
Satu jam lebih mengudara, Alisha benar-benar tidak bisa lagi menahan rasa sakitnya. Padahal bandara Singapura sudah dekat, dan diperkirakan setengah jam lagi mereka akan sampai. Namun, rasa sakitnya sudah tidak bisa ditahan lagi.
“El, bagaimana ini?” Mama Syana semakin panik karena Alisha sudah banyak mengeluarkan air ketuban. “Itu kayaknya kepala, El.” Mama Syana semakin panik setelah melihat sesuatu yang mirip dengan kepala bayi.
“Tuan, kami sudah menghubungi pihak rumah sakit yang akan membantu persalinan Nyonya.” kata Felix yang baru saja menelepon pihak rumah sakit dengan teknologi jaringan nirkabel yang menggunakan gelombang radio atau yang kita kenal dengan istilah wifi.
Alisha sudah tidak bisa diajak bicara lagi. Dia merasakan sakit yang teramat sangat hingga membuatnya hanya bisa duduk dengan merenggangkan paha, sedangkan tangganya menggenggam erat tangan sang suami yang tak kalah paniknya.
“Ya sudah cepetan!” Rafael merebut ponsel Felix dan akhirnya mendengarkan semua instruksi yang dokter berikan.
Para tenaga medis itu sudah memastikan bahwa kondisi Alisha sangat siap untuk melahirkan darurat dan mereka akan menjemput ke bandara.
Tidak pernah terlintas dalam pikiran Alisha jika sekarang dia harus melahirkan di dalam pesawat pribadi yang disewa suaminya.
Dengan instruksi dari dokter dan ketenangan Mama Syana dibantu pengasuh Shaka dan pramugari, Alisha mau tidak mau harus melahirkan saat ini juga.
“Al, kamu pasti bisa.” Rafael memberi semangat saat Alisha berusaha mendorong kuat sesuai instruksi dokter.
Pengalaman melahirkan Shaka yang baru terjadi beberapa tahun lalu membuat Alisha jauh lebih siap meski banyak kekhawatiran dengan kondisi mereka yang harus melahirkan di pesawat.
Keringat dingin membasahi wajah Alisha meski ruangan di jet pribadi yang mewah itu dilengkapi dengan pendingin udara. Dalam sekali dorongan kuat, Alisha akhirnya melahirkan seorang bayi laki-laki tepat saat pilot menginstruksi mereka telah sampai di wilayah Singapura.
“Ya ampun. Laki-laki, Al. Mirip banget sama kamu,” kata Mama Syana dengan rasa haru yang luar biasa. Meski tangan Mama Syana sangat gemetaran karena baru pertama kali menolong persalinan, tapi Mama Syana tahu dia harus memotong tali pusat bayi itu. “Ini bagaimana motongnya?”
Alisha masih merasakan kesakitan karena masih ada bayi lain di perutnya.
“Mas, aku mau lihat!” pinta Alisha sambil menahan rasa sakitnya.
Rafael meletakkan bayi mungil itu dalam dekapan Alisha, dan tidak lama wanita itu merasakan kontraksi lagi.
“Ma, yang kedua kayaknya sudah mau keluar,” kata Alisha sambil menahan rasa sakitnya.
Rafael langsung menyerahkan bayinya pada pengasuh Shaka yang lebih berpengalaman mengurus bayi baru lahir.
“Dok, ini bagaimana, Dok?” Rafael kembali berbicara dengan dokter kandungan Alisha.
Lalu, proses kelahiran bayi kedua pun dimulai. Ternyata, prosesnya tidak selama yang sebelumnya. Dalam jeda waktu lima menit setelah bayi pertama, bayi kedua Alisha pun lahir.
“Perempuan, Al, El.” Mama Syana bersorak bahagia sampai lupa kalau tali yang menghubungkan bayi dengan ibunya harus segera dipotong.
“Al, kita punya anak perempuan, Al.” Rafael menciumi wajah sang istri dengan haru. Dia sangat bahagia karena kini anaknya sudah lengkap, Shaka dan kedua adik kembarnya telah melengkapi hidup Rafael dan Alisha pastinya.
Alisha berhasil melahirkan kedua bayinya dengan selamat dalam keadaan darurat di pesawat, tepat saat mereka sudah memasuki kawasan bandara Singapura. Para tenaga medis dari rumah sakit terbaik itu sudah bersiap menyambut pendaratan mereka.
“Besok-besok jangan lahiran di luar negeri lagi ya, ini benar-benar menegangkan Al.” Rafael berceloteh sambil menatap wajah Alisha dengan perasaan yang sulit diungkapkan, bahagia, haru dan syukur bercampur jadi satu.
Alisha yang lemas hanya bisa menatap suaminya dengan sebal. “Memangnya siapa yang mau melahirkan lagi, Mas?” tanya Alisha sewot.
Maaf ya, kalau gak masuk logika, ini cuma halunya othor.. seru-seruan aja. wkkk... kali aja ada yang mau usul nama si kembar boleh banget kok 😂