
Alisha masih membeku karena apa yang dikatakan suami Melinda. Jika dipikir-pikir, sikap suaminya memang terlalu aneh. Dia sangat mesum saat berhadapan dengannya yang haru beberapa bulan dikenal. Lalu, bagaimana dengan hubungannya dengan Melinda? Bukankah mereka sudah menjalin hubungan cukup lama?
Aku harus mencari tahu sendiri. Lebih baik, aku pura-pura tidak peduli saja supaya lebih mudah membuktikan siapa yang sebenarnya bersalah.
"Oh, terima kasih Tuan. Saya akan lebih berhati-hati lagi," kata Alisha yang seolah membenarkan ucapan suami Melinda.
"Alisha, aku nggak pernah ...." Rafael berbalik dan menatap istrinya, tetapi sorot mata Alisha hanya terfokus pada satu tujuan.
"Melinda, jawab pertanyaanku. Anak siapa yang sedang kamu kandung?" tanya Alisha seolah tidak memiliki beban.
Bagi Alisha, jika suaminya benar-benar menghamili Melinda, maka itu bisa menjadi alasan yang kuat untuk menuntut perceraian. Namun, jika suaminya terbukti tidak bersalah, maka Rafael mungkin akan melepaskan Melinda selamanya.
Melinda berdebar hendak menjawab pertanyaan Alisha. Melihat suaminya yang kasar, tidak ada pilihan lain bagi Melinda selain melarikan diri. Mungkin ini adalah kesempatan bagus yang sangat langka untuknya.
"Anak suamimu," jawab Melinda sambil memejamkan mata.
Mendengar jawaban Melinda, Rafael menjadi murka dan mengepalkan tangannya. Namun, saat dia hendak protes pada mantannya itu, suami Melinda yang juga sedang emosi langsung meninju wajah Rafael.
"Dasar, laki-laki breengsek!" Laki-laki itu kembali memukul Rafael, tapi tangan Alisha menahannya sekuat tenaga.
"Dia belum terbukti bersalah hanya karena satu mulut yang berbicara. Bukankah, seharusnya kita percaya dengan bukti yang kuat, dibanding mulut istrimu yang sering membohongimu?" tanya Alisha yang matanya menatap jijik pada Melinda.
Entah Melinda berkata benar atau tidak, tetapi selama Rafael belum terbukti sebagai ayah biologis janin Melinda, siapa pun tidak berhak menghakimi Rafael, apalagi bersikap kasar.
"Mas Rafa, tolong aku. Aku nggak mau kehilangan bayiku. Tes DNA itu sangat berisiko keguguran. Selamatkan aku dan bayi ini," pinta Melinda yang sudah berderai air mata. Dia sangat takut dengan tes yang memang bisa membahayakan janin itu.
"Aku tidak peduli, itu bukan anakku!" teriak Rafael sambil menyentuh ujung bibirnya yang terluka karena pukulan suami Melinda.
"Dasar laki-laki dan perempuan sama saja. Lihat saja, jika terbukti itu anakmu, aku akan menghabisimu!" Suami Melinda meninggalkan tempat itu dengan wajahnya yang garang.
Sementara itu, Rafael yang kesal langsung mencengkeram wajah Melinda. "Kenapa bisa aku yang menghamilimu? Bahkan aku tidak pernah menyentuhmu."
Alisha melepaskan cengkeraman suaminya di wajah Melinda. "Mas, jangan kasar sama perempuan, apalagi dia sedang hamil."
Rafael tiba-tiba memeluk tubuh Alisha dan memejamkan matanya. "Aku tidak bersalah. Dia bukan anakku, Al."
"Mas, kamu lupa, ini anak kamu. Setelah kita bertemu di pesta, kamu merayuku. Kamu mendatangiku dan mengulang percintaan kita. Kamu bilang istrimu cacat, dan kamu merindukan sentuhanku. Apa kamu lupa, Mas? Ini anak kamu," kata Melinda berusaha melepaskan pelukan Rafael di tubuh Alisha.
"Bohong Al. Aku tidak pernah menemuinya. Aku bahkan tidak pernah melakukan itu sama dia. Itu bukan anakku."
"Alisha, kami bersama sudah sangat lama, kamu tahu kenapa suami kamu temperamental? Itu karena dia sangat mencintaiku."
Rafael menampar Melinda dengan keras. "Aku tidak menyangka, kamu berubah menjadi wanita pembohong. Ternyata, kamu benar-benar ular berbisa, Melinda."
Kopinya banyakin dong, update tengah malem nih begadang 🤣