
Ketampanan dan kelucuan Shaka menjadi pusat perhatian tamu-tamu yang datang. Bocah yang sedang digendong oleh Rafael itu tampak tersenyum lebar, bahkan dia sama sekali tidak takut dengan kilatan cahaya kamera yang mengabadikan posenya.
Mereka tidak hanya berdua, ada wanita cantik dengan perut buncit yang sedang menggandeng lengan Rafael. Benar-benar visualisasi keluarga sempurna yang terlihat bahagia.
Dengan senyum yang terus mengembang di wajah ketiganya, saat fotografer secara khusus mengambil potret mereka. Rafael bagaikan raja yang merangkul pinggang permaisurinya, juga putra mahkota tampan yang ada di gendongannya. Mereka menjadi pusat perhatian karena sukses membuat para tamu kagum dengan keharmonisan mereka.
“Daddy, kapan kita boleh mamam?” tanya Shaka yang berbisik pelan di telinga Rafael.
Rafael mengerutkan kening. “Kamu udah lapar emangnya? Kalau belum lapar jangan minta makan terus, nanti perut kamu meledak, Shaka.”
Mendengar kata meledak rasanya telinga Shaka benar-benar geli. Dia belum pernah melihat perut manusia yang meledak.
Mereka duduk tenang dan menyaksikan pernikahan Felix dan Ria yang akhirnya bisa terwujud di hari ini. Mama Syana dan Papa Arya juga turut menghadiri pernikahan sekretaris Alisha dan asisten Rafael itu.
“Shaka mau dipangku Opa,” kata Shaka yang sepertinya merencanakan sesuatu.
Tanpa curiga, Rafael menuruti keinginan putranya itu. Dalam pangkuan sang kakek, Shaka terlihat tenang sambil sesekali berbisik.
Hingga tiba saatnya Felix dan Ria yang sudah resmi menjadi suami istri, berjalan bergandengan tangan melewati para tamu yang kemudian menghujani mereka dengan jutaan kelopak mawar. Dua pengantin yang berbahagia itu tersenyum lebar sambil melambaikan tangan.
Dengan lucunya, Shaka mengikuti kedua pengantin itu dan berjalan cepat menuju kue pengantin yang sudah siap di dekat pelaminan.
“Om Felix, Shaka mau ini!” teriaknya tepat di samping kue pernikahan.
Felix dan Ria justru senang dan mengajak Shaka untuk ikut memotong kue.
“Om Felix, Shaka mau yang besal ya!”
Alisha dan Rafael baru sadar kalau putranya membuat kerusuhan, pasalnya sedari tadi Shaka bersama sang kakek, Arya Hartono.
“Aduh, itu anak tau aja kalau ada makanan!” gumam Rafael yang kemudian berjalan menghampiri putranya.
Mereka tidak membawa pengasuh Shaka, sehingga mau tidak mau Rafael dan Alisha mengurus sendiri putra mereka itu.
“Shaka!” Rafael melotot pada putranya yang hanya nyengir sambil menunggu Felix mengambilkan potongan kue untuknya.
“Daddy mau juga?” tanya Shaka yang sama sekali tidak merasa bersalah.
Rafael geleng-geleng kepala karena kelakuan putranya itu. Lalu, Felix menyerahkan satu potongan kue pernikahan pada Shaka.
“Satu lagi, Om. Dedeknya Shaka juga pasti mau kuenya,” kata Shaka sembari menerima piring kecil berisi kue pemberian Felix.
“Shaka, ya ampun!” Rafael sudah sangat malu dengan tingkah putranya yang selalu tidak bisa menahan diri jika berurusan dengan makanan.
“Kamu kayaknya ngerti banget kalau ini kue dari emak bapakmu,” gumam Felix sambil memotongkan lagi kue sesuai permintaan bos kecilnya itu.
Setelah mendapatkan dua potong kue, Shaka dan Rafael kembali ke tempat duduk mereka.
“Mommy, ini kuenya buat dedek Shaka,” kata Shaka dengan bangga. Dia tidak egois dan selalu ingat dengan adik yang sekarang masih di perut Alisha.
“Kak Shaka. Jangan gitu lagi, malu-maluin itu namanya,” kata Alisha, menasehati putranya.
“Tapi Shaka minta baik-baik, Mommy. Shaka enggak ngelebut, Shaka enggak nyuli,” jawab Shaka.
“Udah biarin aja, Al. Namanya juga anak kecil,” sahut Mama Syana membela cucunya.
“Nanti Opa belikan kue seperti itu, Shaka mau?” tanya Papa Arya yang masih gemas dengan tingkah cucunya.
“Enggak mau, Shaka ‘kan masih kecil, enggak mau menikah. Nanti kalau ulang tahun aja Opa belikan Shaka kue yang besal ya,” jawab Shaka.
Rafael menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dalam hati dia sangat berharap semoga anak keduanya nanti tidak seperti Shaka yang menjadi raja makan.
Maap ya Daddy. Habisnya kuenya menggoda banget 😅😅