
Setelah makan malam yang membuat perasaan Anna dongkol karena ulah Alisha yang terus menerus minta disuapi Rafael, kini dua manusia yang menjadi suami istri itu sedang duduk bersebelahan di ruang tengah. Alisha sibuk mengganti chanel TV, sedangkan Rafael tampak asyik dengan layar tablet miliknya.
Awalnya, Alisha hanya duduk biasa. Jaraknya dengan Rafael pun tidak terlalu dekat. Sampai tiba-tiba, Alisha melihat dari kejauhan Anna menghampiri mereka. Alisha langsung tidur di pangkuan Rafael membuat pia itu meletakkan gawainya.
Rafael duduk di sofa dengan Alisha yang tertidur di pangkuannya. Pria itu lalu menyisir rambut istrinya dengan lembut. Tiap kali Alisha menggeliat, saat itu pula Rafael mengulum senyum. Sementara Anna yang telah mendekat, memilih duduk di sofa lain.
"Beb, gimana proyek kerja sama kita yang wahana wisata, fine-fine aja, 'kan? Aku dengar pabrik biskuit kamu mengalami masalah, takutnya pengaruh juga sama proyek kita," kata Anna yang kini ikut nimbrung. Dia duduk di sofa berbeda yang ada di bagian kiri, sehingga Anna bisa melihat jelas apa yang Alisha dan Rafael lakukan.
"Duh si mantan masih aja panggil beb, bebek kali ya," sahut Alisha dengan ketus.
Mendengar sahutan sang istri yang terdengar seperti cemburu, membuat Rafael menyimpulkan sesuatu. Mungkin kehadiran Anna di rumah mereka bisa menjadi jalan pintas agar Alisha bisa lebih mencintai suaminya itu.
“Tidak ada pengaruh sama sekali, Anna. Kak Alfaro juga akan datang untuk membantu urusan proyek kita selama aku fokus sama pabrik biskuit,” jawab Rafael yang sengaja tidak menegur Anna masalah panggilan sayang itu.
“Oh, kakak kamu akan ke sini. Mama kamu juga sebentar lagi akan ke sini, Beb.” Anna melirik Alisha yang masih rebahan di pangkuan Rafael.
Secara spontan Alisha langsung terbangun. Anna tahu hubungan Alisha dan mamanya Rafa tidak baik-baik saja. Karena itulah, Anna ingin memanfaatkan situasi dengan sebaik-baiknya. Bagi Anna, pernikahan Alisha dan Rafael hanya pura-pura saja.
“Mama ke sini?”
“Iya, Beb. Mama kamu tahu aku ada di sini, makanya dia mau ke sini untuk ketemu sama aku,” jawab Anna dengan santai. Dia sangat senang karena sebentar lagi akan mendapat teman untuk melawan Alisha yang sudah merebut calon suami yang sangat dicintainya itu.
***
***
Sesuai perkataan Anna, Syana akhirnya datang ke rumah Rafael dengan alasan ingin menemui dan menemani Anna selama berada di negara ini. Wanita itu mendapat kamar persis di sebelah kamar Rafael karena kamar itu memang Rafael siapkan untuk kedua orang tuanya jika mereka menginap.
Anna masih ingin membuktikan pernikahan yang menurutnya palsu itu. Dia membujuk Syana agar bisa tidur bersamanya di sebelah kamar Rafael. Rencananya, dia akan diam-diam masuk ke kamar Rafael untuk membuktikan bahwa mereka tidur terpisah.
Sementara itu, saat melihat Anna masuk ke kamar Syana, Alisha jadi memiliki ide cemerlang untuk membuat wanita pengganggu itu keluar dari rumahnya.
Alisha sengaja tidak mengunci pintu kamar dan membiarkannya sedikit terbuka. Dia memakai gaun tipis yang dibeli atas permintaan Rafael beberapa waktu lalu. Gaun itu sangat tipis, dan beberapa bagian sengaja dibuat lubang. Di kedua bagian puncak buah pir dan tepat di bagian irisan kiwinya. Lubang itu memudahkan Rafael untuk menikmatinya.
Kembang kopinya dulu, nanti bab selanjutnya, anu-anu dikit ya wkkk