
"Nduk, dia bosmu?” tanya Utsman pada putrinya.
Tina mengangguk. “Iya, Bi.”
Usai tragedi itu, Jhon langsung dibawa ke rumah Utsman. Kini, pria itu sedang membersihkan diri di kamar mandi belakang di rumah Utsman.
Di dalam kamar, Arafah membuka lemari dan mengambil baju koko suaminya lengkap dengan celana panjang bawahan.
“Kok yang ini, Dek. Ini koko kesayangan, Mas.” Alif yang melihat baju koko terbaik yang ia simpan di rumah ini pun protes.
“Ya ampun, pinjem sebentar, Mas. Sama tamu kan memang harus memberikan yang terbaik.”
“Ya, tapi bukan yang ini juga.” Alif tampak cemberut.
“Terus yang mana?”
Alif pun berpikir, memang tidak ada yang lebih bagus dari setelan koko ini.
“Ya udah lah,” jawabnya pasrah.
Kebetulan postur tubuh yang mendekati Jhon, memang Alif. Oleh karena itu, Utsman meminta Arafah memberikan baju ganti milik suaminya pada Jhon untuk sementara.
Entah mengapa, Alif tidak menyukai Jhon. Mungkin karena ia terlalu solidaritas terhadap sahabatnya, sehingga ia bersikukuh Tina dan Al berjodoh. Apalagi, menurutnya, sang sahabat juga sangat menyukai adik iparnya itu.
“Dek, tolong kasih ini ke bosmu,” ucap Arafah pada Tina, lalu kembali ke kamar untuk menemui suaminya yang akan kembali bersiap sholat isya berjamaah.
Tina mengangguk dan mengambil setelan baju itu dari tangan sang kakak.
“Bosmu itu mandi apa berendam? Sudah sejam ndak keluar – keluar,” kata Abi yang sudah bersiap untuk ke masjid lagi, menunaikan sholat Isya.
Hasna yang berada di sana hanya tertawa. “Mungkin dia tidak bisa menggunakan gayung, Bi.”
Tebakan Hasna benar, Di dalam kamar mandi tradisional itu, Jhon memang tampak kebingungan. Ia tidak bisa mengguyur tubuhnya karena biasanya, tubuhnya akan langsung basah dengan guyuran air shower yang langsung menyala dengan sekali tekan.
Utsman tampak bersiap kembali ke masjid bersama Alif, sedangkan Al masih tetap berada di masjid. ia memang selalu menunggu hingga isya, usai maghrib. Saat kejadian Jhon tadi, Al pun tidak ikut ke rumah Utsman, karena baginya ia tidak berkepentingan. Jhon adalah tamu Pak Yai.
“Ummi dan Bira sholat di rumah saja, kita masih ada tamu.”
Hasna dan Tina mengangguk setuju.
“Bira, coba dilihat bosmu. Jangan – jangan dia pingsan di dalam kamar mandi,” kata Utsmn lagi.
“Apa sih, Abi? Ya ngga lah.”
“Habisnya, lama sekali dia mandi.”
Utsman dan Alif pun kembali pamit keluar rumah. Arafah mengikuti suaminya untuk kembali ke masjid bersama.
“Nduk, coba sana lihat bosmu,” ucap Hasna, setelah mereka tinggal hanya berdua. “Siapa tahu, yang dikatakan Abi benar. Bosmu pingsan.”
“Pingsan kenapa, Ummi?”
“Pingsan, karena kamar mandinya belum Ummi bersihkan. Soalnya, Ummi sama Abi tadi menghabiskan jengkol dari Ummu Salamah, tetangga sebelah.”
“Ya ampun, Ummi.” Tina pun menepuk keningnya dan segera lari ke belakang.
Sebenarnya di dalam rumah itu juga terdapat kamar mandi, tetapi Tina justru menyuruh Jhon untuk menggunakan kamar mandi di belakang yang lumayan berjarak dari rumahnya. Tina hanya ingin masih ingin memberi jarak pada Jhon, mengingat terakhir pertemuan mereka, Jhon masih saja menyentuh seenaknya.
“Jhon.”
“Jhon.”
Tina memanggil dua kali. Namun, di dalam sana tak terdengar sahutan.
Dor … Dor … Dor …
Tina menggedor pintu itu. “Jhon kamu masih di dalam?”
“Jhon.”
Baru Tina ingin menngdeor pintu itu ternyata, pintu itu pun terbuka.
“Ah.”
Sontak, Tina menutup wajahnya dengan tangan kiri. Ia pun langsung menyerahkan baju yang diberi Arafah dengan tangan kanannya.
“Kamu tuh, kebiasaan. Pakai dulu bajumu, baru buka pintu. Ini!”
Jhon tersenyum dan mengambil baju dari tangan Tina. Saat ini, ia hanya melilitkan handuk yang diberikan wanita itu sebelum masuk kamar ini, di pinggangnya.
Tina yang masih menutup matanya, langsung meraba pintu dan hendak menutup pintu itu kembali. Dan tak lama kemudian, Jhon keluar dari kamar itu.
Tina yang menunggu pria itu dengan memunggungi kamar mandi pun tersentak dan menoleh.
“Kamu mengkhawatirkanku?” tanya Jhon tersenyum.
“Ummi dan Abi yang mengkhawatirkanmu. Aku tidak,” jawab Tina dengan langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Namun, tangan Tina di cekal. “Tina, aku sangat merindukanmu.”
“Jhon. Semua berbeda.”
“Tidak. Semua akan sama. Aku ke sini untuk melamarmu,” ucap Jhon yakin.
“Aku datang jauh – jauh untuk menemui orang tuamu. Bahkan aku sudah meminta izin pada Alex untuk off sementara. Aku hanya fokus padamu, Tina. Tinaku.”
Kata – kata tu terdengar manis, tapi entah mengapa Tina sudah tidak terbuai dengan mulut manis itu. ia terlalu sering mendengar janji manis Jhon.
“Kalau begitu, silahkan. Aku yakin, menghadapi Abi itu tidak mudah.”
“Kalau begitu beri aku semangat,” ucap Jhon.
Tina melipat kedua tangannya di dada. “Dengan cara apa?”
“Ciuman.”
Tina langsung mengerutkan ujung hidungnya dan pergi. ia tidak ingin meladeni pria mesum macam Jhon. Tina sudah berusaha untuk bertobat dan tak akan mengulangi kesalahannya lagi.
“Tina.” Jhon menarik lengan wanita itu dari belakang.
“Kalau kamu masih berpikir seperti itu. jangan harap kamu bisa dapat restu, Abi! Karena di kepalamu menikh hanya tentang kepuasan nafs*. Bukan karena sebuha penyempurnaan iman.”
Deg
Seketika, Jhon merasa tertampar oleh perkataan itu. ya, benar. Sejauh ini ia tidak cukup banyak tahu tentang agama yang ia anut sekarang. Saat dirinya hampir putus asa, Alex membimbingnya. Ia juga kerap ikut dalam kajian yang sering dibawakan Ustd Abdullah, guru spiritual Alex. Dan di sana, ia meyakini diri untuk hijrah. Namun saat apa yang ia pelajari sedikit, Jhon kembali terbuai pada kenikmatan dunia bersama Tina, hingga mereka semakin larut dalam jurang dosa yang tak mengajakya untuk berhenti, sampai pada waktu Tina sendiri yang menghentikan kegilaan ini karena sebuah patah hati.
Saat susah, manusia memang ingat akan Rabb-Nya, tapi saat senang jarang manusia melakukan hal yang sama.
Jhon menatap punggung Tina yang menghilang.
“Nduk, bosmu sudah selesai mandinya?” tanya Hasna yang melihat Tina memasuki dapur.
Tina mengangguk. “Sudah.”
Tak lama kemudian, Jhon pun muncul. Seketika, Hasna tercengang melihat ketampanan seorang pria bule dengan baju koko yang melekat di tubuh itu.
“MasyaAllah, kamu tampan sekali, Nak.”
“Ummi.” Tina langsung menegur ibunya.
“Astagfirulloh.” Hasna pun beristighfar.
Jhon pun malu dan menunduk.
“Sana, langsung ke masjid!” ujar Hasna menyuruh Jhon dan Tina menyusul ayah dan kakaknya tadi.
“Tapi sudah terlambat, Ummi.”
“Lebih baik terlambat dari pada tidak,” celetuk Jhon, membuat Hasna dan Tina menoleh ke wajah itu.
Hasna tersenyum. “Iya, kamu benar.”
Tina berjalan lebih dulu. Jhon pun mulai mengerti. Untuk saat ini, ia akan menahan rindu itu mati – matian. Ia akan menahan untuk tidak menyentuh Tina, hingga waktunya tiba. Jika memang ini yang Tina mau, ia pun akan mengikuti alur keinginan kekasihnya, karena yang terpenting ia hidup bersama dengan Tina.
Di Masjid, Jhon kembali menjadi pusat perhatian. Usai menunaikan sholat isya, para santri perempuan berseru dan bergantian melihat pria bule yang ada ditengah mereka dan kini sedang duduk bersila bersiap untuk mendengar tausyiah mingguan dari calon mertuanya.
Jhon melirik ke arah Al, pria yang pernah ia lihat di restoran bersama Tina. Jhon melihat Al yang tampak bersahaja. Ia pun membenarkan duduknya seperti cara duduk Al. Jhon melirik terus ke arah Al, hingga Al pun merasa diperhatikan dan mendekatkan wajahnya.
“Kamu bosnya Tina di Jakarta, kan?”
“Perkenalkan. Saya calon suami Tina. Saya dan Tina sudah dijodohkan sejak kami kecil.” Al mengulurkan tangannya.
Mereka berkata dengan sedikit berbisik, hingga hanya mereka sajalah yang tahu percakapan itu.
Kajian belum di mulai, panitia yang merupakan santri pondok pesantren itu sedang mempersiapkan mic yang tiba – tiba rusak.
Jhon menatap pria itu tajam dan menerima uluran tangan itu. “Baiklah, kita akan bersaing dengan sehat.”
“Lebih baik mundur dari sekarang. karena menantu yang disukai Pak Yai adalah laki – laki sepertiku.” Al terlihat jumawa. ia kembali meluruskan pandangannya ke depan dan menatap Utsman dengan mic yang sudah bisa digunakan.
Belum bersaing, Jhon sudah tidak percaya diri. Padahal saat menjalankan bisnis dan bertemu banyak orang – orang penting yang memiliki kekayaan milyaran, Jhon tampak begitu percaya diri dan bangga akan kemampuannya.