Cinta Si Bule

Cinta Si Bule
Awal yang tidak mengesankan


Setibanya di Jakarta, Jhon langsung merapikan semua pekerjaan. Ia harus memastikan pekerjaan berjalan dengan lancar, kemudian ia akan terbang ke Magelang.


Jhon tahu di mana alamat orang tua Tina. Sejak dulu, Tina selalu memintanya ke sana, tapi karena kebohongan Grace, ia pun mengabaikan permintaan itu. Dan saat ini, Jhon benar – benar tidak peduli dengan Grace. Ia sudah kadung kecewa karena kelakuan wanita itu.


Dret … Dret … Dret …


Ponsel Jhon berdering dengan tertera nama wanita yang telah membohonginya mentah – mentah itu.


“Apa lagi, Grace?” Jhon mengangkat telepon itu dengan malas.


“Daddy.”


Jhon menarik nafasnya kasar. Lagi – lagi, Grace menggunakan Michelle untuk membuat dirinya tak enak hati.


“Daddy, mengapa meninggalkan kami?”


“Michelle. Maaf aku harus mengatakan ini. Aku Uncle Jhon, adik Daddy-mu. Dadddy Jhonny sedang pergi. tapi, pasti dia akan kembali. Uncle akan mencari tahu dimana Daddy – mu.”


Sontak Michelle menangis, hingga ponsel itu diambil alih ibunya.


“Jhon, kau tega.”


“Kau lebih tega,” jawab Jhon yang tak kalah marah.


“Tapi Michelle masih kecil, Jhon. Dia belum mengerti.”


“Dan dari sekarang, dia harus mengerti. Dia harus tahu kalau aku bukan Daddy – nya melainkan uncle – nya.”


“Kau benar – benar bukan seperti Jhon yang aku kenal.”


“Whatever.”


Klik


Jhon langsung menutup sambungan telepon itu sepihak. Ia benar – benar tidak peduli, karena saat ini cintanya saja sedang di ujung tanduk. Ia tidak bisa memikirkan cinta orang lain.


Lalu, Jhon mendial nomor Alex.


Tut .. Tut … Tut …


Butuh dua kali, Jhon mendial nomor itu.


“Halo.” Terdengar suara serak Alex.


“Ck. Kau sudah tidur? Ini baru jam delapan malam.”


“Tapi di sini sudah jam sembilan, Jhon,” sahut Alex. “Kau menggangguku.”


“Apa kalian sedang bercinta?”


“Hm,” jawab Alex berdehem.


“Si*l. Baiklah, aku telepon lagi besok pagi,” ucap Jhon bertambah kesal.


Apa sahabatnya itu tidak tahu sudah berapa lama, ia tak bercinta? Membuat sesuatu yang seharusnya tidur menjadi bangkit karena suara itu. Jhon bisa mendengar suara rintihan Bilqis, walau sangat samar dan seperti yang berusaha untuk ditutupi.


Alex malah tertawa. “Baiklah. Besok pagi aku akan meneleponmu.”


“Hm.”


Jhon hanya berdehem dan mematikan sambungan telepon. Sebenarnya, ia berniat ingin meminta izin untuk cuti dalam jangka waktu yang tidak bisa ditentukan. Ia hanya ingin fokus memyakinkan Tina di sana. Namun dengan tetap mengerjakan pekerjaan dari jarak jauh. sungguh, kali ini ia tidak ingin mengabaikan lagi cintanya. Cukup satu kesempatan itu terlewatkan dan kali ini ia tidak ingin melewatkan lagi, terlebih Jhon sudah melihat ada pria lain yang menjadi saingannya.


Janji Jhon untuk datang ke rumah Tina besok, nyatanya kembali ia langgar. Bukan tanpa sebab, tapi ia hanya ingin menyelesaikan pekerjaan agar saat ditinggalkan dalam waktu yang lama, semua tetap berjalan lancar.


“Halo.” Bima mengangkat telepon dari bosnya.


“Bim, pesan tiket ke Magelang besok.”


“Kita tidak ada pertemuan di Magelang, Sir,” jawab Bima.


“Ya, memang tidak. Saya ke Magelang urusan pribadi dan mungkin akan lama, jadi besok pastikan kamu datang pagi – pagi sekali karena saya akan rapat koordinasi untuk mendelegasikan beberapa pekerjaan dengan tim inti.”


Bima menarik nafasnya kasar. Pasti ini urusan cinta, pikirnya. Jika dulu, ia sering direpotkan Alex karena Bilqis, kali ini ia pasti akan direpotkan Jhon karena Tina, mengingat pasca Tina mengundurkan diri, ia sudah mulai direpotkan.


“Apa Sir ingin mendatangi rumah Tina?” tanya Bima.


“Yap. Kau memang hebat, bisa membaca pikiran bosmu.”


Sontak, Bima menepuk keningnya.


****


Dipertiga malam, Tina bangun dan sholat. Sejak berada di sini, ia tak pernah absen melakukan sholat tahajud. Sungguh hatinya sangat tenang. Ia pun bisa meluapkan rasa bersalah dan kesedihannya dengan khidmat diwaktu ini.


Tina kembali menangis, saat bermunajat dan berdoa dengan khusuk seorang diri di dalam kamarnya. Rintihan dari dalam kamar itu pun didengar Ustman. Sang ayah mendekatkan telinga dan memastikan bahwa yang sedang menangis itu adalah sang putri. Entah apa yang telah putrinya alami saat berada di kota besar itu? Namun, satu yang pasti yang membuat dirinya senang, sang putri kini kembali dengan pribadi yang jauh berbeda dari sebelumnya.


Puk


Hasna menepuk bahu suaminya, membuat Ustman terkejut hingga mengelus dadanya. “Ya ampun Ummi, bikin jantung Abi mau copot aja.”


“Lagian, ngapain ngintip – ngintip?” tanya Hasna.


“Abi mendengar ada suara tangisan, ternyata dari dalam kamar Bira.”


“Bira sudah jauh berubah, Bi,” ucap Hasna.


Ustman pun mengangguk. “Ya, Alhamdulillah.”


“Alhamdulillah,” sahut Hasna juga.


Setiap kali Tina mendengar lantunan ayat Al-Quran dari seorang imam saat sholat berjamaah, seketika airmatanya kembali menetes deras. Dosa yang menurutnya sangat banyak, membuatnya tak kuasa untuk tidak menangis saat mendengar lantunan itu diiringi ingatannya ketika melakukan dosa itu.


Pagi – pagi sekali, Jhon sudah siap ke kantor. Ia juga sudah menelepon Alex dan dengan berat hati Alex memberi izin untuk menonaktifkan Jhon sementara hingga urusan Jhon selesai. Terpaksa, Bima akan akrobat dan menjadi tameng sementara untuk menggantikannya, walau segala keputusan tetap berada di tangan Jhon. Ia pun memastikan pada Alex bahwa semua urusan akan ia pegang dari jarak jauh.


Setelah rapat dengan Bima dan para tim inti yang lain, Jhon pun dapat melenggang ke Magelang dengan lega. Kini, fokusnya hanya satu, yaitu Tina.


Jhon bergerak menuju Magelang menggunakan pesawat yang terbang sore hari. Ia kembali menginjak bandara internasional adisutjipto. Dari sana, Jhon dijemput oleh orang suruhannya.


“Tadi siang, saya baru mengantar mereka ke sini, Sir. Mereka langsung terbang ke Australia.”


Kepala Jhon pun mengangguk. “Bagus kalau begitu.”


Rasanya, Jhon benar – benar lega sekarang. Kepalanya tidak lagi bercabang dan hanya fokus pada satu tujuan.


“Sir, setelah ini kemana?” tanya sopir yang membawa Jhon.


“Sesuai maps saja.”


Hari semakin gelap. Kumandang adzan maghrib baru saja selesai dan mobil yang membawa Jhon masih berputar di daerah pesantren Tina.


“Sir, menurut maps, lokasi kita sudah sampai, tapi di mana?”


Jhon melihat keluar melalui jendela.


“Saya juga tidak tahu yang mana rumahnya.”


Sopir itu pun menarik nafasnya kasar. “Kalau begitu, kita singgah di masjid pondok pesantren itu saja, Sir. Sekalian bertanya dengan orang di sana.”


Jhon mengangguk setuju.


Mereka pun memarkirkan mobilnya di pekarangan Masjid. Tanpa Jhon sadari, ia sudah berada di area pondok pesantren milik ayah Tina.


Jhon keluar dari mobil dan melangkah menuju masjid. Seketika, ia menjadi pusat perhatian.


“Ada orang bule.”


“Bulenya ngganteng nemen.”


Komentar beberapa orang yang kebetulan berpapasan dengan Jhon. Jhon pun biasa saja. Jhon mengikuti langkah sopirnya yang berdiri di shaf tengah, usai berwudhu. Ia tidak menyadari bahwa di shaf depan ada Al dan Alif, dua pria yang bersama Tina saat di restoran. Jhon juga tidak tahu bahwa yang mengimami sholat itu adalah ayah Tina.


Usai sholat, Jhon dan sopirnya bertanya pada seseorang tentang rumah yang sedang mereka cari.


“Ya, benar ini jalan xxx. Memang Sir mau ke mana?” orang itu bertanya pada Jhon dengan memanggil seperti sopirnya panggil.


“Hm. Saya ingin ke rumah Haji Ustman. Ya haji Ustamn.” Jhon yakin mengucapkan nama ayah Tina.


“Oalah, Kiyai Ustman? Lah itu kan yang tadi jadi imam sholat.”


Dahi Jhon mengernyit. “Kiyai Ustman?”


“Ya, Kiyai Ustman itu pemilik pondok pesantren ini,” sambung orang itu.


“Apa beliau memiliki putri yang bernama Tina?”


Orang itu tampak berpikir. “Tina?”


Nama itu memang tidak familiar di pesantren ini.


Jhon mengangguk.


“Oh, sepertinya Pak Yai nda punya putri yang namanya Tina, yang saya tahu Ning Arafah dan Ning Bira.”


“Nah, itu dia orangnya!” Orang itu pun mengajak Jhon untuk melihat ke arah Tina yang baru saja keluar dari masjid dengan membawa sajadah dan masih memakai mukena.


Jhon kembali tercengang. “Nah, yang baru keluar itu Pak Yai, ayahnya Ning Bira.”


Jhon kembali tercengang melihat ke arah Ustman yang baru keluar bersama Al dan Alif.


“Ah, sepertinya perjuanganku akan sangat berat,” kata Jhon dalam hati sembari menatap ke arah calon mertuanya.


Sungguh, Jhon tidak menyangka bahwa kekasihnya adalah seorang putri dari pemilik pesantren sebesar ini. Tina yang menurutnya tidak cukup agamis, ternyata memiliki keluarga yang tidak ia tahu, atau mungkin selama ini ia terlalu cuek dan tidak banyak ingin tahu tentang kehidupan sang kekasih.


Jhon mengikuti langkah orang itu. Ia dan sopirnya mendekati Ustman. Namun arah mata Jhon yang terus tertuju pada Utsman dengan jantung dag dig dug. Tiba - tiba ia kakinya menginjak sebuah selokan.


"Sir, awas."


Plung


Kaki Jhon terlanjur masuk ke selokan yang cukup dalam.


"Ah, si*l. Kau telat memberitahu," gerutu Jhon pada sopirnya.


"Memang Sir tidak lihat?" kata sang sopir.


"Kalau saya lihat, kaki saya tidak akan terperosok."


Keadaan Jhon pun sangat buruk. Separuh kakinya basah dengan air selokan berwarna hitam, bahkan sepatu dan celananya pun tak lagi berbentuk.


Sontak, Jhon menjadi pusat perhatian lagi, tapi kali ini ia juga mendapat perhatian dari Ustman.


"Ada apa di sana?" tanya Kiyai Utsman.


"Ada bule ke sasar, Pak Yai," ucap salah satu santri yang berada di dekatnya.


Orang yang Jhon ajak bertanya tadi pun sudah mendekati Utsman.


"Pak Yai, ada orang yang mencari." Orang itu merupakan warga setempat.


"Siapa?"


"Orang bule."


Jhon pun berdiri di depan Ustman dengan kaki kotor dan celana basah, tapi ia tetap berusaha memberi senyum terbaik dan kesan yang baik. Walau keadaan Jhon saat ini, jauh dari itu.


Dari kejauhan, Arafah dan Tina melihat pemandangan itu.


"Dek, itu bukannya bosmu?"


Tina mengikuti arah mata Arafah.


"Mantan kekasihmu berantakan sekali." Arafah tertawa, sedangkan Tina meringis melihat kelakuan Jhon.


Tina hanya bisa menepuk keningnya. "Awal yang tidak mengesankan."