
Alisha merayu suaminya agar mau menginap di rumah mertuanya. Ya, meski terpaksa, tapi akhirnya Rafael pun setuju.
Dua wanita itu sibuk menggosipkan sesuatu hingga akhirnya Rafael harus rela menahan naga saktinya yang sudah ingin dimanja-manja.
Arya datang bersama Alfaro dan terkejut melihat ada Rafael yang kebetulan menginap.
"Loh, El, kalian nginap di sini?" tanya Alfaro.
"Tumben," sahut Arya.
Dua laki-laki itu ikut duduk di sofa menemani Rafael yang sudah cemberut. Wajah lelah terpancar dari wajah Alfaro dan Arya.
"Itu, anak perempuan Mama tiba-tiba baper. Terus ngajak menginap. Mereka asik gosip tuh," jawab Rafael sambil menunjuk dua wanita yang sepertinya belum menyadari kepulangan Alfaro dan Arya. "Papa dari Singapura?" tanya Rafael mencoba menebak. Pasalnya, papa dan kakaknya bisa datang bersamaan padahal Alfaro bekerja di kantor pusat mereka di Singapura.
"Ya, Anna sama Al ada proyek baru," jawab Arya.
Rafael memicingkan mata, menatap kakaknya curiga. "Proyek baru apa nih?" tanyanya penasaran.
"Proyek mendapatkan hatinya Anna, El. Dia susah banget move on dari kamu," jawab Alfaro.
"Siapa yang susah move on?" tanya Alisha yang tiba-tiba datang membawa teh hangat di nampan.
Alfaro jadi salah tingkah, takut salah bicara dan nantinya malah membuat adiknya ribut dengan istrinya.
"I-itu."
"Anna, kayaknya lagi pedekate sama Kak Al," sahut Rafael. Dia tahu istrinya tidak mungkin marah meskipun mereka membahas Anna.
"Oh, Kak Al sudah pacaran sama Anna? Baguslah, daripada Anna jadi pelakor, lebih baik memang dia sama Kak Al," kata Alisha. Dia duduk di samping Rafael yang langsung merangkul pinggangnya.
"Belum Sayang, masih pedekate. Tapi, karena aku lebih ganteng dari Kak Al, jadi dia susah move on. Kegantengan Kak Al tidak bisa mengalahkan kegantengan suamimu ini," balas Rafael percaya diri.
Alfaro langsung mencibir, "Ganteng dari mananya? Kamu itu lahir terakhir, jadi dapat sisanya aku."
"Ma, Rafa sekarang sudah bisa diajak ngobrol ya. Kalau dulu mana mau dia bercanda begitu, rumah kita rasanya jadi lebih hidup." Arya meraih kepala Syana agar bersandar di bahunya.
"Dia 'kan bucin, Pa. Budak cinta. Alisha, kamu keren bisa mengubah Rafa yang dulunya seperti es balok, sekarang seperti jeli yang terkena sinar matahari." Alfaro mengangkat dua jempol untuk adik iparnya.
"Iya ya, sejak kapan kamu berubah, Mas. Kayaknya kamu dulu galak banget?" tanya Alisha.
"Sejak kenal kiwi," jawab Rafael sambil berbisik.
Wajah Alisha berubag tegang saat suaminya mengatakan hal yang berbau ranjang itu.
"Ma, Pa. Aku sama Alisha ke kamar dulu ya, biar Mama sama Papa cepet dapat cucu. Kak Al, doakan kami ya," kata Rafael lalu menggandeng tangan Alisha dan mengajaknya ke kamar.
"Hem, iya deh. Yang udah punya istri. Aku juga mau nelepon calon istri," balas Alfaro yang kemudian berpamitan pada kedua orang tuanya.
"Ya, Rafael sudah sibuk sama istrinya, Alfaro sibuk sama calonnya yang belum pasti. Kita juga harus sibuk, Ma. Yuk ke kamar!"
***
***
Alfaro baru selesai mandi dan mencari ponselnya untuk menelpon Anna, tapi secara tidak terduga gadis itu menghubunginya lebih dulu.
"Hallo, Ann."
"Kak, Al. Tolongin aku. Aku tidak mau dijodohkan," kata Anna yang terdengar panik.
"Dijodohkan? Sama siapa?" Alfaro juga ikut panik. Dia tidak mau kehilangan kesempatan untuk memiliki Anna dengan begitu saja.
"Papa aku mau menjodohkan aku sama seseorang dari Dubai, Kak. Aku tidak mau. Please, tolong aku!"
Coba siapa yang tertarik sama cerita Anna dan Alfaro, kalau banyak, nanti aku selipin sambil nunggu Alisha hamil 🤭🤭🤭