
Kaki Jhon berhenti mengejar saat Tina sudah sampai di mejanya. Tina pun semakin malas dan yakin bahawa Jhon hanya main – main. Buktinya, pria bule itu tidak lagi mengejarnya saat ia sudah bersama Arafah, Alif, dan Al. Tina merasa Jhon terlalu kerdil dan tidak bernyali besar. Untuk menghadapi kerabatnya saja, Jhon tidak berani, apalagi untuk menghadapi orang tuanya nanti.
“Mbak, ayo pulang! Tiba – tiba aku sakit perut.” Tina beralasan pada sang kakak, agar ia cepat keluar dari restoran ini.
“Loh, piye toh, Dek. Ini makanannya baru di anter loh.”
“Dibungkus aja, Mas,” sahut Tina pada kakak iparnya. “Aku beneran sakit perut, lemes rasanya.”
Arafah pun melihat ke arah sang adik dan mendekatkan wajahnya. “Dek, bibir kamu kenapa? Kok bengkak gitu?”
Deg
Tina bingung. Ia semakin kesal karena ini adalah ulah Jhon.
“Ya udah, kita bungkus aja makanannya,” celetuk Al. “Sepertinya Tina benar – benar sedang tidak enak badan.”
“Ya sudah kalau begitu, Ayo kita pulang!” Alif pun memanggil pelayan tadi untuk membungkus makanan pesanan yang baru mereka sentuh sedikit.
“Dek, di dalam mobil, Mbak ada minyak angin. Nanti perut kamu oleskan minyak angin ya,” ucap Arafah khawatir dengan merangkul sang adik.
Diari kejauhan, Jhon hanya melihat Tina pergi. Ya, ia akui bahwa dirinya memang kerdil. Entah mengapa ia begitu sulit untuk berkomitmen. Bahkan untuk menemui Tina yang bersama kakaknya saja, ia takut. Jhon tahu betul bahwa wanita yang merangkul kekasihnya adalah kakak Tina, karena Tina sempat memperlihatkan fotonya bersama keluarga besarnya, juga foto yang hanya berdua saja bersama Arafah.
“Ah, bodoh! Mengapa aku tidak berani menghampirinya?” Jhon menyesali kebodohannya, setelah melihat mobil Tina pergi.
Tina memilih untuk pulang ke Magelang, sedangkan Jhon memilih untuk pulang ke Jakarta. Sepanjang perjalanan ia memikirkan banyak hal dan yang pertama adalah memastikan ada orang yang akan memegang perusahaannya. Ia juga akan meminta izin pada Alex untuk cuti dalam satu minggu. Jhon ingin membuktikan ucapannya, ia ingin ke rumah Tina dan melamar sang kekasih.
Al kembali menyetir, tapi kali ini untuk pulang. Baru separuh perjalanan dan belum sampai ke tempat tujuan, Tina meminta pulang. Hati Al pun bertanya – tanya, ia pikir Tina tidak menyukai perjalanan ini karena kehadirannya.
Tidak butuh waktu satu jam, mereka tiba di rumah ayah Tina yang dikenal dengan panggilan Kiyai Utsman atau Pak Yai.
Al melihat Tina yang langsung keluar dari mobil dan memasuki rumah tanpa berkata. Pria soleh itu pun hanya menarik nafasnya kasar. Ia semakin berasumsi jika Tina membatalkan perjalanan karena dirinya.
Seolah tahu yang dirasakan sahabatnya,Alif pun menepuk bahu itu dan merangkul. “Ini bukan karenamu, Gus.”
“Sepertinya, Bira memang tidak menyukaiku,” ucap Al lemas.
“Aku rasa tidak begitu. Hanya memang Shabira sedikit berbeda dari Arafah.”
Al mengangguk setuju. Perbedaan Tina dan Arafah memang terlihat jelas, tapi entah mengapa ia tetap menyukai wanita itu. Al sudah terbiasa bertemu dengan wanita solehah dan disukai wanita seperti itu. Untuk kali ini, ia ingin sesuatu yang berbeda.
“Ummi, Abi. Sudah pulang?” Tina menghampiri kedua orang tuanya yang sudah berada di dalam rumah.
Ia langsung mencium punggung tangan keduanya.
“Loh, kalian sudah pulang?” tanya Ummi.
Ummi memang tahu kemana putrinya pergi karena Arafah sudah memberi kabar sebelum mereka berangkat.
“Ga jadi Ummi, Bira minta pulang katanya sakit perut.”
Ummi menatap Arafah dan bergantian ke arah Tina. “Kamu sakit, Nduk?”
Tina terpaksa kembali berbohong. Ia menganggukkan kepala.
Memang paling tidak enak berbohong, karena kalau sudah sekali berbohong, terpakasa harus melakukan kebohongan lain agar kehobongan yang pertama dilakukan tidak terungkap.
Di ruang tamu, Abi langsung menyambut kedatangan Al. Alif sengaja mengajak sahabatnya masuk ke dalam rumah mertuanya lebih dulu. Lag pula, Al memang ingin bertemu dengan Kiyai Utsman yang baru saja tiba dari Jombang.
“Terima kasih, Nak Al. kamu sudah menggantikan kajian semalam,” ujar Abi.
Al tersenyum. ia duduk setelah mencium punggung tangan gurunya. “Dengan senang hati, Yai. Al juga senang melakukannya.”
Senyum tampak mengembang di bibir Abi. “Oh, ya. Kamu sudah ketemu Shabira?”
“Sudah, Bi.” Alif menjawab.
“Seharusnya dua tahun lalu, kalian bertemu.” Ab menyesali perbuatan Tina yang sempat kabur waktu itu. namun, semua tidak perlu disesali karena sudah terjadi.
Cukup lama Abi, Alif, dan Al berbincang di ruang tamu. Obrolan mereka terlihat nyambung satu sama lain. suasanya pun begitu hangat. Sementara, Tina sudah berada di dalam kamarnya. Sejak tiba dan berbincang sebentar dengan Ummi, Tina memilih langsung berdiam di kamar hingga dua jam.
“Dek.”
Tok Tok Tok
Arafah mengetuk pintu kamar sang adik. Tina pun langsung memakai lagi kerudungnya dan membuka pintu.
“Mas Al ingin pamit pulang. Temui dulu, gih!”
Tina menggeleng. “Ngga usah, Mbak.”
“Tapi dia ingin bertemu denganmu.”
“Untuk apa?” tanya Tina bingung.
Arafah mengangkat bahunya. “Tidak tahu.”
Akhirnya, Tina keluar kamar dan menemui Al yang sengaja menunggu Tina dengan duduk di kursi teras.
“Maaf, Ning Bira. Aku hanya ingin memberikan ini,” kata Al dengan menyerahkan amplop putih.
Dahi Tina mengernyit. “Apa ini?”
“Ini pesan dari adikku. kebetulan, dia juga kerja di Jakarta. Katanya dia punya hutang sama kamu.”
Tina semakin bingung. Ia merasa tidak ada orang yang berhutang padanya.
“Waktu itu, adikku hampir kena korban begal di Jakarta, lalu kamu menolongnya dan memberinya uang.” Al melanjutkan perkataannya sembari tersenyum. “Terima kasih, Ning. Allah memberikan pertolongan untuk adikku melalui kamu.”
Deg
Seketika jantung Tina serasa berdebar kencang. Ternyata dunia tidak selebar daun kelor. Tina masih mengingat kejadian itu. ia juga masih mengingat korban begal yang tak lain adalah Randy, teman sekolah Bilqis.
“Ja – jadi, Mas Al kakaknya Randy?’
Al langsung mengangguk. “Ia. Ternyata dia cukup mengenalmu.”
Deg
Tina lemas. Ia pikir di sini hanya Arafah yang mengetahui kelakuan buruknya di Jakarta, tapi ternyata ada orang terdekat yang juga mengetahui kelakuan buruk di sana. Tina cukup tahu bahwa Randy juga tahu persis bagaimana kehidupannya di Jakarta. Apalagi perusahaan yang Jhon pegang juga bekerja sama dengan perusahaan tempat Randy bekerja. Semua perusahaan yang bersinggungan dengan perusahaan Jhon pasti mengetahui skandal yang terjadi antara bos dan sekretarisnya itu, mengingat Jhon yang tak pernah mengenal tempat dan waktu saat ingin bercumbu, membuat Tina merasa malu dan berusaha menjadi orang yang tebal muka.
“Apa Randy juga bercerita banyak tentang aku?” tanya Tina ragu.
Al masih tersenyum dengan kepalanya yang kembali mengangguk. “Ya, cukup banyak. Ternyata perusahaan tempat kalian bekerja, bekerja sama?”
Tina semakin meringis. Habis sudah riwayatnya di hadapan Al. Walau ia pun tidak berharap pada pria itu. Namun, ia berusaha menutupi aibnya dengan menjadi yang lebih baik seperti sekarang.
Akan tetapi, selalu ada hal yang dibayar atas apa yang dilakukan. Tina pun harus siap jika suatu saat nanti, semua kelakuan buruknya di Jakarta sampai ke telinga kedua orang tua. Entah apa jadinya, jika sang ayah tahu bahwa di sana ia tinggal bersama ssatu atap dengan seorang pria tanpa ikatan suci.
Kepala Tina menggeleng. Sungguh, ia tidak bisa membayangkan itu. ia takut kedua orang tuanya akan mati berdiri mendengar kelakuan putrinya di sana.
Tina pun berharap Allah yang maha baik tetap mengampuni dosanya dan menutupi aibnya.
“Ning Bira baik – baik saja? Kepalanya pusing?” tanya Al yang melihat Tina menggelengkan kepala.
Tina semakin pusing. Ia memilih pamit dan meninggal Al begitu saja. Lalu, berlari ke kamar.
“Tuh kan Ummi, kelakuan anakmu,” ucap Abi yang mengintip.
“Dia juga anakmu, Bi.”
“Perasaan setiap kali melakukan, Abi tidak pernah lupa membaca doa terlebih dahulu. Tapi kenapa hasilnya masih seperti ini?” tanya Kiyai Utsman, membuat istrinya mendelik.