
Rafael tidak mau menyerah dan membuat istrinya kecewa. Dengan tidak sabar, Rafael menunggu pembeli yang sudah memesan rujak es krim itu. Cukup lama menunggu, sang pembeli tak juga muncul. Akhirnya, Alisha pun keluar dari mobil dan menghampiri suaminya.
“Kok lama banget sih, Mas?” tanya Alisha dengan gelisah. Dia melirik pada dagangan penjual rujak es krim yang sudah habis dan hanya menyisakan satu porsi saja. “Kok habis?” Pandangan Alisha kini beralih pada suaminya yang hanya tersenyum kecil.
“Iya, makanya itu, Al. Aku tungguin yang beli itu, siapa tahu mau kita ganti.” Rafael mengusap lembut punggung Alisha, takut jika istrinya itu akan marah nantinya.
“Ya udah, kita tunggu aja,” kata Alisha. Pandangannya kini melirik rujak es krim yang berada di spanduk. Dia mulai merasakan bayinya menendang kuat seakan ingin menikmati makanan itu. “Sabar ya sayangnya mommy, nanti pasti dibelikan sama Daddy.”
“Dia udah enggak sabar ya, Al?” Rafael ikut mengusap perut buncit Alisha.
“Ibu lagi hamil ya, nanti saya bantu ngomong sama yang beli,” kata penjual itu.
Alisha dan Rafael kompak mengangguk dan berterima kasih. Tidak lama wanita yang membeli rujak es krim itu pun keluar untuk mengambil pesanannya yang telah dibayar.
“Bu, boleh saya beli rujak es krimnya? Istri saya lagi hamil dan ngidam tapi rujak es krimnya sudah habis,” kata Rafael sambil menjelaskan keadaan mereka.
“Kasihan mereka sudah menunggu dari tadi, Bu. Rujak saya kebetulan habis dan ibunya sampai keluar dari mobil saking lamanya menunggu ibu belanja,” kata penjual rujak yang mencoba membantu Rafael menjelaskan.
“Istrinya lagi hamil? Berarti kalau saya jual lagi dengan harga mahal, Anda akan membelinya?” tanya wanita itu menggoda.
“Ya, saya akan bayar. Berapa?” Rafael langsung mengeluarkan dompetnya untuk membayar rujak es krim itu. Berapa pun harganya, asal ngidam istrinya keturutan, Rafael bersedia membelinya.
“Bukan buat saya. Tapi, anak-anak di panti tempat saya mengajar. Mereka butuh sumbangan dana, jika Tuan mau membeli ini, saya akan sumbangkan uangnya untuk anak-anak itu,” jawab wanita itu yang membuat Rafael tertegun mendengarnya.
Lalu, seolah paham dengan permintaan istrinya, Rafael pub mengangguk. “Saya akan menjadi donatur tetap, boleh minta alamatnya supaya anak buah saya mengirimkan hadiah untuk anak-anak panti itu?”
Wanita itu mengangguk sangat bahagia. Dia lalu menyerahkan rujak es krim itu pada Alisha dan mengeluarkan kartu nama pemilik panti asuhan.
“Saya berdoa semoga kehamilannya lancar dan sehat sampai melahirkan,” ucap wanita itu dengan tulus.
“Terima kasih, kami pasti akan ikut membantu untuk anak-anak.”
“Sebenarnya saya merasa tidak enak, tapi tempat kami sedang benar-benar butuh bantuan, saya rasa Tuhan telah mengirimkan kalian untuk anak-anak.” Wanita itu tersenyum lalu tertunduk sedih.
Tanpa banyak bicara, Rafael sedikit menjauh lalu menelepon Felix untuk mengirimkan hadiah sekaligus menanyakan apa saja yang mereka butuhkan.
“Terima kasih. Karena Anda kami punya kesempatan untuk membantu sesama,” kata Rafael dengan tulus.
“Kami yang berterima kasih, rujak ini tidak seberapa untuk saya, tapi Tuan membelinya dengan sangat mahal,” balas wanita itu dengan mata berkaca-kaca. Rasanya sangat terharu merasakan kebaikan hati Rafael yang langsung mengiyakan tanpa banyak bertanya dan curiga.
“Kebahagiaan istri saya, jauh lebih mahal dari apapun. Itu adalah perwujudan rasa terima kasih kami untuk rujak es krimnya.”
Sementara itu, Alisha sudah mulai menikmati rujak es krim yang mulai meluber. Hingga akhirnya, ngidam sederhananya itu berhasil diwujudkan oleh suaminya.