminya dan mengerahkan para santri untuk membantu, sedangkan Arafah, Tina, dan Munah hanya membantu bagian yang tidak tertlalu berat.
“Dek, sisanya kita bawa sendiri aja, yuk!” ajak Arafah pada adiknya.
Tina mengangguk. Sedari tadi, ia mendengarkan suara pria melantunkan ayat surat al – mulk dari balik pengeras suara masjid yang cukup bisa di dengar dari rumah Munah.
Biasanya, Abdullah tidak memakai pengeras suara masjid saat talaqqi berlangsung, tapi hari ini ia menggunakannya, karena waktu memang hendak menjelang maghrib dan untuk memeriahkan waktu itu, Abdullah pun menggunakan pengeras suara itu.
“Mbak, ini suara siapa?” tanya Tina sembari berjalan menuju masjid dengan membawa sisa barang yang harus diletakkan di sana.
Arafah mengangakat bahunya. “Ngga tahu, Mbak juga baru denger.”
“Enak banget suaranya, Mbak,” ucap Tina lagi.
Arafah pun mengangguk. ia juga setuju dengan pernyataan sang adik.
Semakin mendekati masjid, Tina dibuat menganga, karena seseorang yang sedang duduk di depan Utadsz Abdullah dan memegang pengeras suara masjid adalah Jhon.
Arafah yang melihat itu pun langsung meenghentikan langkahnya. “Masya Allah, ternyata suara itu milik bosmu.”
Tina tidak bisa berkata – kata. Ia hany melihat ke arah itu dari kejauhan. Bibirnya kelu, hanya ada mata yang menatap ke arah itu dengan hati dag dig dug.
Jhon memunculkan kembali keterpesonaannya terhadap Tina. Jika dahulu, Tina terpesona akan sosok Jhon yang menjadi pemimpin di divisinya dan mampu menyelesaikan segala masalah yang ada dengan kepintarannya, kini Tina terpesona akan perubahan Jhon. Ia tidak menyangka bahwa suara merdu dan indah itu milik pria mesum yang menyebalkan dan sempat menyia – nyiakannya.
“Hei. Hayo, jangan diliatin terus!” Arafah menyenggol siku lengan Tina, membuat Tina pun tersadar dan mengalihkan pandangan.
“Si bule itu makin ganteng ya.”
“Ish, apaan sih.” Tina mengalihkan perkataan sang kakak dengan mengajaknya kembali berjalan.
“Dek, kakak setuju kok kamu sama dia. Ummi juga setuju.”
Tina menoleh ke arah sang kakak dengan tetap berjalan menuju tempat sudut masjid. “Tapi Mas Abid, bagaimana?”
Tina dan Arafah sampai di tempat yang sudah bertumpuk goodi bag yang terbuat dari bahann untuk para santri yang mengikuti acara nanti. Mereka pun meletakkan barang yang mereka bawa bersamaan dengan tumpukan itu.
“Mas Abid tidak sekeras yang kamu bayangkan, Dek. Mbak yakin, dia juga akan setuju.”
Tina tersenyum mendengar pernyataan sang kakak.
“Lagi pula, Mas Abid dan bos mu itu sudah akrab sekarang. Memang kamu ga pernah lihat, kalau di projek, mereka selalu berbincang berdua.”
Tina mengangguk. Ya, ia memang pernah melihat pemandangan itu. ia pun berharap kali ini hubungannya dan Jhon akan dipermudah.