Ceraikan Aku!

Ceraikan Aku!
Ceraikan Aku ~ Bab 87


Kehadiran Anna di rumah Rafael, nyatanya justru membuat wanita itu semakin dekat dengan Alfaro. Meski wanita itu selalu sibuk dengan rencana dan impiannya untuk menikah dengan Rafael, tapi secara kebetulan dia justru semakin dekat dengan Alfaro. 


Seperti pagi ini misalnya. Wanita dengan postur tinggi itu berniat mengajak Rafael untuk mengunjungi salah satu pabrik milik Hartono dengan alasan orang tuanya yang meminta. Namun, niatnya itu sudah terbaca lebih dulu oleh Alfaro. Meski Rafael yang menjadi pemimpin di cabang ini, tapi kedudukan Alfaro masih lebih tinggi. Karena itulah, Alfaro beralasan ingin mengunjungi pabrik juga sebagai cara untuk mendekati Anna. Anna tidak bisa mengelak, meski terpaksa akhirnya dia tetap pergi bersama Alfaro. 


Keadaan Alisha semakin parah, tapi wanita itu tidak mau menggugurkan kandungan seperti saran dokter. Dia percaya, janin itu akan selamat dan sehat. 


“Aku janji setelah rapat selesai aku akan langsung pulang, Al.” Rafael dengan berat hati meninggalkan Alisha di rumah. 


“Iya, Mas. Hati-hati ya.” 


Rafael mengangguk sembari tersenyum, lalu dia mencium perut Alisha sebelum akhirnya mengecup lama kening istrinya itu. 


Sepulang rapat nanti, aku akan membawamu pergi untuk sementara, Al. Aku tidak ingin mengambil risiko. Aku tahu, kamu tertekan karena Mama meski bibirmu menyunggingkan senyum. 


***  


*** 


Alisha sedang memberi makan ikan-ikan di kolam belakang rumah. Dia merasa bosan jika terus tidur di kasur. Ikan-ikan hias yang berebut makanan itu menjadi hiburan tersendiri bagi Alisha. 


Awalnya dia baik-baik saja, tapi mendadak perutnya terasa nyeri. Lagi-lagi kram di perutnya kambuh dan membuat wanita itu kian tersiksa. Alisha akhirnya menelepon Ria karena suaminya tidak menjawab panggilannya. 


Menunggu Ria datang, Alisha sudah tidak tahan lagi. Keringat dingin mulai membasahi keningnya. Alisha tidak sanggup berjalan. Perlahan, diseretlah kaki jenjang itu sampai ke gazebo agar dia bisa duduk sambil menunggu kedatangan sekretarisnya. 


Rasa sakit di perutnya semakin terasa, entah ke mana para pelayan yang biasa lewat membersihkan rumah. Tiba-tiba, Syana lewat sambil membawa gunting tanaman. Tampaknya wanita lima puluh tahun itu hendak memetik bunga yang tak jauh dari tempat Alisha. 


“Ma, tolong aku, Ma. Perutku sakit sekali,” keluh Alisha sambil memegangi perutnya yang terasa sangat sakit. 


“Mama, tolong, Ma. Sakit.” Alisha berusaha menahan perutnya yang semakin lama semakin terasa nyeri. Rasanya seperti ada yang menggaruk-garuk perutnya dengan pisau tajam. 


Syana tetap mengabaikan Alisha. Meski suara menantunya itu terdengar lemah, tetapi Syana tetap tidak peduli. Dia sibuk memetik bunga mawar yang sedang mekar itu. Lalu, dia berjalan kembali menuju ke dalam rumah, seolah Alisha tidak ada di sana. Dia menjadi apatis karena rasa tidak sukanya. Padahal, janin yang dikandung Alisha adalah cucunya juga. 


“Setidaknya tolong panggilkan seseorang untukku, Ma.” Suara Alisha terdengar semakin lemah. Namun, Syana tetap berlalu. Alisha yang malang hanya bisa berharap Ria segera datang dan membawanya ke rumah sakit. 


*** 


*** 


Alisha dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan pingsan. Kakinya berlumuran banyak darah yang membuat Ria sangat khawatir saat menemukannya. 


Rafael berlari dari mobil sampai ke IGD. Melihat istrinya yang masih tidak sadarkan diri, Rafael merasa kakinya sangat lemas. Dia mendekati istrinya dan terduduk tanpa daya. 


“Tuan. Kami harus menyampaikan kabar duka ini.” Dokter yang berdiri di belakang Rafael angkat bicara. 


Rafael sama sekali tidak merespons. Matanya memerah dan tangannya mengepal. Melihat wajah sembab istrinya, Rafael bisa menyimpulkan bahwa Alisha pasti merasakan sakit yang luar biasa sebelum pingsan. 


“Maaf Tuan, kami tidak bisa menyelamatkan kehamilan Nyonya, karena saat tiba di rumah sakit, janinnya sudah keluar.”


Aku terlambat, Al. Maafkan aku. Maafkan ayahmu yang tidak berguna ini, Nak.


Rafael menyandarkan kepalanya di samping perut Alisha. Rasa kecewa dan kehilangan membuatnya terlihat sangat rapuh. Dia sangat menanti kehadiran anak itu. Apakah setelah ini Alisha akan menuntut perceraian karena dia telah gagal melindungi anak mereka?


Kembang kopinya jangan lupa 💋💋