
Bid, kamu tahu kabar Bira?” tanya Hasna pada putranya.
Abid mengangguk.
Pria itu baru saja memasuki dapur, setelah keluar dari kamar. Tenggorokan yang kering membuatnya ingin mengambil minum.
Abid menarik kursi meja makan dan duduk di sana untuk minum. Hasna yang juga hendak melakukan yang sama, ikut duduk di hadapan putranya.
“Kemarin, Jhon menelepon Abid, Mi.” Abid berbicara lebih dulu.
“Ummi rindu sekali dengan Bira, Bid.”
“Ummi mau ke Jakarta?”
Mata Hasna langsung berbinar mendengar tawaran dari putranya.
“Kamu ada urusan di Jakarta?” tanya Hasna senang.
Abid tersenyum dan mengangguk. “Iya, kebetulan Abid ada urusan di sana. kalau Ummi mau, minggu depan kita ke sana.”
“Kenapa tidak besok, Bid?”
Abid tersenyum dan menggenggam lembut tangan sang Ibu.
“Kan urusan Abid minggu depan, Ummi. Tapi tidak apa, kalau Ummi mau di antar besok, Abid antar besok. Nah, minggu depannya Abid jemput sekalian selesai urusan, bagaimana?”
“Mas, aku juga mau ke Jakarta.” Tiba – tiba suara Zahra terdengar. Zahra ikut bergabung di meja makan itu dan duduk di samping sang suami.
“Sekalian liburan, Mas. Sudah lama kan kita ga jalan – jalan. Lagian, anak – anak juga masih liburan sekolah. Ayash dan Ameena pasti senang.”
“Ide bagus itu, Ra. Kita ke Jakarta bersama – sama, pasti seru.” Hasna menimpali.
“Ummi, ga enak sama Jhon.” Abid tidak setuju. “Masa kita sekeluarga ke sana. “Nanti merepotkan mereka.”
“Ya jangan buat repot tuan rumah dong, Mas. walau kita tamu, nanti biar aku yang masak. Lagian Tina juga pasti senang.”
Hasna menyetujui perkataan menantunya. “Benar, Bid.”
Abid tampak berpikir. “Kalau begitu, tidak bisa besok. Minggu depan aja ya. Kebetulan urusan Abid di Jakarta juga tidak sebentar.”
“Yeay …” Zahra bersorak dan langsung memeluk suaminya dari samping. “Mas Abid memang the best. Zahra makin cinta. Muuaachhh.”
Zahra mencium pipi suaminya, membuat Abid diam membeku dan melirik sang Ibu. “Dek, apa – apaan sih? Malu sama Ummi. ”
Zahra langsung melepas pelukannya pada sang suami dan tersenyum malu ke arah mertuanya. “Hehehehe … Maaf, Ummi.”
“Loh, kenapa minta maaf. Ummi senang melihat kliat harmonis dan rukun.” Hasna beranjak dari duduknya.
“Besok, Ummi akan mengabarkan Bira, kalau kita akan mengunjunginya minggu depan,” ucap Hasna lagi.
Abid pun mengangguk dan Hasna kembali menuju kamar. Namun, baru beberapa menginggalkan Abid dan Zahra di sana, Hasna kembali menoleh.
“Hush! Kalau mau cinta – cintaan di kamar sana!”
Zahra kembali menjauhi suaminya. Pasalnya saat ibu mertuanya sudah beranjak, Zahra kembali mendekati sang suami dan hendak menggoda dengan mendekatkan bibirnya pada bibir suaminya.
Zahra kembali nyengir. “Iya, Ummi.”
Abid hanya diam. Ia memang pria yang kaku, tapi Zahra menyukai itu.
“Tuh, kan ketauan, Ummi,” ucap Abid menggeleng.
“Biarin.”
Lalu, Abid menoleh ke arah sang istri yang duduk menempel lagi di sampingnya. “Kenapa, lagi mau ya?”
Zahra kembali nyengir. “Kok, tahu?”
“Ya, tahu lah. Orang nakal begini.”
Zahra kembali tertawa. Lalu, bangkit dari kursi itu dan menarik tangan suaminya. “Kalau begitu ayo!”
“Semalam kenapa tidak mau? padahal malam jumat.”
Zahra masih menampilkan senyum termanisnya untuk menggoda sang suami. “Maaf. Semalam Adek kelelahan, sekarang udah ngga. Fit kalau mau sampai pagi.”
Abid ikut bangkit dan hendak mengikuti sang istri. Apalagi tangannya sudah setia ditarik oleh Zahra. Namun, Abid kembali duduk.
“Mas, ngapain lagi sih?”
“Masih haus, Dek.”
“Ih, cepet!” Zahra kembali menarik tangan kiri suaminya.
“Iya, sebentar. Sayang!”
Dahi Zahra langsung mengernyit. “Apa?”
“Sebentar, Sayang. Ams habiskan minum dulu.”
“Sayang?” tanya Zahra mendelik.
“Iya, kan kaya Jhon manggil Bira.”
Sontak, Zahra tertawa. “Ih, ada kemajuan.”
“Kemajuan apa?” tanya Abid yang kemudian kembali bangkit, setelah air di gelasnya terminum habis.
“Kamu, bisa melucu.”
Abid pun tersenyum. Kini, di rumah ini hanya ada Abid dan keluarnya yang menemani Hasna. Abid menjadi tombak utama yang meneruskan pondok pesantren keluarga. ia benar – benar anak pertama dan laki – laki satu – satunya yang bisa diandalkan. Sementara, Arafah kembali ke Surabaya. Ketenangan di dalam keluarga itu pun kembali terasa. Walau tetap ada kesedihan di sana.
Di tepi tempat tidur, Hasna mengambil foto suaminya.
“Bi, Ummi rindu Abi. Melihat Abid dan Zahra, mengingatkan kita muda. Abid begitu mirip denganmu.”
“Abi, tunggu Ummi di sana ya.”
Dengan lelehan airmata, Hasna mengusap foto suaminya. Ia merasa anak – anaknya sudah bahagia. Ia pun bahagia. Namun baginya, kebahagiaan ini terasa tidak lengkap tanpa kehadiran Utsman.
Di Jakarta, Jhon baru saja membaringkan istrinya dengan perlahan. Dres dengan satu tali itu, sudah berada di pinggang. Bagian atas tubuh Tina pun sudah terpampang di hadapan Jhon.
Bentuk tubuh yang sama seperti yang pernah ia lihat pertama kali. Tina memang tidak pernah berubah. Sebanyak apa pun ia makan, wanita itu tetap memiliki tubuh ideal. Hal itu yang sering kali membuat iri Mira dan Saskiya.
“Mas.” Tina bersuara, karena ia tidak merasakan sentuhan Jhon sejak tubuhnya dibaringkan.
“Ya.”
“Kenapa?” tanya Tina.
“Tidak. Aku hanya ingin melihat lekuk tubuhmu dengan lebih dekat.”
Kini, tubuh Tina memang sudah tak lagi terblut sehelai benang pun. Dres yang melorot hingga pinggang, sudah Jhon lepaskan.
Sontak, Tina menyilangkan kedua tangannya di dada dan menutup kakinya.
“Hei, kenapa ditutupi?”
“Habis kamu pasti lagi ngeliatin.” Tina malu, kebiasan Jhon yang menatap dirinya intens saat tak menggunakan apa pun.
Bruk
Jhon pun menindih tubuh itu. “Sekarang semua milikku. Jadi aku bebas untuk melihat semua ini kapanpun aku mau. bukan begitu?”
Tina mengangguk.
Lalu, wajah Jhon berubah saat melihat ke kedua bola mata Tina yang memandang lurus ke depan. Ia mengusap lembut rambut itu dan mengecup kedua mata Tina yang kini sedang tidak berfungsi.
Jhon sanhat sedih. Namun. Ia tak pernah menunjukkan kesedihan itu di depan Tina. Ia selalu mengganti dengan suara yang ceria.
“Sabar, Sayang. Papi sedang berusaha mencari donor retina untukmu.”
Tina mengangguk. “Iya, aku akan sabar. Tapi aku tidak tahu, apa kamu juga akan sabar melihatku seperti ini?”
“Jangan pernah meragukan cinta dan kesabaranku, Sayang!”
Lagi - lagi, Tina tersenyum dan kepalanya kembali mengangguk. Tina sungguh bahagia, karena ia yakin bahwa dirinya berada di tangan pria yang tepat.