
Mata Alisha yang terpejam, kini perlahan terbuka. Kepalanya terasa pusing, tetapi dia tetap memaksa untuk bangun. Dengan hati-hati Alisha memegang perutnya, untuk memastikan apakah anaknya masih aman.
“Al.” Rafael membuka pintu kamar rawat Alisha. Ada rasa sesak saat melihat pergerakan dari Alisha yang menyentuh perutnya.
Rafael mendekati sang istri yang masih terbaring.
“Apa anak kita selamat, Mas?” tanya Alisha dengan suaranya yang lemah. Dia menatap sendu suaminya dan berharap jawaban ya keluar dari mulut pria itu.
Rafael duduk di samping Alisha. Kepalanya tertunduk dan tangannya meraih tangan Alisha untuk digenggam. “Maaf, Al.”
Jawaban itu membuat hati Alisha hancur sehancurnya. Bukan jawaban seperti itu yang ia inginkan. Seharusnya, suaminya itu bisa membayar mahal dokter untuk menyelamatkan anak mereka.
“Dokter bilang, janin itu tidak berkembang. Walaupun dia dipertahankan, dia tidak bisa bertahan lama dan akan membahayakan kesehatan kamu, Al.”
Alisha menatap suaminya dengan mata yang terasa panas.
“Semua karena Mama.” Alisha menarik tangannya dari genggaman sang suami. Tangisan itu akhirnya pecah menciptakan rasa perih yang menusuk-nusuk hatinya. “Kalau saja Mama mau menolongku, anakku pasti bisa diselamatkan.”
Rafael sama terlukanya dengan Alisha. Bahkan, sejak Alisha dilarikan ke rumah sakit, ibu kandung Rafael itu tidak mau menjenguk menantunya. Dari situlah, perasaan kecewa Rafael terhadap Syana semakin dalam.
“Aku akan bicara sama Mama, Al. Aku juga marah dan kecewa sama Mama. Kalau saja–”
“Aku mau sendiri, Mas. Tolong tinggalkan aku!” Alisha tidak mau mendengar apa pun dari suaminya. Meski ini bukan kesalahan Rafael, tapi apa yang diperbuat oleh Syana terlalu menyakiti hatinya.
“Tidak, Al. Aku mau temani kamu,” tolak Rafael.
Alisha mengabaikan suaminya. Dia membuang muka dan membelakangi suaminya.
Tangisan pilu kembali terdengar di telinganya, sampai akhirnya dia tertidur dalam tangisnya.
*
*
*
“Aku akan hubungi Bu Linda untuk membereskan barang-barang kamu. Kita pulang ya,” kata Rafael setelah dokter mengizinkan Alisha pulang.
“Aku mau sendiri untuk beberapa waktu. Biarkan aku tinggal di rumahku sendiri bersama Ria.”
“Ke mana pun kamu pergi. Aku ikut, Al.”
“Mas, tolonglah!” Alisha menatap tajam suaminya yang berdiri di hadapannya, sedangkan dia duduk di tepi ranjang.
“Aku butuh akal sehat untuk menghadapi mama kamu. Menghadapi mertua yang sama sekali tidak bisa menerima aku dan anak yang tumbuh di rahim aku. Aku tidak bisa, Mas.” Alisha membuang muka. Buliran bening kembali mengalir di wajah cantiknya saat mengingat apa yang Syana katakan.
“Aku sudah siapkan apartemen untuk kita, Al. Bu Linda dan beberapa pelayan akan mengurus kita di sana. Aku janji, Mama atau Anna tidak akan bisa mengganggumu, Al. Aku akan menjaga kamu dengan sangat baik, aku janji. Kita akan usaha lagi untuk mendapatkan anak, Al.”
Rafael berlutut tepat di depan Alisha. Dia sangat tidak rela jika Alisha benar-benar meminta cerai.
“Percuma, Mas. Mama kamu tidak pernah menerima anak yang lahir dari rahimku. Untuk apa aku hamil lagi? Untuk didoakan keguguran lagi?”
Rafael menundukkan kepala. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan istrinya itu.
“Aku akan membuat Mama minta maaf sama kamu. Aku akan meyakinkan Mama untuk menerimamu, Al.”
“Tidak perlu, Mas. Aku tidak butuh itu. Mungkin lebih baik, kita bercerai saja supaya mama kamu bisa mendapat menantu impiannya.”
Alisha menghubungi Ria untuk menjemputnya. Dia mengabaikan Rafael yang terus memohon agar dia bisa ikut bersamanya.
Sampai Ria datang bersama Felix, suami istri itu masih terus berdebat. Rafael ingin tinggal bersama Alisha, tapi Alisha menolaknya.
“Aku sangat yakin, Mama dan Papa tidak akan menerimaku. Kehamilanku saja sama sekali tidak mempengaruhi mereka, mungkin karena aku tidak sepadan dengan kalian. Jadi, ceraikan aku, Mas dan hiduplah dengan pilihan orang tuamu.”
“Sampai mati pun aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku, Al. Sampai mati kamu akan tetap menjadi istriku.”
Kembang kopinya dong gaess 🤭
Oh iya, boleh kasih aku masukan? Mending segera tamat setelah konflik ini selesai, atau mau sampai mereka bahagia? Punya anak mungkin? Koment ya 💋💋